Pura
Bukit Dharma
di
Kutri------
Masuknya
Budaya Hindu
ke Bali
Pada
waktu Raja
Udayana
memerintah di Bali
sekitar
abad X Masehi,
masuknya
budaya Hindu
ke Bali
mulai agak
deras
sampai pada
zaman
Majapahit sebagai
puncaknya.
Pura
Bukit Dharma di
Kutri,
Desa Buruan,
Blahbatuh
ini
sebagai salah
satu
buktinya. Pura
Bukit Dharma
hasil
budaya Hindu purbakala
ini
dapat dijadikan
salah
satu sumber
untuk
menelusuri proses
pengaruh Hindu
dari
Jawa ke Bali.
Seperti
apakah sejarah
Pura
Bukit Dharma di
Kutri
itu?
=====================================================
Gunapriya
Dharma Patni yang
roh
sucinya (Dewa
Pitara)
distanakan di
pura
ini berasal
dari
Jawa Timur.
Permaisuri Raja
Udayana
ini sangat
besar
pengaruhnya pada sang
Raja sehingga
namanya
selalu disebutkan
di
depan nama Raja
Udayana.
Pelinggih
utama
pura ini
juga
disebut Gedong
Pajenengan,
tempat
distanakan arca
Durga
Mahisasura Mardini.
Upacara
piodalan di
pura
ini setiap
purnama
sasih Kasa
bersamaan
dengan
pujawali di
Pura
Semeru Agung
di
Lumajang, Jawa
Timur.
Pura
ini
letaknya di
puncak
Bukit Kutri,
Desa
Buruan. Di
areal
bawah pura
ini
terdapat dua
buah
pura lagi.
Pura yang paling
bawah
di pinggir
jalan
menuju
kota
Gianyar
adalah Pura
Puseh
Desa Adat
Buruan.
Di atasnya
Pura
Pedharman. Naik
dari
Pura Padharman
inilah
letak Pura
Bukit Dharma
atau
Pura Durga
Kutri. Yang
menarik
dari keberadaan
pura
ini adalah
distanakannya
permaisuri Raja
sebagai
Dewi Durga.
Sejak
Raja berpermaisurikan
putri
dari Jawa
Timur
ini pengaruh
kebudayaan Hindu
dari
Jawa sangat
kuat
masuk ke Bali.
Tanpa
proses tersebut
mungkin
kebudayaan Hindu di
Bali tidak
semarak
dan kaya
dengan
nilai-nilai kehidupan
yang adiluhung
seperti
sekarang ini.
Fakta
sejarah menyatakan
bahwa
budaya agama Hindu masuk
ke Jawa
dari India
telah
berhasil menjadikan
Jawa
sebagai Jawa yang
ada
nilai plusnya.
Dari Jawa
budaya agama Hindu
masuk
ke Bali menyebabkan
Bali menjadi Bali yang plus.
Agama Hindu telah
berhasil
menjiwai
budaya
setempat. Dengan
demikian agama Hindu
dapat
menghasilkan kebudayaan
Bali yang adiluhung. Hal
itu
dimulai dari
masuknya
bahasa
Jawa Kuno
ke Bali.
Dengan
demikian bahasa
dan
kesusastraan Jawa
Kuno
sangat kuat
pengaruhnya
membentuk
kebudayaan Bali
seperti
sekarang ini.
Ramayana, Mahabharata dan
berbagai
cerita
dan tutur-tutur
dalam
bahasa Jawa
Kuno
masuk dengan
kuat
dan halus
ke Bali.
Derasnya
bahasa
Jawa Kuno
masuk
ke Bali nampaknya
disebabkan
kesusastraan
Jawa
Kuno itu
muatannya
adalah
ajaran agama Hindu. Di
lain pihak
masyarakat Bali
saat
itu sudah
memeluk agama Hindu yang
saat
itu disebut agama
Tirtha
atau agama Siwa
Budha. Agama
Tirtha
tersebut sumber
ajarannya
adalah
kitab suci
Weda
dan kitab-kitab
susastranya.
Seni
budaya Hindu yang berbahasa
Jawa
Kuno demikian
digemari
oleh
masyarakat Bali.
Sampai
saat
ini orang
awam
akan menganggap
kesusastraan
Jawa
Kuno itu
sudah
kesusastraan Bali. Sejak
itulah Bali
mengenal
adanya
seni sastra
dari
Jawa Kuno
seperti
Sekar Alit, Sekar
Madya
dan Sekar
Agung.
Andaikata Raja Udayana
saat
itu bersikap
kaku
tidak membolehkan
budaya
luar masuk Bali,
keadaan Bali
dapat
dibayangkan. Mungkin
orang Bali
tidak
kenal geguritan,
kidung
maupun kekawin.
