Polisi
Buru
Provokator Bentrokan
di
Loteng
Tiga
Warga
Jadi Tersangka-------------
Praya
(Suara NTB) -
Kapolda
NTB Brigjen.
Pol. Drs.
Wawan
Hendrawan menduga,
beruntunnya
bentrokan
dan
tindakan anarkis
hingga
menelan korban
jiwa
terjadi di
wilayah
Lombok Tengah (Loteng),
ada
dalangnya.
Hasil
pengamatan intelijen,
antara
satu bentrokan
dengan
bentrokan di
tempat lain
di
wilayah Loteng
belakangan
ini,
provokatornya
sama.
''Provokator
ini
sekarang yang sedang
kita
buru,'' tegasnya
ketika
dikonfirmasi Suara
NTB, Jumat (17/11)
kemarin
di sela-sela
melihat
kerja Tim Labforensik
Polda Bali yang
sedang
menyelidikan penyebab
terbakarnya
Makorem 162/WB,
Kamis (16/11)
lalu. ''Sekarang
kita
sedang mencari
bukti-bukti
untuk
memastikan dugaan
tersebut,''
terangnya.
Menurut
jenderal
bintang
satu ini,
pada
awalnya
ia menduga
pemicu
berbagai tindakan
anarkis
di Loteng
karena
minuman keras (miras).
Setelah
miras
diberantas dan
peredarannya
sangat
terbatas, malah
aksi
kekerasan semakin
menjadi-jadi.
Kapolda
menduga,
ada
tujuan dan
kepentingan
tertentu yang
ingin
dicapai provokator
ini.
Secara
rinci
Wawan belum
bisa
merinci tujuan
kelompok
provokator
ini yang
selalu
muncul ketika
terjadi
persoalan di
Loteng.
Untuk
mencegah
munculnya
kembali
tindakan anarkis
serupa,
Kapolda mengimbau
masyarakat
Loteng
meningkatkan kewspadaannya.
''Karena
yang menjadi
korban
adalah masyarakat
setempat.
Ketanggapan
orang
tua juga
perlu
ditingkatkan.
Jangan
karena
persoalan anak
muda,
orang tua
justeru
membuat suasana
menjadi
panas,'' pesan
Danrem 162/WB
Kol.Art.Surpiyatno, SIP
menimpali.
Kapolda
dan
Danrem
juga
mengimbau agar
masyarakat
Loteng
menjaga nama
baik
daerahnya. ''Karena
seringnya
terjadi
bentrokan, memberi
kesan
negatif
bagi
daerah
Loteng,' tegasnya,
seraya
menambahkan, akan
sangat
tidak baik,
jika
masyarakat luar (luar
Loteng
dan NTB) mengenal
Loteng
sebagai daerah
anarkis.
Tiga
Tersangka
Sementara
proses
penyidikan kasus
bentrokan
antarwarga
Dusun
Rembita dan
Penyalu,
Desa
Rembitan, Pujut,
Lombok
Tengah (Loteng)
Kamis (16/11)
lalu,
terus dilakukan
aparat
Kepolisian.
Dari hasil
penyidikan yang
intensif,
tiga
warga Dusun
Penyalu,
Jumat (17/11)
kemarin
ditetapkan sebagai
tersangka.
Mereka
masing-masing,
Hj. JM (35), L. GB (40)
dan L.SK (36).
Ketiganya
diduga
terlibat langsung
dalam
bentrokan yang mengakibatkan
dua
warga Rembitan
tewas.
Hj.
JM sendiri,
diduga
sebagai pemicu
awal
terjadinya bentrokan
berdarah
tersebut.
Sedangkan L. GB
dan SK,
diduga sebagai
pelaku yang
menyebabkan,
Amaq
Nuh dan
Kedi,
tewas.
Kapolres
Loteng
melalui Kasat
Reskrim,
Iptu
Zulkarnaen Harahap
menyebutkan,
ke tiga
tersangka
sudah
diamankan di
Mapolres
Loteng.
Selain
itu,
sebanyak 60 jenis
senjata
tajam yang terjaring
dalam sweeping
Kamis
lalu, disita
polisi. Dari
puluhan
sajam, diantaranya
berupa
parang, tombak,
keris
dan,
gir.
Selain
itu ada
juga
pisau dan
bambu
runcing.
Sementara
itu,
terkait kondisi
terakhir
di
lokasi pasca
bentokan,
Kasat
Reskrim mengakui
kalau
kondisi di
kedua
dusun yang menjadi
objek
wisata itu,
kembali
kondusif .
Meskipun
demikian,
sedikitnya
lima
pleton
polisi terdiri
dari
unsur Brimob
dan
Samapta Polda NTB
dan
Polres Loteng
tetap
disiagakan, untuk
mengantisipasi
hal-hal yang
tidak
diinginkan.
Disamping
penjagaan
oleh
aparat kepolisian,
tambah
Zulkanaen, upaya
pendekatan
secara
persuasif tetap
dilakukan.
Tokoh
masyarakat
dan agama
dari ke
dua
dusun secepatnya
segera
dipanggil dan
dipertemukan.
Rencananya,
pertemuan
antar
toma dan toga
dari
kedua dusun
sedianya
akan
dilakukan,
Kamis (16/11)
malam.
Namun
karena
kondisi belum
memungkinkan,
sehingga
rencana
tersebut untuk
sementara
ditunda.
(049/kir)