kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 8 Oktober 2006 tarukan valas
 

POTRET


I Wayan Sumantra

Dosen Seni Rupa Seharusnya Tetap Terus Berkarya

I Wayan Sumantra termasuk sosok pelukis Bali yang berjalan pelan tetapi pasti. Sejumlah karyanya yang sebagian besar bertema alam dalam goresan ekspresionis sudah menjadi koleksi banyak orang penting. "Melukis adalah keseharian saya," ujar bapak dua anak, suami dari penari dan penyanyi Komang Sri Gustiari ini. Melukis, bagi Sumantra, juga sebagai keharusan. Terlebih ia sebagai dosen Seni Rupa di IKIP PGRI Bali. "Apa gunanya jadi dosen seni rupa kalau saya malas melukis," katanya. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan pelukis yang baru saja meresmikan studio lukisnya ini.

----------

 

BAGAIMANA ceritanya Anda bisa bersentuhan dengan seni khususnya lukis?

Sejak kecil saya memang suka dunia kesenian, terutama melukis. Berawal dari kebiasaan menonton pertunjukan seni, dari wayang kulit, tari arja, sampai gamelan Bali. Sebagai orang yang hidup di desa (Desa Pecatu, Badung, red), saya gampang mendapatkan hiburan tradisional. Nah, kebetulan ada salah seorang warga desa bernama Pak Ladra bisa melukis wayang. Dia juga suka membeli komik-komik di Denpasar. Kalau Pak Ladra membaca buku cerita, saya bersama anak-anak yang lain senang mendengarkannya. Lama-lama, kami kemudian diajari melukis wayang.

 

Berarti Anda bisa melukis berangkat dari seni tradisi?

Ya. Saya menggambar wayang dalam bentuk manusia, bukan bergaya wayang Kamasan. Saya belajar banyak dari Pak Ladra. Setelah tamat SMP, saya melanjutkan ke SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) mengambil jurusan lukis.

 

Apakah itu memang sekolah pilihan Anda?

Sebenarnya saya ingin melanjutkan di SMKI (dulu Kokar, red) karena di samping menggambar saya juga senang menari dan megambel. Namun, lantaran di SMKI muridnya cewek semua, akhirnya saya pindah ke SMSR.

 

Apakah banyak peminat sekolah seni dari desa Anda waktu itu?

Masyarakat dari bukit (daerah Pecatu, red), jarang yang suka dengan seni. Maklum kehidupan mereka keras dan susah. Jangankan makan, untuk mendapatkan air minum saja waktu itu susah.

 

Niat Anda ke sekolah seni saat itu memang keras?

Ya, karena saya merasa punya bakat di situ. Kalau memilih sekolah umum pasti saya akan menemukan pelajaran yang tak saya sukai. Di SMSR, di samping ada menggambarnya, proses kreatif dan bermainnya lebih banyak. Di situ juga tidak terlalu diikat aturan, bajunya bebas, boleh berambut gondrong, dan lainnya. Nah, itu pertimbangan pilihan saya.

 

Dalam proses kreatif melukis, apakah Anda memiliki figur khusus sebagai pijakan berkarya?

Ada, salah satunya Affandi. Saya tahu pelukis ini ketika saya di SMSR. Ketika dia melukis di Tanjung Bungkak, Denpasar, saya sempat melihatnya langsung. Saat itulah saya tertarik dengan goresan, pilihan warna, dan gayanya. Boleh dikata, Affandi idola saya. Setelah tamat SMSR, saya sempat mengaso. Kemudian bertemu dengan teman-teman di SMSR dulu. Nah, kami kemudian sepakat menggambar keluar, menggambar alam. Jujur, saya suka alam.

 

Dalam melukis, dengan gaya apa Anda "menangkap" alam itu di atas kanvas?

Seperti sekarang ini. Ada yang bilang saya memiliki gaya ekspresionis dan ada pula simbolik.

 

Lantas, bagaimana Anda memberi muatan tradisi dalam karya-karya Anda?

Saya masukkan unsur tradisi dalam hal pewarnaan dan objeknya. Misalnya, saya lukis alam tropis yang memang beda dengan alam Barat yang ada saljunya. Pokoknya, saya berkarya. Jika kemudian toh di situ orang menilai ada muatan tradisinya, syukurlah. Saya juga melukis dalam tema-tema simbolik semisal wine dalam gelas yang dikerubut lalat, juga buah apel yang ada lalatnya.

 

Mengapa Anda amat suka memasukkan lalat dalam karya?

