DARI WARUNG GLOBAL
Pelanggaran
Serius,Istri
Pejabat
Gunakan APBD
KALAU
diajak
jalan-jalan gratis, apalagi
ke Cina,
tentu
semua mau.
Tetapi
kalau pakai
dana
rakyat
atau APBD tentu
menimbulkan
banyak
pertanyaan negatif.
Inilah
yang rupanya
terjadi
pada pejabat-pejabat
kita yang
sedang
melenggang ke
Cina.
Apalagi
dalam situasi
ekonomi
saat ini
rakyat
untuk makan
saja
susah
dan
juga beban
kewajiban
untuk
membayar pajak
juga
dirasa berat
oleh
rakyat. Kalau
dikatakan
dananya
dari sponsor Cina,
apa
benar?
Kalau
biaya
sendiri tidak
apa-apa,
tetapi
kalau menggunakan
APBD merupakan
pelanggaran
serius.
Demikian
terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
langsung Radio Global 96,5
FM, Senin (18/12)
kemarin
dan dipancarluaskan
Radio Singaraja FM.
Berikut
rangkuman selengkapnya.
-------------------------
Adnyana
di
Pedungan mengatakan
kalau
betul menggunakan
APBD yang tidak
dialokasikan
harus
dipertanggungjawabkan.
Kalau
tidak,
kembali citra
seperti
ini lebih
mencoreng.
Juga
dia
berharap agar masalah
ini
tidak tinggal
berita.
Kalau
untuk
meningkatkan pengetahuan
wanita
maka dia
setuju.
Tetapi
harus
ada kejelasan
biaya yang
diperlukan.
Ngurah
Setiawan
di Mas
Ubud
berpendapat kalau
biaya
sendiri tidak
apa-apa
tapi kalau
menggunakan APBD
merupakan
pelanggaran
serius.
Kalau
ibu-ibu
cemburu atau
takut
bapak-bapaknya dugem
atau
jajan yang sudah
rahasia
umum karena rata-rata
begitu, yang
menjadi
batasan apakah
harus
mengajak istri
atau
tidak harus
melihat
tergantung pada
situasi
masyarakat dalam
hal ini
ekonomi
atau kemakmuran
rakyatnya.
Lengkong
di
Dalung menanggapi,
jika
memang mengajak
istri
bagus kalau
memang
menggunakan biaya
sendiri,
kalau
memang anggaran
itu
masuk di APBD
maka
tidak masalah.
Namun
kalau tidak
masuk
dalam anggaran APBD
maka
harus menggunakan
dana
pribadi.
Namanya
melali
maka wajar
ingin
mengajak istri agar
suaminya
tidak
menyeleweng.
Karena
ada
indikasi saat
kunjungan
menyeleweng,
namanya
manusia cunguh
marep
tuwun dan
kalau
kita lihat
dewan
juga sering
keluar
daerah maka
wajar.
Kunjungan
kerja
seharusnya ada
manfaatnya
tetapi
kalau kita
lihat
hanya melali
tok alias
tidak
ada hasilnya
hanya
menghabiskan uang
rakyat
saja.
Dogler
di
Gianyar menduga
kemungkinan
situasinya yang
kurang pas,
dalam
keadaan beras
naik
dan banyak
saudara-saudara
kita yang
bergulat
dengan
kemiskinan.
Dulu
pada
pembahasan tahun
anggaran 2006 DPRD
Propinsi Bali
secara
tegas mengatakan
bahwa
tidak ada
perjalanan
ke luar
negeri.
Kalau
di APBD
tidak ada
perjalanan
keluar
negeri Bapak
Gubernur
mengatakan
bahwa
biayanya dari
Cina
semua.
Timbul
pertanyaan,
kenapa
tidak sekalian
masyarakat
Bali
diajak
ke Cina,
kenapa
pejabat-pejabatnya saja?
Istri-istri
pejabat
diajak karena
ini
perjalannya ke
luar
negeri maka
aji
mumpung.
Agung
Purnawijaya
di
Gianyar sebagai
masyarakat
tmengaku
idak
keberatan, yang peting
datang
dari Cina
berguna
bagi masyarakat Bali.
Mereka
sudah telanjur
berangkat,
apa
sih
taringnya DPR?
Apakah
berani
mencopot jabatannya?
Terasa
tidak
mungkin.
Sumawa
di
Bangli bertanya
siapa yang
memberi
rekomendasi bahwa
istri
pejabat ikut
berangkat
ke Cina?
Kalau
memang rekomendasinya
dari
Gubernur dan
menggunakan
dana
APBD, ini yang
perlu
dipertanyakan dan
harus
diusut tuntas.
Karena
kalau saja APBD Bali,
Kabupaten
da Kota
digunakan sesuai
dengan
aturan maka
tidak
ada pengacara yang
mondar-mandir
di
pengadilan, akan
tidak
ada masyarakat yang
mengeluh
tentang
pendidikan kalau APBD
tersebut
dikelola
secara
efisien, ekonomis,
efektif,
transparan,
dan
benar-benar bertanggung
jawab
terhadap asas
keadilan
buat
masyarakat.
Namun
dalam
tatanan DPR, boleh
saja DPR
berteriak
di media
tapi
jangan hanya
untuk
popularitas tetapi
kekritisan DPR
harus
dapat dinikmati
masyarakat.
Karena
selama
ini kekritisan DPR
hanya
sekadar lewat
begitu
saja, belum
dirasakan
masyarakat
secara
signifikan.
Ngurah
Arya di
Kuta
memaparkan, pajak
habis
untuk jalan-jalan
pejabat
dan juga
menaikkan
gaji.
Pajak
angukutan
kendaraan
naik
semua padahal
masyarakat
setengah
mati
untuk membayar.
Diharapkan
agar ada
evaluasi
dari
pimpinan dewan,
apakah
penting atau
tidak
ke Cina.
Kalau
dikatakan
biaya
datang dari
Cina
maka dirasa
tidak
mungkin.
Pertanyaannya,
kalau
ada kunjungan
ke
Libanon atau
Irak
apakah mau
mengajak
istrinya?
Dia
mengajak, bila
perlu
jangan
bayar pajak.
Kompyang
Lombok
di Bangli
melihat
kontrol DPR sudah
bagus,
kalau anggota
dewan
berangkat maka
eksekutif yang
bicara.
Mengenai
keberangkatan
ke Cina,
dia
dapat bertanya
kepada
salah satu yang
berangkat
ternyata
istrinya
tidak
berangkat.
Karena
keberangkatan
itu
urusan pejabat
atau
eksekutif.
Juga
dia
bertanya kepada
ibunya
dujelaskan juga
bahwa
itu urusan
pejabat
tetapi kalau
urusan
keluarga dan dharma
wanita
barulah istrinya
ikut.
Dikatakan
bahwa yang
berangkat
saat
ini bersama
istri, 50%
dari
uang pribadi
dan 50%
dari sponsor Cina.
Saat
ini
mereka ada yang
belum
datang. Menurut
Kompyang,
kalau
jesa-jelas menggunakan
uang
rakyat maka
harus
didemo. *
panca