Catatan
Pariwisata
Sepekan --------:
Bulan
Penuh
Kewaspadaan
Bukannya
mau
menebar kecemasan,
namun
untuk mempertebal
kewaspadaan.
Belajar
dari
kejadian yang sudah-sudah,
sepanjang September -
Oktober
ini biasanya
musim
para teroris
beraksi.
Kelengahan
selalu
dimanfaatkan secara
jitu
oleh para
teroris.
Agar
tidak
kecolongan lagi,
kewaspadaan
perlu
terus ditingkatkan,
bukan
hanya oleh
aparat
keamanan tetapi
seluruh
masyarakat.
Sejak
Tragedi
Kuta, barulah
kita
mulai menyadari
betapa
pentingnya arti
keamanan
bagi
sebuah destinasi
pariwisata
seperti Bali.
Selama
berpuluh-puluh tahun
kita
terbuai laporan
akhir
tahun aparat
keamanan, "Bali
termasuk
daerah
teraman di
Tanah Air."
Semua
merasa
kecolongan, ketika
dengan
mudahnya teroris
du kali
memporak-porandakan
Bali.
Orientasi
terhadap security
sekejap
berubah drastis.
Keamanan
harus
jadi prioritas.
Pernyataan
seperti
itu kerap
kita
dengar dari
penggalan
pidato
pejabat, sesumbar
politisi
dan
retorika di
ruang seminar.
Sayangnya,
semua
itu masih
wacana
di awang-awang.
Ekseptasi
yang berlebihan
pada
peran aparat
keamanan
tidak
ditunjang oleh
tersedianya
fasilitas
untuk
mewujudkannya.
Sampai
saat
ini, kendati
kita
sudah cukup
percaya
pada kinerja
Polri,
tetapi masih
cukup
banyak kendala.
Ditinjau
dari
beban tugas,
luas
wilayah dan
tuntutan
kualitas
keamanan
pariwisata Bali,
penyediaan
personel
berikut
sarana dan
prasarananya
masih
jauh dari
memadai.
Menyimak
minimnya
ketersediaan
fasilitas
itu,
kita segera
menemukan
ironi.
Betapa
kemegahan pariwisata
Bali yang dihias
sekian
ratus hotel berbintang
dan
fasilitas yang serbah
wah,
sama
sekali
tak berimbang
dengan
ketersedian sarana
keamanan.
Di
sini
secara telanjang
sekaligus
memperlihatkan,
betapa
tidak proporsionalnya
alokasi cost
keamanan
dalam "akuntansi"
untung-rugi
kepariwisataa Bali.
Industri
pariwisata
tampaknya
merasa
cukup memadai
kalau
sudah membayar PHR
dan
pungutan normatif
lainnya.
Padahal,
sejatinya
tugas
keamanan, apalagi
dalam
konteks preventif
mendeteksi
aktivitas
terorisme,
sangatlah
berat.
Perlu
dana yang
jauh
lebih besar
dari
sekadar menyiapkan
nasi
bungkus dan
segelas kopi
untuk
ronda malam.
Wacana
yang bergulir
dalam
empat tahun
terakhir
tentang
pentingnya peran
keamanan
dalam
pariwisata Bali, tampaknya
belum
dicermati secara
sungguh-sungguh,
baik
oleh pemerintah, DPRD
maupun
kalangan pariwisata
sendiri.
Secara
karikaturis misalnya,
kita
bisa mempertanyakan,
kalau yang
dikeluhkan
secara
klasik selama
ini
masalah
dana, lantas
mengapa
sekian milyar
rupiah
dihambur-hamburkan untuk
pelesiran
Dewan
ke luar
negeri?
Kalau
dana untuk
urusan
remeh-remeh itu
ada,
mengapa tidak
disisihkan
untuk
menambah fasilitas
keamanan yang
jauh
lebih penting?
Padahal,
kalau
kondisi Bali aman
dan
nyaman, turis
bisa
berbondong-bondong ke
sini.
Imbasnya,
industri
pariwisata
hidup
kembali sehingga
bisa
bayar PHR.
Kalau PHR
meningkat
dengan
sendirinya pundi-pundi
daerah
akan menggelembung
pula. Sesudah
itulah
baru dipikirkan
alokasi
dana
untuk
urusan remeh-remeh,
seperti
pelesiran ke
luar
negeri atau
ke
daerah lain. Maaf,
mestinya
alur
berpikirnya
kan
demikian.
Kalau
kita
masih percaya
bahwa
kekeliruan masih
bisa
dikoreksi, ke
depan
tampaknya perlu
dilakukan
redistribusi tourism benefit
di Bali
dengan menempatkan
security cost sebagai
bagian
dari "pembukuan"
pariwisata Bali.
Dengan
kewenangan yang
ada,
legislatif dan
eksekutif
harus
cerdas mencari
terobosan.
Bukan
saja dengan
secara
gampangan menaikan
PHR atau
pungutan
lainnya,
tetapi
melakukan konsolidasi
dengan
seluruh stakeholders
pariwisata Bali
untuk
bersama-sama memikirkannya.
Selama
ini hal
itu
belum pernah
dilakukan!
Setidaknya
untuk
menyamakan persepsi,
bahwa
menjaga keamanan Bali
sama
penting
dengan promosi
ke
pasar-pasar potensial
di luar
negeri.
Tak
ada
gunanya berbusa-busa
ke luar
negeri,
kalau keamanan
di sini
belum
mantap. *
gregorius