Menbudpar
Jero
Wacik :
Saya
Bisa
Bubarkan MPI
Ketua
Masyarakat
Pariwisata Indonesia (MPI)
Pontjo
Sutowo menilai
Menbudpar
belum
bekerja strategis?
Tidak
benar
itu. Saya
sudah
banyak bicara
dengan
asosiasi dan
industri
pariwisata
soal
bagaimana memajukan
pariwisata Indonesia,
dan
saya sudah
bekerja
maksimal. Jika
hasil
angkanya demikian (kunjungan
wisman
terus anjlok-red),
ya kita
tak
bisa bicara
banyak. Yang
jelas
selama dua
tahun
menjadi menteri,
sudah
kerja maksimal
dan
strategis.
Maksudnya?
Begini.
Saya
dilantik jadi
Menbudpar 21
Oktober 2004.
Sehari
dilantik sudah
ketemu
asosiasi pariwisata,
ada PHRI,
Asita, INCCA,
kecuali Pak
Pontjo
karena MPI itu
organisasi yang
lebih
kecil. Saya
cari
masukan apa yang
diminta
industri. Ternyata,
mereka
mengeluhkan bahwa
warga
Cina yang mau
ke Indonesia
harus
ngurus visa ke
Ghuang
Zhoa yang jaraknya 4
jam, sehingga
tak
efektif dan Indonesia
perlu
membuka perwakilan
di
Ghuang Zhoa.
Selain
itu, seat capacity
penerbangan ke
luar
negeri perlu
ditambah.
Masalah lain, Indonesia
harus
ciptakan pasar
baru
selain pasar lama
Australia, negara
kawasan ASEAN,
beberapa
negara
di Eropa. Dan
disepakati
pasar
baru itu
Cina,
India dan
Timur
Tengah, karena
ketiga
negara itu
ditutup
oleh kita.
Hasilnya?
Saya
langsung
bicara
dengan Menteri
Luar
Negeri dan
Menteri
Hukum dan HAM
soal
membuka perwakilan
di
Ghuang Zhoa,
dan
disetujui. Kita juga
membuka
rencara strategis (renstra)
pengembangan
pasar
pariwisata dengan
melakukan
promosi
dan pemasaran
ke tiga
negara
pasar baru, yang
sampai
kini masih
terus
kita lakukan.
Jadi,
itu
termasuk kerja
strategis?
Itu
masih
ditambah dengan
pertemuan 17
menteri
terkait bidang
pariwisata
di
Tampaksiring, Bali, yang
dipimpin Presiden
Yudhoyono.
Bahkan, Pak
Pontjo
sendiri datang
dan
menyaksikan ini.
Perlu
diketahui bahwa
baru
pertama ini
Presiden
memimpin
rakor
khusus soal
pariwisata.
Jadi,
ada nilai
tambahnya
buat
pariwisata kita.
Apakah
ini masih
dianggap
kurang
strategis?
Berarti
Bapak
tidak puas
dengan
tudingan itu?
Oh, ya dong.
Karena
sudah bekerja
demi
rakyat, dan
akan
memberikan laporan
setiap
tahunnya kepada
Presiden.
Saya
yakin rapor
maupun
kinerja saya
selama
dua tahun
sebagai
menteri tidak
merah,
karena sudah
banyak yang
saya
lakukan.
Jadi...
Begini,
saya
lanjutkan. Di
saat Bali
diguncang
bom
kemudian ada
bencana
alam di
Yogyakarta
dan tsunami
di
kawasan wisata
Pangandaran,
saya
langsung datang
dengan
mendirikan media center.
Saya berusaha
untuk
memacu kinerja
jajaran
saya dan
mengajak
asosiasi agar
dapat
secepatnya memulihkan
sektor
pariwisata Indonesia.
Selain
dinilai
tidak strategis,
juga
belum membuat
skala
prioritas kebijakan
untuk
mengembalikan pariwisata
yang terus
terpuruk,
tanggapan
Bapak?
Skala
prioritas yang
mana?
Apakah kalau
ada
pengusaha hotel yang minta
keringanan
bayar
pajak, itu yang
diprioritaskan?
Maaf
saya tidak
lakukan
itu, saya
bekerja
untuk kepentingan
rakyat
dan tidak
untuk
kepentingan pengusaha.
Juga
ada usulan agar visa
berkunjung
ke luar
negeri
hendaknya dibebaskan,
namun
saya tidak
mau
mengusulkan itu
karena
itu bukan
untuk
kepentingan rakyat,
tetapi
segelintir orang.
Kalau
tudingan
itu
tidak benar,
apa ada
rencana
memanggil atau
menegur?
Kenapa
itu
saya lakukan?
Ingat
ya, keberadaan MPI
itu
berdasarkan Surat
Keputusan
Menteri
Budpar yang sudah
jalan 6
tahun, padahal
masa
kerja mereka
cuma 5
tahun. Bisa
saja
saya cabut
dan
saya bubarkan
dengan
alasan itu.
Namun,
tidak saya
lakukan.
Memang
tugas MPI tujuannya
untuk
memberi masukan
kepada
menteri, namun MPI
sendiri
tidak jelas
siapa
saja yang ada
di
dalamnya. *
endy