kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Paing, 26 Nopember 2006 tarukan valas
 

SENI


Tari Wali, Menuju Kesempurnaan Upacara Dewa Yadnya

TARI-TARIAN India, menurut mitologinya, diciptakan oleh Dewa Brahma dan sebagai dewa tarinya adalah Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya yaitu "Siwa Natya Raja". Dalam tarian itu, Dewa Siwa memutar dunia ini dengan gerakan-gerakan mudra-nya yang mempunyai kekuatan gaib. Dengan syarat sikap tangan, tubuh dan kaki itu, maka kekuatan gaib dari dewa-dewa dan alam semesta ini akan ditarik seperti seorang hipnotises menggerakkan objeknya.

Setiap sikap tangan dan gerakan anggota tubuh dan kaki memberikan arti dan mengandung kekuatan, sehingga tarian itu tidak semata-mata mementingkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi juga mendasarkan pada arti simbolik dari berjenis-jenis mudra sehingga mempunyai kekuatan sekala-niskala.

---------------------

 

Di Bali, sikap tangan (mudra) tidak sepenuhnya ditiru dari tarian India, tetapi hanya beberapa saja yang masih bisa dijumpai. Walaupun demikian, ciri khasnya yang bersifat sekala niskala itu tetap bisa dijumpai, kendatipun tidak sepenuhnya lagi dalam bentuk mudra.

Hal ini mungkin disebabkan pengetahuan tentang mudra ini tidak begitu banyak dikenal, jangankan oleh para seniman, para pendeta di Bali saja belakangan ini banyak yang baru mempelajari jenis-jenis mudra. Para sulinggih pun dalam geraknya mengundang dewa-dewa dengan genta sebagai gamelannya, weda stana sebagai nyanyiannya dan mudra (patangan) sebagai tariannya.

Untuk menambah daya tarik agar mempunyai kekuatan sekala-niskala, maka dipergunakan sajen-sajen (banten) sebelum maupun sesudah tari wali itu dilaksanakan. Di samping berbentuk banten, dipergunakan pula doa atau puja-mantra untuk menarik kekuatan gaib yang biasanya diucapkan sebelum penari memulai tarian wali sebagai berikut : "Om hidepku sanghyang murttining luwih, masarira ring aku, aku sanghyang smara murtti, sarwa jagat asih ring kunyan-hunyanku; Om sidhi mandi mantramku."

Demikian pula sebelum pertunjukan dimulai, didahului banten dan tetabuhan (arak berem) dengan maksud supaya jangan diganggu oleh para I Bhuta Kala Giraha dan I Bhuta Kapirangan. Mantranya adalah "Om Sang Kala Edan, iki bhukti sajinira, yan sira wusamukti rowangen hulu manglila-lila mangigel. Om siddhi mandi mantramku."

 

Bagian Upakara

Secara rasional, masyarakat mengakui bahwa tari-tarian itu berasal dari cetusan rasa hati dan meniru gerak-gerak alam, seperti gerak pepohonan yang ditiup angin, gerak burung, binatang dan sebagainya. Tetapi pada masyarakat yang tinggi kebudayaannya, apalagi bersifat religius seperti di Bali, maka gerak tari ini disadur dan dibumbui dengan syarat dan kode-kode tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan dibuatkan mitologi yang sesuai dengan gerak dan tujuan tari tersebut.

Lantas, apa pengertian mendasar tari wali? Tari wali adalah tari-tarian yang pementasannya selalu dihubungkan dengan suatu upakara keagamaan dan merupakan salah satu bagian daripada satu upacara. Kesuciannya terletak umumnya pada hal-hal sbb.;

1. Peralatan yang dipergunakan. Misalnya tari Pendet dengan canangsari, pasepan dan tetabuhan yang dibawa penari. Tari Rejang dengan gelung-nya dan benang penuntun yang dililitkan pada tubuh si penari (khususnya Rejang Renteng) dan Topeng Sidhakarya dengan beras sekarura-nya.

2. Penari atau pelaksananya. Umumnya syarat kesucian penari memegang peranan penting, di samping peralatan yang dibawa atau digunakan. Para penari tarian wali sepatutnya dilaksanakan oleh orang-orang yang sudah mawinten atau disucikan secara ritual. Atau kalau tidak demikian, penari bersangkutan adalah masih seorang gadis ataupun jejaka dalam arti mereka yang belum kawin, atau bisa juga orang-orang tua yang sudah habis masa haidnya.

Walaupun tarian wali ini ciptaan manusia dan kita yang menyucikannya, namun oleh karena sudah merupakan suatu konsensus di masyarakat sebagai suatu tarian keagamaan, maka patutlah kita menghormatinya.

 

Jenis Tari

Berikut jenis tari wali dan kekhususannya.

* Pendet -- Tari Pendet tidak saja terdiri dari para wanita, tetapi juga oleh kaum pria yang ikut menari dengan kekhususan membawa upakara atau alat-alat pesucian, pengeresikan, canangsari, pasepan, tetabuhan dan sebagainya.