Lalat itu binatang yang dimusuhi semua orang. Padahal, kalau tidak ada lalat, berarti tak ada yang makan busuk-busuk. Saya juga melihat keindahan dan keunikan warna lalat itu. Yang jelas, lewat karya-karya simbolik itu ada kritik yang ingin saya sampaikan.

 

Dalam wilayah sombolik, banyak pelukis yang tergugah atas situasi kondisi zaman ini. Misalnya, mereka terinspirasi dari peristiwa politik, lalu membuat lukisan bertema situasi zaman sekarang. Nah, kalau Anda?

Saya juga begitu. Misalnya, seperti pada lukisan "apel direbut lalat" saya itu. Buah apel itu kesannya mewah, lantas oleh seseorang hanya dimakan separo, setengahnya lagi dibuang, lalu direbut lalat. Di situ saya wacanakan tentang kemewahan, kebusukan, dan sebagainya.

 

Anda jarang melukis figur manusia. Mengapa?

Ah, sering. Dalam suatu momen tertentu saya harus mengungkapkan objek yang ada manusianya. Di mana ada alam, di situ ada manusia, rumah dan kegiatan, sehingga seolah alam itu berbicara. Namun sekali tempo saya juga ingin mengungkapkan objek yang betul-betul sunyi dan sendiri. Saya juga sering melukis situasi dan suasana di kampung kelahiran saya, Desa Pecatu. Dalam lukisan itu ada bolduser, ada pantai, dan ada petani yang meratapi tanahnya habis dimakan investor. Di sampingnya berdiri bangunan hotel-hotel.

***

 

APAKAH keluarga mendukung profesi Anda sebagai pelukis?

Harus mendukung, dong. Kalau keluarga tidak mendukung, berarti saya tidak bisa melukis. Sebenarnya, saya tidak berharap anak-anak saya kelak jadi seniman. Namun kalau dia harus ke sana, apa boleh buat. Intinya, saya bebas saja.

 

Apakah Anda memiliki jadwal khusus melukis?

Sebetulnya setiap hari saya masuk studio, kemudian melukis. Kalau tidak ada kegiatan lain, sudah dipastikan saya melukis. Setiap hari saya pasti dapat berkarya. Selesai atau tidak, itu terserah nanti. Yang terpenting bagi saya adalah berkarya.

 

Selama ini, berapa lukisan yang sudah Anda bikin?

Ratusan. Dari jumlah itu, paling sering laku lukisan bertema alam. Ada yang terjual ketika saya berpameran, ada pula yang dicari ke rumah. Nah, ketika saya berpameran di Jakarta, ada juga yang suka dengan karya-karya simbolis saya, semisal lalat-lalat itu. Memang lukisan itu terkesan jorok, tetapi ada juga peminatnya.

 

Berapa harga lukisan Anda dan kolektor dari mana saja yang mengambil karya Anda?

Harga lukisan saya sekitar dua puluh juta ke bawah. Kolektor saya ada yang dari Bali, Jakarta, juga luar negeri. Khusus kolektor bule, umumnya mereka senang dengan lukisan ayam. Di samping itu, mereka juga suka dengan warna yang norak.

 

Selain di kanvas, Anda pernah melukis di media lain?

Di kertas. Kalau untuk membuat sket, biasanya saya memakai kertas karton. Melukis di kertas kebanyakan berbentuk skets wajah.

 

Anda konon pernah melukis figur artis, di antaranya Ayu Azhari dan Feby Febiola, benar?

Ya, waktu di Jakarta saya melukis Ayu Azhari. Sedangkan Feby Febiola saya lukis di studio saya di Bali.

***

 

BAGAIMANA komentar Anda terhadap perkembangan seni rupa di Bali kini? Apakah dengan digelarnya banyak pameran kini, itu bisa dijadikan ukuran bahwa seni lukis di Bali semarak?

Ya. Dengan banyaknya digelar pameran kini, berarti itu menandakan proses kreativitas sudah hidup. Setiap bulan ada saja yang menggelar pameran di hotel, museum, dan tempat lainnya. Itu artinya seni lukis Bali tidak mandek dan proses kreativitas tetap jalan.

 

Menurut Anda, bagusnya perkembangan seni lukis Bali itu biasa dilihat dari mana?

Dari segi apresiasi dan kreativitas pelukisnya, terus ada saja muncul karya-karya baru. Terserah nanti, ada yang mengapresiasi atau tidak, yang penting semangat dan proses kreatifnya itu ada.

 

Bagi Anda, apa sesungguhnya yang menjadi ancaman dari seorang pelukis?

