''Aci Pengenteg Jagat'' di Pura Gelap
Di
Pura Besakih ada banyak upacara yadnya yang
diselenggarakan di setiap kompleks Pura Besakih. Salah
satu upacara yadnya itu ada disebut Aci Nyatur yang
diselenggarakan di empat Pura Catur Dala. Salah satu
upacara Aci Nyatur itu ada disebut Aci Pangenteg Jagat.
Aci ini diselenggarakan di Pura Gelap setiap Purnama
Sasih Karo sekitar bulan Agustus. Seperti apakah bentuk
dan makna upacara itu?
===========================================================
Istilah aci pengenteg jagat ini berasal dari bahasa
Bali. Kata ''aci'' bersinonim dengan upacara keagamaan
Hindu khas Bali. Kata ''pengenteg'' berasal dari kata ''enteg''
yang artinya juga ''ajeg'' atau stabil. Dari kata ''enteg''
ini dalam bentuk aktif menjadi ''pengenteg'' yang
artinya menstabilkan. Sedangkan kata ''jagat'' adalah
segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan isi bumi ini.
Ciptaan Tuhan yang paling sentral adalah manusia. Dalam
pengertian ini manusialah sebagai salah satu unsur jagat
yang paling menentukan stabil atau tidaknya keadaan
jagat ini.
Dari arti Aci Pangenteg Jagat ini terkandung suatu usaha
umat manusia sebagai makhluk hidup yang beragama untuk
mengusahakan agar jagat ini senantiasa stabil.
Menyelenggarakan aci atau upacara yadnya salah satu
bentuk usaha untuk membuat jagat ini stabil. Kata ''upacara''
dalam bahasa Sansekerta artinya ''mendekat''. Dengan
upacara yadnya umat Hindu mendekatkan dirinya pada Tuhan.
Mendekatkan diri pada Tuhan itu diawali dengan
mendekatkan diri pada alam lingkungan dengan asih dan
kepada sesama manusia dengan punia. Karena ini bentuk
aci bagi umat Hindu di Bali berupa banten. Banten
menurut Lontar Yadnya Prakerti melambangkan
kemahakuasaan Tuhan, lambang diri manusia dan lambang
alam.
Untuk mencapai kehidupan jagat yang stabil harus ada
rasa dekat manusia dengan Tuhan berdasarkan yadnya
kepada sesama manusia berdasarkan punia dan kepada alam
lingkungan berdasarkan asih. Agar jagat ini stabil Tuhan
telah menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukum
ciptaan Tuhan untuk menata dinamika alam. Sedangkan
Dharma untuk menata dinamika kehidupan umat manusia.
Kalau alam berdinamika menurut Rta maka dari dinamika
alam itu akan mendatangkan berbagai manfaat bagi
kehidupan manusia. Dengan demikian alam dapat melakukan
swadharmanya kepada makhluk lainnya ciptaan Tuhan.
Tetapi kalau manusia tidak menaati dharmanya menjaga
stabilitas Rta dalam prilakunya maka manusia pun tidak
akan mendapatkan manfaat dari alam itu sendiri.
Stabilitas jagat akan terwujud apabila Rta dan Dharma
benar-benar menjadi landasan dinamika alam dan dinamika
umat manusia di bumi ini. Agar Rta dan Dharma
benar-benar kuat sebagai dasar dinamika alam dan
dinamika prilaku umat manusia maka manusialah sebagai
unsur sentral dan unsur yang paling berkepentingan
banyak berbuat.
Nampaknya hal inilah yang menjadi paradigma leluhur umat
Hindu di Bali pada masa lampau, sehingga ada upacara
yadnya yang disebut Aci Pangenteg Jagat di Pura Gelap
Besakih. Penyelenggaraan upacara ini setiap tahunnya
sebagai suatu prosesi untuk terus-menerus mengingatkan
pada umat Hindu di Bali agar senantiasa menjaga tetap
stabilnya jagat Bali ini pada khususnya dan bumi ini
pada umumnya.
