Soal
Bandara
Internasional----
Tim Sebelas
dan
Warga Bentrok
Praya
(Suara NTB) -
Ratusan
warga
kontra pembangunan
Bandara
Internasional di
Dusun
Geros, Desa
Tanak
Awu, Kamis (5/10)
malam,
terlibat bentrok
dengan
puluhan anggota
tim
sebelas
dibantu ratusan
warga pro
bandara.
Bentrokan
dipicu
oleh tindakan
tim
sebelas yang
melakukan
penangkapan
terhadap
seorang
warga kontra
bandara,
Mamiq
Mulkan (45).
Belum
diketahui
jumlah
korban luka-luka
dalam
bentrokan tersebut.
Informasi
yang dihimpun
Suara NTB
di
Polres Loteng
menyebutkan,
kronologis
kejadian
bermula
dari penangkapan
oleh
tim
sebelas yang
beranggotakan
sekitar 25
orang
dibawah pimpinan L.
Tohri
sekitar pukul 16.30
Wita.
Tim
sebelas
menduga Mulkan yang
saat
itu datang
bersama
beberapa warga
lainnya
ke lokasi
perataan
bandara
sebagai provokator
warga.
Saat
ditangkap
Mulkan
membantah dirinya
melakukan
provokasi.
Kedatangannya
ke
lokasi itu
menurut
pengakuan Mulkan
hanya
untuk mencari
kayu
bakar. Namun
tim
sebelas
tidak percaya
dan
langsung menggelandangnya
ke
Mapolres Loteng
untuk
dimintai keterangan.
Sedangkan
warga
lainnya berhasil
kabur
dari kejaran
tim
sebelas.
Mendengar
tindakan
tim
sebelas
dari warga yang
berhasil
lolos
tersebut, puluhan
warga
lainnya sekitar
pukul 17.30
Wita
mendatangai rumah
koordinator
tim
sebelas Tanak
Awu, L.
Wirepati.
Warga
menganggap
Wirepati-lah yang
telah
memerintahkan penangkapan
atas
Mulkan.
Warga
pun mengamuk
dengan
melempari rumah
Wirepati
dengan
batu dan
benda
keras lainya.
Akibatnya,
sejumlah
bagian
rumah dan
berugak
rusak parah.
Setelah
itu
warga kembali
ke
rumahnya masing-masing.
Kembali
Ratusan
warga
dengan membawa
senjata
tajam, kembali
mendatangi
rumah
Wirapati, Jumat
(6/10) sekitar
pukul 01.00
dini
hari kemarin.
Mereka
mendesak agar
Mulkan
segera dibebaskan
dan
menutut pertanggung
jawaban
Wirapati.
Situasi
kemudian
semakin
tidak terkendali
karena
warga kembali
melempari
rumah
Wirapati untuk
kedua
kalinya.
Salah
seorang
keluarga Wirapati
bernama
Aq. Mariana terluka
pada
bagian pelipis
dalam
insiden tersebut.
Di
pihak lain,
ratusan
warga pro bandara
yang dimotori
tim
sebelas
juga datang
dan
membalas lemparan
warga yang
kontra
bandara. Hujan
batu
dan benda
keras pun
tak
bisa dielakkan.
Kondisi
semakin
mencekam.
Akibatnya,
puluhan
wartawan TV maupun
cetak yang
hendak
meliput kejadian
tersebut
tak
bisa masuk
ke
lokasi karena
jalan
sudah diblokir
aparat
kepolisian dari
Polsek
Pujut dan
Praya
Barat.
Guna
mencegah agar
betrokan
tidak
meluas, pihak
kepolisian
Resor
Loteng akhirnya
membebaskan
Mulkan,
dan diserahkan
langsung
oleh
Kasat Reskrim
Iptu
Zulkarnaen Harahap
kepada
pihak keluarga
sekitar
pukul 02.00 Wita.
Begitu
tahu
Mulkan sudah
dibebaskan
warga yang
sebelumnya
berkumpul
di
sekitar rumah
Wirapati
berangsur-angsur
kembali
ke rumah
masing-masing.
Kapolres
Loteng, AKBP Drs.
Ruslan, yang
dihubungi
Jumat,
membenarkan adanya
penangkapan
tersebut.
Namun
untuk
mencegah perlawanan
warga
kontra bandara
akhirnya
Mulkan
dibebaskan.
"Kalau
tidak
dibebaskan masalah
ini
bisa semakin
meluas
dan berujung
pada
bentrok antar
warga pro
dengan
kontra," jelasnya
seraya
menambahkan, pembebasan
juga
dikarenakan tidak
cukup
bukti kalau
Mulkan
sebagai provokator.
Hingga
berita
ini ditulis
kondisi
di Tanak
Awu
sudah kondusif.
Pengamanan
dari
pihak kepolisian
juga
tidak diperketat
dengan
melakukan penambahan
pasukan.
"Pengamanan
masih
diserahkan sepenuhnya
kepada
anggota di
Polsek
setempat," aku
Kapolres.
(kir)