Over produksi, itu salah satu ancaman seorang pelukis. Banyak pelukis yang terlalu over produksi akhirnya merasa jenuh, lantas mandek. Kalau pelukis terlalu over produksi, hasil karyanya juga seakan menjadi "cetakan", ini bisa membahayakan diri pelukis. Pelukis harus bisa memanajemen diri dalam berkarya. Dia harus memperhitungkan secara matang, kapan harus berpameran atau kapan seharusnya keluar.

 

Ada hal khusus lain yang dapat mendukung seorang pelukis produktif berkarya?

Ada, di antaranya Balai Lelang yang digelar secara rutin. Itu dapat merangsang pelukis untuk lebih berkreasi. Keberadaan Balai Lelang itu sangat positif.

 

Lukisan Anda sendiri pernah laku di Balai Lelang?

Pernah. Di sana ada kolektor yang pernah membeli lukisan saya. Namun, dalam berkarya saya tak pernah berpatokan pada Balai Lelang itu. Itu urusan kolektor yang memprediksi. Biarkan saja, pelukis tak usah turut campur. Sebagai seniman lukis, saya hanya berkarya dan berkarya.

 

Apa pendapat Anda perihal pendidikan seni rupa kini? Misalnya, apakah seorang dosen seperti Anda harus terus melukis?

Begini, bagaimanapun juga profesi saya adalah dosen. Kalau saya mengandalkan mata pencarian di studio, dengan melukis saja, penghasilan kan tidak tetap. Sedangkan sebagai dosen, setiap bulannya pasti ada gaji. Nah, saya menyeimbangkan keduanya itu. Bagi saya, secara prinsip seorang dosen seni rupa harus terus berkarya. Dosen seni yang tidak menghasilkan karya-karya baru berarti tidak kreatif. Apalagi dosen yang memamerkan hasil karyanya itu-itu saja dari tahun ke tahun, mereka tergolong tidak kreatif. Kesenian adalah kreativitas. Dosen perlu memberikan mahasiswanya penyegaran lewat karya-karya baru. Meski nantinya hasil mahasiswa lebih bagus dan hasil karya dosen jelek, itu tak apa. Itu sebuah proses.

 

Bagaimana jika seorang dosen merasa malu karyanya lebih jelek dari karya mahasiswanya?

Kualitas karya baik atau buruk itu sangat relatif. Yang penting sudah bisa mengikuti perkembangan zaman. Dosen jangan hanya tahu teori saja, tetapi bagaimana menerapkannya. Terlebih, akan lebih malu lagi jika seorang dosen lukis tidak punya karya. Terkadang ada mahasiswa datang ke rumah dosen, lalu melihat karya bagus, mereka menjadi senang. Semangatnya kemudian muncul. Ceritanya akan jadi lain kalau mahasiswa tidak melihat hasil karya di rumah dosennya.

 

Termasuk berpameran?

Ya. Namun, seorang dosen berpameran jangan hanya untuk mengejar kredit poin saja. Berpameran harus betul-betul dengan karya baru. Kan ada teori, karya seni yang dipublikasikan sama dengan karya ilmiah.

 

Menurut Anda, idealnya seorang dosen seni rupa itu harus bagaimana?

Profesi dosen itu suatu tanggung jawab. Sekali lagi saya katakan, saya sendiri sebagai seorang dosen seni rupa, maka dengan cara bagaimana pun saya harus berkarya. Intinya, dosen tidak boleh mandek berkesenian. Mereka harus tetap berkarya dan bisa mengikuti perkembangan zaman. Kalau orang bilang melukis perlu mood, itu bohong. Mood itu ada setiap hari. Kalau pelukis mengaku selalu tak ada mood, lebih baik tak usah jadi pelukis. Itu berarti malas.

 

Namun, kan banyak pelukis akan berkarya jika ada "mood"?

Kalau setiap hari begitu, itu berbahaya karena bisa menuju kegagalan atau kematian. Kalau merasa jenuh, itu mungkin tepat. Misalnya setelah melakukan beberapa kali pameran, selanjutnya mengaso beberapa bulan, itu wajar. Tetapi itu juga kan tidak lama. Pelukis keluar lagi mencari endapan-endapan baru.

* pewawancara:
  budarsana
  gusmartin

 

BIODATA

Nama                :  I Wayan Sumantra
Lahir                 :  Pecatu, 29 Januari 1961
Pekerjaan         :  Dosen Seni Rupa IKIP PGRI Bali
Istri                  :  Komang Sri Gustiari
Anak                 :  Putu Merta Kresna Raditya
                           Made Ananda  Kresna Aditya

Alamat/studio   :  Jl. Bedahulu VIII/11A Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com