Penarinya sedapat mungkin dari daha-taruna yang belum kawin atau wanita yang sudah menopause (berhenti haid) dan mereka yang sudah mawinten. Tujuan dan maknanya agar canangsari maupun pasucian itu memang betul-betul dipersembahkan oleh orang yang sudah suci.

Agama Hindu di Bali pada umumnya mendasarkan pada bhakti marga, artinya mereka ingin mempersembahkan segala sesuatunya itu dengan penuh rasa bakti atau cinta kasih, sebab itu orang yang membawakan banten atau upacara dan binatang yang dikorbankan, hendaknya orang yang sedang disayangi berikut binatang yang sedang disayangi sebagai bukti dari keikhlasan berkorban.

* Rejang -- Dalam Lontar "Usana Bali" disebutkan bahwa rejang itu adalah simbol widyadari atau bidadari yang turun ke dunia menuntun Ida Bhatara pada waktu melelasti. Khusus pada tari Rejang Renteng, ada tanda yang khusus yaitu "manuntun benang" -- prosesinya adalah "jempana linggih Ida Bhatara" dituntun dengan benang yang panjang, diikatkan di pinggang setiap penari rejang.

Jenis-jenis tari Rejang antara lain Rejang Renteng, Rejang Lilit, Rejang Bengkol, Rejang Oyod Padi, Rejang Ngregong, Rejang Alus, Rejang Nyangnyingan, Rejang Luk Penyalin, dan Rejang Glibag Ganjil.

* Baris Gede -- Dalam "Usana Bali" juga disebutkan bahwa para widyadara (bidadari pria) menari menjadi Baris. Dalam upacara ngaben bagi raja-raja zaman dulu, bahkan sampai sekarang, tari Baris Gede biasa digunakan. Hal ini mungkin dihubungkan dengan unsur perang-perangan -- bagi seorang ksatria, tari ini bisa membangkitkan rasa dan sifat kekesatriaan sekaligus sebagai penyucian diri. Karena, swadharma seorang ksatria adalah berperang menegakkan dharma.

* Wayang Lemah -- Kekhususan dari Wayang Lemah adalah menggunakan kelir dari benang, bertiangkan carang dapdap dan uang kepeng (jinah bolong), tanpa menggunakan belencong atau lampu. Benang, uang kepeng dan carang dapdap ini mempunyai arti khusus dalam upacara yang bersifat "nuntun" misalnya menuntun Ida Bhatara waktu tedun ke paselang, melasti, nedunang Ida Bhatara, mapepegat, meras sentana dan sebagainya.

Benang mempunyai simbol atau makna penghubung, sehingga bila orang ingin berhubungan dengan alam niskala dipakailah sarana benang ini. Sedangkan uang kepeng sebagai simbol inti sari pikiran, carang dapdap atau daun dapdap sebagai simbol dari kehidupan. Kayu dapdap disebutkan dalam usada sebagai "taru (kayu) sakti" yaitu kayu yang mempunyai kekuatan hidup yang kuat dan peka untuk menerima getaran kehidupan.

Jadi, pengertian dan makna uang kepeng dan carang dapdap pada wayang lemah adalah sebagai penyambung alam sekala dengan niskala, dimana orang yang sedang melakukan upacara ingin memohon kehadiran Ida Bhatara, Maharsi, dan leluhur untuk dimohon restu dan wara nugraha-nya demi suksesnya upacara yadnya itu sendiri.

* Topeng Siddhakarya -- Topeng Siddhakarya adalah tari topeng yang keluar terakhir dengan menghambur-hamburkan uang kepeng (pis bolong) dan beras kuning sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran. Topeng Siddhakarya dikenal juga sebagai topeng "pengejukan". Maksudnya, ketika topeng ini menari, anak-anak berebutan memungut uang yang ditabur. Topeng ini berpura-pura mau menangkap salah seorang di antaranya, mungkin maksudnya sekadar untuk memberikan keseriusan, sehingga di hati anak-anak ada pergulatan perasaan antara takut dan berani.

 

Untuk Kesempurnaan

Sebagaimana telah disebutkan, tari wali adalah tari-tarian yang dipentaskan berhubungan dengan upacara yadnya khususnya Dewa Yadnya. Sarana atau upakara yang dipergunakan sebagai simbol yang dapat menghubungkan diri dengan Ida Bhatara maupun para leluhur yang telah suci.

Waktu dan tempat pementasannya sudah tentu berkaitan dengan pelaksanaan upacara Dewa Yadnya itu sendiri seperti saat upacara pujawali, karya agung, dengan tempat pementasannya di mana upacara itu berlangsung -- di utama mandala, di catus pata, dan lain sebagainya. Maknanya adalah untuk kelengkapan atau kesempurnaan upacara Dewa Yadnya serta merta sidhakarya-paripurna.

* i wayan lodera

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com