Perlu
Persepsi yang
Sama
terhadap Kebijakan
Pendidikan
Oleh
Nengah
Wikrama, S.Pd.
PROSES
pembelajaran
semaksimal
mungkin
harus mampu
membuat
siswa senang
dan
tertantang untuk
belajar,
bukan
tertekan. Sosialisasi
atau
penjelasan sekolah
dalam
hal ini guru
terhadap
berbagai
kegiatan yang
dilakukan
di
sekolah harus
menyentuh
pemahaman
siswa.
Sehingga, tidak
ada
keterpaksaan bagi
siswa
untuk melakukan
proses
pendidikan.
Masyarakat
adalah
pemakai output pendidikan.
Namun
pemakai bukan
berarti
hanya menggunakan
hasil yang
sudah
ada semata.
Masyarakat
harus
mampu menyumbangkan
perannya
di
dalam pendidikan,
baik
terkait dengan
penyediaan input
maupun
pelaksanaan proses.
Pemberian
informasi yang
positif
tentang dunia
pendidikan
dari
masyarakat kepada
lingkungannya,
baik
orangtua maupun
siswa,
sangat penting
dilakukan.
Karena
tidak jarang
terjadi
di masyarakat
banyak
isu yang mendiskreditkan
sekolah
ketika membuat
sebuah
kebijakan baru.
Terutama
dalam
penegakan disiplin
dan
pemberian tugas
belajar yang
lebih
kepada siswa. Hal
ini
diartikan oleh
masyarakat
sebagai
kegiatan yang mengada-ada.
Padahal
penegakan disiplin
adalah
bagian integral dari
proses
pendidikan.
Pemberian
tugas
belajar yang lebih
diartikan
sebagai
beban yang kemudian
diperumit
oleh
masyarakat, sehingga
menjadi
pembenar bagi
kemalasan
siswa.
Ketika guru mengambil
sebuah
tindakan, maka
itulah
dijadikan alasan
untuk
siswa membolos,
tidak
mau sekolah,
bahkan
putus sekolah.
Oleh
karenanya, di
masyarakat
harus
dibangun iklim
akademis yang
kondusif.
Siswa yang
rajin
untuk beraktivitas
di
sekolah harus
diberikan
penghargaan
oleh
masyarakat, bukan
malah
sebaliknya.
Orangtua
adalah
pembina keluarga,
tempat
dilangsungkannya pendidikan
informal. Di
sinilah
ditanamkan sebuah
budaya,
pembiasaan habit formation.
Pendidikan informal dalam
keluarga
akan
banyak membantu
meletakkan
dasar
pembentukan kepribadian
anak.
Orangtua hendaknya
mengarahkan
anak-anaknya
untuk
tahan banting
dalam
mengarungi kehidupan.
Kehidupan
ini
haruslah didasari
dengan
pendidikan yang memadai
atau
setidaknya dengan
kerja
keras dan
berusaha
mengembangkan
diri.
Persepsi seperti
itu
harus terus
dibangun
kepada
putra-putinya. Sikap
tidak
mau menyerah
dan
putus asa yang
didasari
dengan
ketekunan harus
senantiasa
mengilhami
setiap
perjalanan siswa.
Namun,
orangtua juga
harus
berani menerima
kegagalan
putra-putrinya.
Bertindak
secara
dewasa atas
kegagalan
itu,
dan dari situ
merumuskan
sebuah
perencanaan baru.
Pemaksaan-pemaksaan
orangtua
terhadap
penentuan
pilihan
anak-anaknya harus
dilenyapkan.
Karena
pemaksaan ini
akan
membuat putra
dan
putrinya terpaksa
dan
bahkan bisa
menyebabkan trauma.
Ketika
titik ini
tercapai,
maka
sangat sulit
untuk
mengarahkan kembali,
bahkan
dikhawatirkan ''jalan-pintas''
yang menjadi
pilihan,
seperti
putus sekolah
atau
malah bunuh
diri.
Karena itu
orangtua
harus
menghindari pemaksaan
kehendak
kepada
putra-putrinya, tetapi
mengembangkan
sikap
dialektika spekulasi.
Yakni
menimbang-nimbang semua
pilihan
ke dalam
matrik
baik-buruk, sanggup-tidak
sanggup
atas pilihan yang
diputuskan.
Siswa
adalah ''eksekutor''
dari
semua yang terjadi.
Ketika sang
eksekutor
menggunakan
berbagai
pengetahuan,
pengalaman,
dan
semua pertimbangan
dari
seluruh komponen
pendidikan yang
bersifat
positif
untuk memutuskan
pilihan,
maka
keputusan yang dihasilkan
adalah
koputusan positif
atau
konstruktif demi
masa
depannya. Tetapi
ketika
keputusan yang diambil
berdasarkan
pertimbangan
dan
ilustrasi yang meremehkan,
menyedihkan,
dan
pertimbangan negatif
yang lain, maka yang
dihasilkan
adalah
keputusan negatif,
dan
destruktif.
Untuk
itu
siswa saat
ini
harus mampu
mempedomani
banyak
peristiwa yang
mengisyaratkan betapa
pentingnya
ilmu
pengetahuan dalam
kehidupan.
Siswa
harus menyadari
dan
meneladani kehebatan
tokoh-tokoh yang
mapan
di dunianya
karena
proses pendidikan.
Ketika
motivasi putus
sekolah
adalah karena
ketidakmampuan,
maka
eksekusi itu
keliru
dan harus
dihentikan
oleh sang
eksekutor
yakni
siswa sendiri.
Penulis,
guru Fisika SMPN 1
Susut,
Bangli