Dewi Durgha di Pura Bukit Dharma
Om Catur divya maha
sakti.
Catur asrame Bhatari.
Siwa jagatpati Dewi
Durga sarira dewi.
(Stuti & Stava 308.2)
Maksudnya:
Om Hyang Widhi dalam wujud Catur Dewi, mahakuasa dan
mahasuci, Hyang Widhi sebagai Dewi yang dipuja dalam
empat kehidupan manusia, Catur Dewi adalah saktinya Sang
Hyang Siwa, Dewa dari seluruh Dewa. Om Hyang Widhi hamba
memuja-Mu dalam wujud sebagai Dewi Durga.
PURA
Bukit Dharma di Kutri Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar.
Pura ini adalah sebagai stana (padharman) dari
permaisuri Raja Udayana yang bergelar Gunapriya Dharma
Patni. Raja Udayana berkuasa sebagai Raja di Bali
sekitar abad X Masehi.
Permaisuri Raja Udayana ini melahirkan tiga putra yaitu
Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu. Perkawinan
Mahendradata -- nama asli dari Gunapriya Dharma Patni --
sebagai permaisuri Raja Udayana banyak membawa perubahan
kebudayaan Hindu di Bali. Sejak Raja suami-istri ini
memerintah Bali pengaruh kebudayaan Hindu Jawa sangat
kuat mempengaruhi kehidupan kebudayaan beragama Hindu di
Bali. Prasasti-prasasti Bali sejak Raja Udayana
memerintah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Sebelum Raja
Udayana memerintah prasasti Bali menggunakan bahasa Bali
Kuno.
Dalam prasasti yang dikeluarkan saat Raja Udayana
memerintah Bali, Gunapriya Dharma Patni selalu
disebutkan mendahului nama Raja Udayana. Nampaknya
Gunapriya Dharma Patni pengaruhnya sangat kuat dalam
menetapkan kebijaksanaan kerajaan dalam menata kehidupan
berkebudayaan sebagai media pengamalan beragama Hindu di
Bali saat itu. Hal inilah yang mungkin menyebabkan
Gunapriya Dharma Patni demikian dihormati di Bali oleh
semua lapisan masyarakat Bali. Hal inilah mungkin
sebagai salah satu sebab Gunapriya Dharma Patni
distanakan (didharmakan) di Pura Bukit Dharma di Kutri,
Desa Buruan.
Di pura ini mermaisuri Udayana ini dibuatkan arca
perwujudan sebagai Dewi Durga Maisasura Mardini. Sayang
sementara masyarakat umat Hindu di Bali memiliki
persepsi yang sedikit kurang tepat tentang keberadaan
Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu. Sesungguhnya
Dewi Durga dalam sistem pantheon Hindu bukan sebagai
dewanya ilmu hitam atau black magic.
Dewi Durga sebagai Saktinya Dewa Siwa adalah simbol dari
kemahakuasaan Tuhan dalam fungsinya sebagai Dewi Kasih
Sayang yaitu Dewi Pelebur niat buruk dan membangun niat
suci. Untuk membangun niat baik dengan melebur niat
buruk memang tidak mudah. Karena sulitnya mencapai upaya
tersebutlah disebut Dewi Durga. Kata ''durga'' dalam
bahasa Sansekerta berasal dari kata ''dur'' artinya
sulit dan ''ga'' artinya dilalui atau dijalani. Karena
itu kata ''durga'' artinya sulit dicapai atau sulit
dilalui. Niat itu sesuatu gerak diri yang tidak bisa
dilihat dengan kasat mata oleh orang lain. Karena
sulitnya itu disebut Durga.
Sangat besar kemungkinannya Gunapriya Dharma Patni dalam
kedudukannya sebagai permaisuri raja demikian besar
kasih sayangnya pada rakyat. Karena kasih sayangnya itu
Gunapriya Dharma Patni sangat berwibawa, tetapi rakyat
tidak takut pada ratunya itu. Rakyat demikian cinta dan
hormat pada ratunya bukan karena ia diktator, tetapi
karena prilakunya yang demikian banyak berbuat bijaksana
untuk mensejahterakan rakyat dan memberikan rasa aman
pada suasana kehidupan kerajaan.