Penyelenggara Aci Pengenteg Jagat ini tentunya sebagai
pendekatan spiritual lewat media ritual keagamaan pada
tahap awal. Aci ini untuk mengingatkan akan idealisme
dan konsep usaha membangun stabilnya jagat. Karena itu
Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap setiap Sasih Karo itu
hendaknya diposisikan sebagai tonggak untuk mengingatkan
umat Hindu terutama di Bali agar senantiasa menjaga
stabilitas alam, stabilitas kehidupan sosial dengan
diawali dari menjaga stabilitas diri sendiri.
Dalam Lontar Purana Bali dinyatakan adanya enam hal yang
wajib dijaga stabilitas dinamikanya sehingga dapat
berfungsi dengan sebaik-baik, agar jagat Bali menjadi
enteng, ajeg atau stabil. Enam hal itu disebut Sad
Kertih. Atma Kertih menjaga stabilitas eksistensi Atman
sebagai bagian dari Brahman dalam diri setiap manusia.
Samudra, Wana dan Danu Kerti.
Tiga alam ini tidak boleh diabaikan dalam menjaga
stabilitas eksistensinya. Karena dalam Samudra, Wana dan
Danu terdapat dua dari tiga Ratna Permata Bumi yaitu air
dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan.
Canakya Nitisastra menyatakan orang bijaksana tidak akan
menganggap emas, perak, berlian dan batu mulia itu
sebagai Ratna Permata Bumi. Orang bijak akan menganggap
hanya adanya tiga Ratna Permata Bumi yaitu air,
tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Dua dari tiga Ratna
Permata Bumi itu ada dalam tiga sumber alam tersebut.
Karena itu, tiga sumber alam tersebut harus benar-benar
dijaga stabilitas dinamika eksistensinya. Kalau tiga
Ratna Permata Bumi itu tidak berfungsi dengan baik di
Bali maka keadaan jagat Bali akan tidak enteg atau ajeg.
Samudra, Wana dan Danu Kerti itu sebagai upaya untuk
Ngentegang unsur alam dari jagat Bali. Sedangkan Jagat
Kerti, Jana Kerti untuk Ngentegang unsur masyarakat dan
manusia dari jagat Bali.
Ngentegang unsur alam dan manusia Bali dari sudut
pandang spiritual Hindu. Inilah Atma Kerti. Dengan kata
lain tegaknya kesucian Atman dalam diri manusia itu
diwujudkan dengan menjaga stabilitas dinamika Samudra,
Wana, Danu, Jagat dan Jana Kerthi tersebut. Kesucian
Atman itulah yang memberikan sinar suci pada pelestarian
keenam unsur Sad Kerti tersebut.
Atman sebagai jiwa Bhuwana Alit selalu memancarkan
kesucian. Tetapi pancaran kesucian itu tidak selalu
dapat menunjukkan perilaku mulia kalau pancaran kesucian
Atman itu ditutupi oleh keruhnya pikiran karena dikuasai
oleh hawa nafsu yang berasal dari indria. Karena itu
kesempurnaan indria hendaknya selalu berada di bawah
kendali kesempurnaan pikiran. Pikiran yang kuat berada
di bawah kendali kesadaran budi.
Kondisi diri yang demikian itulah akan menjadi media
yang mampu mewujudkan kesucian Atman dalam perilaku
sehari-hari. Kondisi Bhuwana Alit yang demikian itulah
akan mampu menjaga ''entegnya'' Rta dan Dharma sebagai
dasar mengendalikan dinamika alam dan manusia. Kalau
dinamika alam mengikuti Rta dan dinamika manusia
mengikuti Dharma maka jagat pun akan menjadi enteg atau
stabil.
Demikianlah upacara Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap
sebagai suatu momentum untuk mengingatkan umat Hindu di
Bali agar selalu menjaga stabilnya Rta dan Dharma agar
kehidupan di bumi ini terselenggara dengan
sebaik-baiknya. * wiana