Larangan
Rayakan Valentine
Dilanggar
LARANGAN merayakan valentine
sepertinya
sulit
untuk bisa
ditaati
karena terkesan
terlambat.
Valentine sudah
sangat
melekat di
tengah
masyarakat terutama
kalangan
remaja
meskipun budaya
ini
diadopsi dari
barat.
Demikian
diantaranya
opini yang
mengemuka
dalam
Warung Global dengan
topik ''Larangan
Merayakan Valentine'' yang
disiarkan Radio Global FM
Lombok 96,7,
Selasa (14/20
kemarin.
Budi
Otong
di Ampenan
melihat
larangan untuk
merayakan valentine
sulit
untuk ditaati.
Pasalnya,
perayaan valentine
sudah
sangat melekat
di
masyarakat, terutama
kaum
muda.
Ia
mengharapkan
tiap
individu untuk
menyadari
kalau
kasih sayang
bukan
hanya di
hari valentine
tetapi
sepanjang masa.
Sepertinya
untuk
para remaja
sulit
untuk memahami
kecuali
sudah ditanamkan
sejak
dini.
Sedangkan
Lifia
juga mengatakan
susah
untuk
melarang remaja agar
tidak
merayakan valentine.
Apalagi
sekarang
sudah
memasuki era globalisasi
tentu
harus mengikuti
perkembangan
zaman
termasuk merebaknya
budaya valentine.
Di
hotel-hotel maupun
tempat
lainnya sudah
memepersiapkan
segala
sesuatunya untuk
merayakannya.
Terjemahan
valentine adalah
kasih
sayang sehingga
tidak
ada salahnya
untuk
dirayakan bukan
hanya
buat pacar
melainkan
juga
untuk keluarga
dan fakir
miskin.
Nizar
di
Kediri berpendapat
valentine merupakan
budaya
barat yang tidak
dimiliki
di
negeri ini.
Larangan
terhadap
perayaan valentine
sebenarnya
sangat
bagus sebab
tidak
semua budaya
barat
harus diadopsi.
Terkait
hotel-hotel yang memeanfaatkan
valentine dengan
mengadakan event-event
menurutnya
hanya
sekedar untuk
mencari
keuntungan dari
segi
bisnis.
Meskipun
ada
sisi positifnya
namun
jika persentasenya
lebih
kecil daripada
negatifnya,
sebaiknya
hal ini
tidak
perlu dipertahankan.
Piong
di
Kekalik mengatakan,
perayaan valentine
boleh
saja asalkan
dengan
cara
positif
dalam artian
kasih
sayang secara
menyeluruh
bukan
hanya antar
lawan
jenis.
Ia sangat
menyayangkan
larangan yang
dikeluarkan
oleh
Wali Kota Mataram H.
Moh.
Ruslan
mengingat
masih
banyak hal yang
perlu
dilarang.
Sedangkan
Lalan
malah setuju
dengan
larangan Wali Kota
sebab
untuk di
sekolah
tidak tercantum
dikurikulum.
Jika
dikatakan
sudah
tradisi pada
dasarnya
semua
bisa dijadikan
tradisi.
Alka
di
Babakan menyebutkan,
larangan
Wali Kota
untuk
merayakan valentine di
sekolah
bisa digunakan
sebagai warning
bagi
generasi muda.
Ia
mengatakan
sebagian
besar
remaja kebablasan
dalam
merayakan valentine.
Terkadang
remaja
menurutnya masih
terbawa
emosi dan
kurang
paham mana
budaya yang
bisa
diadopsi. Sementara
Bongoh
di Loteng
menilai
selaku penanggung
jawab
wilayah
kota
sangat
tepat jika
Wli Kota
Mataram
melarang perayaan
valentine di
sekolah.
Apalagi
remaja
cenderung mengadopsi
budaya
barat yang kurang
baik
bukan mengadopsi
otak
orang barat yang
jenius.
Maman
meyarankan meskipun
ada
larangan merayakan
valentine, namun
remaja
bisa mencari
alternatif lain
untuk
mengungkapkan rasa
kasih
sayang. (ari/nti)
Klik di
Sini