Gunapriya Dharma Patni setelah menjadi Dewa Pitara dalam
wujud niskala dibuatkanlah tempat pemujaan di Pura Bukit
Dharma tersebut. Karena kasih sayangnya pada rakyat
beliau dibuatkan arca perwujudan sebagai Dewi Durga
Mahisasura Mardini. Arca ini diwujudkan sebagai seorang
dewi yang langsing bertangan delapan.
Setiap tangannya membawa berbagai senjata. Ada yang
memegang senjata trisula, perisai, busur/panah, pedang,
cakra, gada, ujung tombak (anak panah) dan ada tangannya
memegang ekor lembu Mahisa. Semuanya itu sebagai simbol
yang mengandung makna keagamaan. Senjata di tangan arca
Durga tersebut sesungguhnya bukanlah lambang dari
kekerasan haus perang. Misalnya senjata Cakra Sudharsana.
Menurut Swami Satya Narayana, senjata Cakra Sudharsana
bukanlah lambang senjata perang untuk membunuh. Kata
Cakra artinya bulat simbol alam semesta. Sudharsana
artinya pandangan atau wawasan. Dengan demikian Cakra
Sudharsana itu artinya wawasan yang menyeluruh tentang
keberadaan alam semesta ini. Barang siapa yang mampu
memiliki wawasan yang menyeluruh atau wawasan global
tentang keberadaan alam semesta ini dialah yang akan
dapat memenangkan kehidupan di bumi yang bulat ini.
Hidup yang menang bukan berarti ada yang dikalahkan.
Hidup menang adalah hidup yang aman sejahtera dan
bahagia sekala dan niskala. Arca Durga ini distanakan
pada bangunan pelinggih di arah ersania yaitu arah timur
laut Pura Bukit Dharma ini. Arah ersania adalah arah
tersuci menurut kepercayaan Siwa Sidhanta. Ersania di
Bali disebut kaja kangin. Kaja kangin adalah arah gunung
dan matahari terbit.
Perpaduan dua sumber alam ini melahirkan sumber
kehidupan. Gunung menjadi sumber air dan matahari sumber
bio-energi. Tujuan penempatan pelinggih utama di ersania
sebagai simbol untuk memohon selalu terpadunya dua
sumber alam itu sebagai anugerah Tuhan kepada makhluk
hidup ciptaan-Nya. Salah satu tangan arca Durga Kutri
ini memegang ekor lembu. Ini melukiskan bahwa dunia ini
hendaknya dikendalikan dengan kasih sayang Tuhan yang
dilambangkan oleh arca Durga tersebut.
Di sebelah kiri arca Durga ini terdapat dua Lingga
berpasangan. Lingga ini lambang pemujaan pada Dewa Siwa
dengan Dewi Parwati atau Dewi Durga. Pemujaan Tuhan
sebagai Dewa dan Dewi bertujuan untuk menuntun umat agar
mengembangkan diri dalam hidupnya ini secara seimbang.
Tuhan itu adalah Esa, namun tujuan manusia memuja Tuhan
adalah untuk menguatkan spiritualitasnya dalam menopang
kehidupannya di bumi ini.
Kehidupan ini banyak aspeknya. Karena itu Tuhan Yang Esa
itu dipuja dalam berbagai aspeknya dengan sebutan Dewa.
Nama-nama Tuhan yang banyak ini menurut Rgveda diberikan
oleh para resi atau para Vipra. Demikianlah pemujaan
Tuhan sebagai Dewa dan Dewi bertujuan untuk menguatkan
dan menyeimbangkan aspek rohani dan jasmani dari umat
pemuja Tuhan itu. * I Ketut
Gobyah