kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 6 Desember 2006

 Bias Bali


''Aci Pengenteg Jagat'' di Pura Gelap
 

Di Pura Besakih ada banyak upacara yadnya yang diselenggarakan di setiap kompleks Pura Besakih. Salah satu upacara yadnya itu ada disebut Aci Nyatur yang diselenggarakan di empat Pura Catur Dala. Salah satu upacara Aci Nyatur itu ada disebut Aci Pangenteg Jagat. Aci ini diselenggarakan di Pura Gelap setiap Purnama Sasih Karo sekitar bulan Agustus. Seperti apakah bentuk dan makna upacara itu?

=========================================================== 

Istilah aci pengenteg jagat ini berasal dari bahasa Bali. Kata ''aci'' bersinonim dengan upacara keagamaan Hindu khas Bali. Kata ''pengenteg'' berasal dari kata ''enteg'' yang artinya juga ''ajeg'' atau stabil. Dari kata ''enteg'' ini dalam bentuk aktif menjadi ''pengenteg'' yang artinya menstabilkan. Sedangkan kata ''jagat'' adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan isi bumi ini. Ciptaan Tuhan yang paling sentral adalah manusia. Dalam pengertian ini manusialah sebagai salah satu unsur jagat yang paling menentukan stabil atau tidaknya keadaan jagat ini. 

Dari arti Aci Pangenteg Jagat ini terkandung suatu usaha umat manusia sebagai makhluk hidup yang beragama untuk mengusahakan agar jagat ini senantiasa stabil. Menyelenggarakan aci atau upacara yadnya salah satu bentuk usaha untuk membuat jagat ini stabil. Kata ''upacara'' dalam bahasa Sansekerta artinya ''mendekat''. Dengan upacara yadnya umat Hindu mendekatkan dirinya pada Tuhan.  

Mendekatkan diri pada Tuhan itu diawali dengan mendekatkan diri pada alam lingkungan dengan asih dan kepada sesama manusia dengan punia. Karena ini bentuk aci bagi umat Hindu di Bali berupa banten. Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti melambangkan kemahakuasaan Tuhan, lambang diri manusia dan lambang alam.  

Untuk mencapai kehidupan jagat yang stabil harus ada rasa dekat manusia dengan Tuhan berdasarkan yadnya kepada sesama manusia berdasarkan punia dan kepada alam lingkungan berdasarkan asih. Agar jagat ini stabil Tuhan telah menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukum ciptaan Tuhan untuk menata dinamika alam. Sedangkan Dharma untuk menata dinamika kehidupan umat manusia.  

Kalau alam berdinamika menurut Rta maka dari dinamika alam itu akan mendatangkan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian alam dapat melakukan swadharmanya kepada makhluk lainnya ciptaan Tuhan. Tetapi kalau manusia tidak menaati dharmanya menjaga stabilitas Rta dalam prilakunya maka manusia pun tidak akan mendapatkan manfaat dari alam itu sendiri.  

Stabilitas jagat akan terwujud apabila Rta dan Dharma benar-benar menjadi landasan dinamika alam dan dinamika umat manusia di bumi ini. Agar Rta dan Dharma benar-benar kuat sebagai dasar dinamika alam dan dinamika prilaku umat manusia maka manusialah sebagai unsur sentral dan unsur yang paling berkepentingan banyak berbuat.  

Nampaknya hal inilah yang menjadi paradigma leluhur umat Hindu di Bali pada masa lampau, sehingga ada upacara yadnya yang disebut Aci Pangenteg Jagat di Pura Gelap Besakih. Penyelenggaraan upacara ini setiap tahunnya sebagai suatu prosesi untuk terus-menerus mengingatkan pada umat Hindu di Bali agar senantiasa menjaga tetap stabilnya jagat Bali ini pada khususnya dan bumi ini pada umumnya.  

Penyelenggara Aci Pengenteg Jagat ini tentunya sebagai pendekatan spiritual lewat media ritual keagamaan pada tahap awal. Aci ini untuk mengingatkan akan idealisme dan konsep usaha membangun stabilnya jagat. Karena itu Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap setiap Sasih Karo itu hendaknya diposisikan sebagai tonggak untuk mengingatkan umat Hindu terutama di Bali agar senantiasa menjaga stabilitas alam, stabilitas kehidupan sosial dengan diawali dari menjaga stabilitas diri sendiri.  

Dalam Lontar Purana Bali dinyatakan adanya enam hal yang wajib dijaga stabilitas dinamikanya sehingga dapat berfungsi dengan sebaik-baik, agar jagat Bali menjadi enteng, ajeg atau stabil. Enam hal itu disebut Sad Kertih. Atma Kertih menjaga stabilitas eksistensi Atman sebagai bagian dari Brahman dalam diri setiap manusia. Samudra, Wana dan Danu Kerti.  

Tiga alam ini tidak boleh diabaikan dalam menjaga stabilitas eksistensinya. Karena dalam Samudra, Wana dan Danu terdapat dua dari tiga Ratna Permata Bumi yaitu air dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Canakya Nitisastra menyatakan orang bijaksana tidak akan menganggap emas, perak, berlian dan batu mulia itu sebagai Ratna Permata Bumi. Orang bijak akan menganggap hanya adanya tiga Ratna Permata Bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Dua dari tiga Ratna Permata Bumi itu ada dalam tiga sumber alam tersebut.  

Karena itu, tiga sumber alam tersebut harus benar-benar dijaga stabilitas dinamika eksistensinya. Kalau tiga Ratna Permata Bumi itu tidak berfungsi dengan baik di Bali maka keadaan jagat Bali akan tidak enteg atau ajeg. Samudra, Wana dan Danu Kerti itu sebagai upaya untuk Ngentegang unsur alam dari jagat Bali. Sedangkan Jagat Kerti, Jana Kerti untuk Ngentegang unsur masyarakat dan manusia dari jagat Bali.  

Ngentegang unsur alam dan manusia Bali dari sudut pandang spiritual Hindu. Inilah Atma Kerti. Dengan kata lain tegaknya kesucian Atman dalam diri manusia itu diwujudkan dengan menjaga stabilitas dinamika Samudra, Wana, Danu, Jagat dan Jana Kerthi tersebut. Kesucian Atman itulah yang memberikan sinar suci pada pelestarian keenam unsur Sad Kerti tersebut.  

Atman sebagai jiwa Bhuwana Alit selalu memancarkan kesucian. Tetapi pancaran kesucian itu tidak selalu dapat menunjukkan perilaku mulia kalau pancaran kesucian Atman itu ditutupi oleh keruhnya pikiran karena dikuasai oleh hawa nafsu yang berasal dari indria. Karena itu kesempurnaan indria hendaknya selalu berada di bawah kendali kesempurnaan pikiran. Pikiran yang kuat berada di bawah kendali kesadaran budi.  

Kondisi diri yang demikian itulah akan menjadi media yang mampu mewujudkan kesucian Atman dalam perilaku sehari-hari. Kondisi Bhuwana Alit yang demikian itulah akan mampu menjaga ''entegnya'' Rta dan Dharma sebagai dasar mengendalikan dinamika alam dan manusia. Kalau dinamika alam mengikuti Rta dan dinamika manusia mengikuti Dharma maka jagat pun akan menjadi enteg atau stabil.  

Demikianlah upacara Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap sebagai suatu momentum untuk mengingatkan umat Hindu di Bali agar selalu menjaga stabilnya Rta dan Dharma agar kehidupan di bumi ini terselenggara dengan sebaik-baiknya. * wiana

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)