kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 15 Pebruari 2006

 Nusatenggara


Larangan
Rayakan Valentine Dilanggar 

LARANGAN merayakan valentine sepertinya sulit untuk bisa ditaati karena terkesan terlambat. Valentine sudah sangat melekat di tengah masyarakat terutama kalangan remaja meskipun budaya ini diadopsi dari barat. Demikian diantaranya opini yang mengemuka dalam Warung Global dengan topik ''Larangan Merayakan Valentine'' yang disiarkan Radio Global FM Lombok 96,7, Selasa (14/20 kemarin

Budi Otong di Ampenan melihat larangan untuk merayakan valentine sulit untuk ditaati. Pasalnya, perayaan valentine sudah sangat melekat di masyarakat, terutama kaum muda. Ia mengharapkan tiap individu untuk menyadari kalau kasih sayang bukan hanya di hari valentine tetapi sepanjang masa.

Sepertinya untuk para remaja sulit untuk memahami kecuali sudah ditanamkan sejak dini. Sedangkan Lifia juga mengatakan susah untuk melarang remaja agar tidak merayakan valentine. Apalagi sekarang sudah memasuki era globalisasi tentu harus mengikuti perkembangan zaman termasuk merebaknya budaya valentine.

Di hotel-hotel maupun tempat lainnya sudah memepersiapkan segala sesuatunya untuk merayakannya. Terjemahan valentine adalah kasih sayang sehingga tidak ada salahnya untuk dirayakan bukan hanya buat pacar melainkan juga untuk keluarga dan fakir miskin.

Nizar di Kediri berpendapat valentine merupakan budaya barat yang tidak dimiliki di negeri ini. Larangan terhadap perayaan valentine sebenarnya sangat bagus sebab tidak semua budaya barat harus diadopsi. Terkait hotel-hotel yang memeanfaatkan valentine dengan mengadakan event-event menurutnya hanya sekedar untuk mencari keuntungan dari segi bisnis. Meskipun ada sisi positifnya namun jika persentasenya lebih kecil daripada negatifnya, sebaiknya hal ini tidak perlu dipertahankan.

Piong di Kekalik mengatakan, perayaan valentine boleh saja asalkan dengan cara positif dalam artian kasih sayang secara menyeluruh bukan hanya antar lawan jenis. Ia sangat menyayangkan larangan yang dikeluarkan oleh Wali Kota Mataram H. Moh. Ruslan mengingat masih banyak hal yang perlu dilarang. Sedangkan Lalan malah setuju dengan larangan Wali Kota sebab untuk di sekolah tidak tercantum dikurikulum. Jika dikatakan sudah tradisi pada dasarnya semua bisa dijadikan tradisi.

Alka di Babakan menyebutkan, larangan Wali Kota untuk merayakan valentine di sekolah bisa digunakan sebagai warning bagi generasi muda. Ia mengatakan sebagian besar remaja kebablasan dalam merayakan valentine. Terkadang remaja menurutnya masih terbawa emosi dan kurang paham mana budaya yang bisa diadopsi. Sementara Bongoh di Loteng menilai selaku penanggung jawab wilayah kota sangat tepat jika Wli Kota Mataram melarang perayaan valentine di sekolah.

Apalagi remaja cenderung mengadopsi budaya barat yang kurang baik bukan mengadopsi otak orang barat yang jenius. Maman meyarankan meskipun ada larangan merayakan valentine, namun remaja bisa mencari alternatif lain untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. (ari/nti)

Klik di Sini 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)