Geguritan
memang
berbahasa Bali pada
umumnya,
tetapi
tembang-tembang seperti
Semarandhana,
Dhurma,
Sinom, Ginanti,
Megatruh
dll.
itu semuanya
berasal
dari kesusastraan
Jawa
Kuno atau
sering
disebut bahasa
Kawi.
Apalagi kekawin
sepenuhnya
adalah
berbahasa Jawa
Kuno.
Lewat seni
sastra
Jawa Kuno
inilah
menjadi media untuk
menanamkan
ajaran agama Hindu
melalui
seni budaya.
Dengan
seni budaya
itu
umat Hindu di Bali
dapat
menyerap ajaran agama
Hindu secara
halus.
Derasnya
pengaruh Hindu
Jawa ke
Bali sangat
menonjol
sejak
zaman Raja Udayana
memerintah Bali
sampai
zaman Kerajaan
Majapahit
berkuasa
di Jawa
sampai
ke Bali. Keberadaan
Gunapriya Dharma
Patni
itu dinyatakan
dalam
Prasasti Bebetin
sbb:
Aji Anak
Wungsu
nira kalih
Bhatari
lumahing Burwan
Bhatara
lumahing banyu
weka.
Yang dimaksud
Bhatari
Lumahing Burwan
tiada lain
adalah
ibunya Anak
Wungsu
yaitu Gunapriya
Dharma Patni yang
wafat
dan distanakan
roh
sucinya di
Burwan
yaitu di
Bukit
Kutri, Desa
Buruan.
Prasasti ini
berbahasa
Jawa
Kuno diperkirakan
berada
pada abad X
Masehi.
Seandainya Raja saat
itu
tidak berpikir
luas
dan melakukan
proteksi
pada
kebudayaan asli Bali
yang berlaku
pada
saat itu,
mungkin
di Bali kita
tidak
mengenal adanya
Pesantian yang
demikian
marak
sampai pada
saat
ini.
Keberadaan
Arca
Durga Mahisasura
Mardini
ini sangat
erat
kaitannya dengan
cerita-cerita
Purana
dari India. Cerita
ini
memang sangat
populer
di kalangan
umat Hindu
di India
dan di
Bali. Diceritakan
Dewi
Parwati atau
Dewi
Uma berperang
melawan
raksasa. Raksasa
itu
sangatlah sakti
dan
sulit ditaklukkan.
Karena
itulah disebut
Durga.
Artinya sulit
dicapai,
karena
raksasa itu
sampai
bisa bersembunyi
di
dalam tubuh
seekor
lembu atau
Mahisa.
Karena ada
raksasa
atau Asura
di
dalam tubuh
lembu
itu, maka
ia
disebut Mahisasura.
Dewi
Parwati
adalah Saktinya
Dewa
Siwa juga
sangat
sakti. Raksasa yang
sulit
ditaklukkan (Durga)
itu
karena kesaktian
Dewi
Parwati akhirnya
dapat
juga menaklukkan
raksasa
tersebut dengan
pedangnya.
Sejak
dapat ditaklukannya
Asura yang
bersembunyi
di
tubuh Mahisa
atau
lembu itulah
Dewi
Parwati disebut
Dewi
Durga. Kemenangan
Dewi
Durga ini
dirayakan
setiap
hari raya
Dasara
atau Wijaya
Dasami
sebagai hari
raya
Durgha Puja.
Durgha
Puja ini
lebih
menonjol di India
Selatan.
Hari
suci
Wijaya Dasami
umumnya
dirayakan pada
bulan April
dan
Oktober di India.
Hari
raya Wijaya
Dasami
juga merayakan
kemenangan Sri
Rama
melawan Rahwana.
Wijaya
Dasami ini
diperingati
selama
sepuluh hari.
Seperti
Galungan di Bali.
Tiga
hari melakukan
Durga
Puja, tiga
hari
berikutnya memuja
Dewi
Saraswati dan
tiga
harinya lagi
memuja
Laksmi.
Pada
hari
kesepuluh barulah
dirayakan
dengan
perayaan yang meriah.
Pada
hari kesepuluh
ini
dipuja Dewa
Ganesia
dan Dewi
Laksmi.
Ini melambangkan
bahwa
kemenangan itu
adalah
terwujudnya rasa
aman
dan sejahtera.
Dewa
Ganesia lambang
pemujaan
Tuhan
untuk mencapai
rasa
aman. Sedangkan
pemujaan
Dewi
Laksmi lambang
kesejahteraan.
Senjata-senjata
yang dipegang
oleh
tangan Arca
Durga
Kutri itu
adalah
lambang senjata
spiritual. Bukan
lambang
senjata untuk
membunuh
badan
jasmaniah secara
kejam
dalam perang
duniawi.
Senjata
itu adalah
lambang
senjata spiritual untuk
membasmi
kegelapan
hati
nurani membangun
kesadaran
rohani
menuju kehidupan yang
cerah.
*
wiana