Tinggal
Satu
Generasi Lagi?
''NAPAS''
bahasa
Bali
tinggal
satu generasi
lagi.
Para pengamat
bahasa-bahasa
etnis
mengeluarkan teori
bahasa Bali
akan
mati
pada tahun 2041
seiring
menghilangnya generasi
tua Bali.
Meskipun
teori
itu lebih
banyak
bertujuan untuk
membuat
manusia
Bali
jengah
dan tergugah,
namun
argumentasi itu
jelas
bukan hal yang
mengada-ada.
Realitanya,
generasi
muda
Bali
kini
memang sudah
sangat ''berjarak''
dengan
bahasa ibunya.
Mereka
tidak
lagi jadi
penutur
aktif dan
cenderung
lebih
memilih menggunakan
bahasa
di luar
bahasa
Bali
dalam
pergaulan kesehariannya.
Jika
sebuah bahasa
mulai
ditinggalkan para
penuturnya,
itu
sama
artinya
bahasa itu
tengah
bergerak menuju
gerbang
kematian.
Tinggal
menghitung
hari.
Bayang-bayang
kematian
bahasa Bali
itu
juga sangat
mencemaskan
Putu
Setia.
Jurnalis
yang juga
tampil
sebagai pembicara
pada
Kongres Bahasa Bali
VI ini
melontarkan sejumlah
argumentasi yang
menguatkan
teori
para pengamat
bahasa-bahasa
etnis
tersebut.
Argumentasi
pertama,
katanya,
bahasa
Bali
bukan
bahasa Weda.
Dulu,
memang
ada anggapan
semasih agama Hindu
dipeluk
penduduk
Bali,
bahasa Bali
pasti
tetap hidup.
Belakangan,
anggapan
itu
melemah mengingat
banyak
sekali ritual yang memakai
bahasa
Bali
diganti
ke mantram
dalam
bahasa Sansekerta.
''Sekarang,
para
pinandita apalagi
pandita
sudah lancar
melafalkan
mantram yang
langsung
berbahasa
Sansekerta.
Begitu
pula dengan
orang
Bali,
lebih-lebih yang
berpendidikan,
jarang
sekali berdoa
dengan
bahasa Bali.
Bahasanya
sudah
diganti dengan
bahasa
Sansekerta,''
ujarnya.
Argumentasi
kedua,
katanya, tidak
ada
terjemahan atau
tafsir
Weda ke
dalam
bahasa Bali.
Dengan
begitu,
orang
Bali yang
belajar agama Hindu
dan
bahkan jadi
ahli agama Hindu
cukup
belajar bahasa
Indonesia plus sedikit
tahu
bahasa Sansekerta.
''Tak
perlu
tahu bahasa
Bali,'' katanya.
Argumentasi
ketiga,
katanya, bahasa Bali
kalah
gengsinya sebagai
bahasa
pergaulan dan
diramalkan
tidak
lagi jadi
bahasa
pergaulan.
Realita
ini
sebenarnya sudah
terjadi.
Orang
Bali,
termasuk
tokoh-tokoh
panutan,
sudah
mulai rikuh
berbahasa Bali
karena
dikesankan bahasa
Bali itu
angker
dan harus
ada
sor-singgih.
''Anak-anak Bali
sangat
jarang menggunakan
bahasa Bali
sebagai
bahasa pergaulan.
Bahkan,
anak TK
di desa pun
bahasa
pengantarnya bahasa
Indonesia.
Di
kota
apalagi,
sejak
kecil mereka
sudah
diajar bahasa
Indonesia.
Akibatnya,
generasi
muda
Bali
makin
asing dengan
bahasa Bali.
Kalau
begini terus,
lama-lama bahasa
bali
akan
punah,'' katanya
menyesalkan.
Aksara
dan
Sastra Bali
Putu
Setia
menambahkan, nasib
aksara Bali
justru
lebih memprihatinkan
lagi
karena mulai
menghilang
di
bangku SD, apalagi
SLTP dan SMA.
Sebagai
perbandingan,
saat
dirinya masih
duduk
di Sekolah
Rakyat (setingkat
SD-red), bahasa
Bali
dan
aksara Bali sudah
diajari
sejak kelas
tiga.
''Sekarang,
generasi
muda
Bali seperti
kehilangan
aksara Bali,''
keluhnya.
Kendati
begitu,
katanya, nada-nada
optimistis bahwa
aksara Bali
tidak
bermunculan.
Alasannya,
budaya ritual Hindu
di Bali
masih banyak
menggunakan idiom
aksara
Bali.
Rerajahan
tak
bisa menggunakan
huruf Latin
karena
nilai sakralnya
tentu
tidak muncul.
Masalahnya
sekarang,
bukankah
jadi
pemeluk Hindu tidak
harus
menggunakan ritual budaya
Bali?
''Sudah
banyak orang Bali
modern tidak
lagi
menggunakan rerajahan
karena
ritualnya mengacu
kepada
Weda dan
tidak
lagi menggunakan
simbol-simbol.
Pelaksanaan
agni
hotra,
misalnya, tak
perlu
memakai rerajahan,''
katanya.
Lantas,
bagaimana
dengan
nasib sastra Bali?
Menurut
Putu Setia,
dirinya
melihat kemajuan yang
cukup
pesat.
Terutama,
sastra
Bali yang
bercorak
tradisional.
Sastra Bali
tradisional
itu
adalah seni
geguritan/gegitaan
dengan media
sekar alit,
sekar alit,
maupun
sekar agung.
Sekaa
pesantian tumbuh
pesat
di pedesaan,
ini
antara lain dirangsang
oleh
banyaknya radio yang
menggelar gegitaan
interaktif.
Barometer lain
untuk
mengukur kemajuan
itu
juga terlihat
dari
banyaknya buku
geguritan yang
diterbitkan
dan
mulai muncul
pengawi (pengarang-red)
Bali yang baru.
Kaset
gending Bali juga
laris
manis.
Variasi
tembang
juga kreatif,
muncul
irama-irama baru
dengan
patokan pupuh yang
sudah
umum. ''Tentu
saja,
ini perkembangan yang
sangat
menggembirakan.
Hanya,
dari
sudut aksara
Bali tetap
membuat
kita semua
prihatin
karena
buku geguritan yang
bertambah
itu
semuanya dicetak
dengan
huruf Latin,'' ujarnya.
Lantas,
upaya
apa yang
mesti
dilakukan jika
ingin
bahasa, aksara
dan
sastra Bali tetap
lestari
dan terus
tumbuh
berkembang? Menurut
Putu
Setia, pemerintah
dan
lembaga-lembaga swasta
yang bergiat
di
bidang pelestarian
bahasa Bali
hendaknya
memberikan
penghargaan
kepada
para seniman
sastra
Bali.
Penghargaan
itu
bukan sekadar
piagam
berupa kertas,
tetapi
sesuatu yang bisa
mengubah
kehidupan
mereka
yakni penghargaan
materi.
Selanjutnya,
para
pengawi
Bali
perlu
bersatu dan
membentuk
perkumpulan.
Lewat
perkumpulan ini,
mereka
berjuang mendapatkan
royalti yang
lebih
dari penerbit
buku
lalu berjuang
untuk
mengadakan media
massa
populer yang
berbasis
sastra
daerah. Kalau media
massa
tidak
ada, sulit
bagi
pengawi bergerak.
''Menggairahkan
penggunaan
bahasa Bali
terbukti
bisa
mudah dilakukan
kalau
tersedia media berbahasa
Bali yang ajeg.
Radio Genta
Swara
Sakti Bali, misalnya,
bisa
jadi contoh.
Begitu
pula hal
dengan Bali Post yang
membuat
rubrik Bali Orti
setiap
Minggu.
Ini
sebuah media
pembelajaran
sekaligus
pelestarian yang
sangat
penting,'' tegasnya.
Dia
menambahkan,
dunia
pendidikan juga
merupakan
hal
penting yang harus
disasar
untuk menghidupkan
bahasa,
aksara dan
sastra Bali
ke
depan.
Bahasa
dan
aksara
Bali
harus
kembali diajarkan
sejak
jenjang pendidikan SD
dan
bisa dimasukkan
dalam
kurikulum muatan
lokal.
''Masih
ada banyak
kesempatan
dan
waktu untuk
menyelamatkan
bahasa,
aksara dan
sastra Bali
dari
kematian jika
seluruh
komponen masyarakat
Bali, pemerintah
dan
pihak swasta
mau
berjuang untuk
itu.
Jika
tidak, kekhawatiran
bahasa Bali
akan
mati
pada tahun 2041
mendatang
bisa
jadi benar-benar
jadi
kenyataan. Kalau
sebuah
bahasa sudah
ditinggalkan
penuturnya,
berarti
dia akan
mati
dengan sendirinya,''
tegasnya
lagi.
* w.
sumatika