Masyarakat
Bali haruslah
proaktif
dalam
memberikan masukan
tentang
kebijakan-kebijakan
pembangunan di
daerah
ini.
Setiap
proyek yang
ditawarkan
di
Bali
haruslah
dikaji
secara realitas
dan
faktual agar tidak
bertentangan
dengan
budaya yang telah
ada.
Untuk
kesinambungan pembangunan
Bali, semua
elemen
masyarakat harus
berpegang
teguh
pada visi
dan
misi yang telah
ditetapkan. Yang
menjadi
persoalan adalah,
sudahkan Bali
memiliki
visi
dan misi
tentang
pembangunan ke
depan?
-------------------
Mewujudkan
Pembangunan Bali
Berkesinambungan
Oleh
I Gusti
Bagus Rai
Utama, S.E., MMA.
ADA indikasi
bahwa
masyarakan Bali telah
mengalami
pergeseran
gaya
hidup, yang pada
mulanya
sangat teguh
memegang
konsep
hidup harmonisasi
antara
alam, manusia,
dan
penciptanya ke
arah
mementingkan diri
sendiri
walaupun sepintas
terlihat
tempat-tempat
suci
keagamaan masih
ramai
dikunjungi oleh
penganutnya
masing-masing.
-----------------------------
Indikasi
lainnya,
masyarakat Bali
telah
mengalami bergeseran
dari
budaya conserver ke
arah consumer,
tidak
peduli dampak
negatif
dari sebuah
usaha yang
dilakukan
di Bali yang
penting
uang dan
uang.
Misalnya
saja,
beberapa puluh
tahun yang
lalu,
sepeda gayung
sangat
populer di
masyarakat
sebagai
kendaraan rakyat
waktu
itu.
Coba
kita
lihat sekarang,
sangat
jarang kita
lihat
sepeda gayung
di
jalan raya.
Coba
bandingkan
dengan
negara Cina,
Belanda,
dan
beberapa negara
di
Eropa.
Mungkinkah
Bali lebih
maju
dari mereka?
Polusi
udara
dapat dikurangi,
ketergantungan
pada BBM
juga
dapat dikurangi.
Bandingkan
juga
dengan
India, mereka
mau
hidup menderita
namun
mereka tidak
dililit
utang seperti
negara
kita.
Apa
yang sebenarnya
terjadi?
Mungkinkah
budaya
luhur nenek
moyang
kita berupa
prinsip
gotong royong
dan
kekeluargaan hanya
tinggal
semboyan saja?
Kalau
berbicara
pembangunan,
sepintas
terlintas
di
benak kita
adalah
bangunan gedung,
jalan
raya, hotel dan
sebagainya.
Namun
sebenarnya yang dimaksud
pembangunan
adalah
menyadarkan diri
bahwa
hidup ini
bukan
untuk hari
ini
saja, tetapi
untuk
masa yang
akan
datang.
Jika setiap
individu yang
hidup
di Bali sadar
bahwa
hidup ini
bukan
hanya untuk
hari
ini saja,
bukan
hanya untuk
dirinya
saja, pastinya Bali
ini
akan
tetap
ajeg.
Para
investor yang telah
berbaik
hati ikut
membangun Bali
secara
phisik, tentunya
sangat
berjasa bagi
masyarakat Bali.
Sekarang
yang menjadi
persoalan
adalah,
sudahkan para
investor memikirkan
bahwa
usaha yang dibangunnya
di
Bali
harus
tetap ajeg/sustainable?
Pastilah
mereka
telah memikirkannya
dan
telah mengusahakannya.
Perusahaan-perusahaan
yang ada
di
Bali tidaklah
hanya
peduli pada
kepentingan
perusahaannya
saja,
tetapi harusnya
peduli
dengan lingkungan
di mana
mereka
berusaha, ibarat
seseorang yang
memiliki
angsa yang
bertelur
emas,
si angsa
harus
dirawat dan
dipelihara agar
tetap
bertelur sepanjang
masa.
Harus
ada
gerakan bersama
pada
semua elemen
masyarakat,
dari
individu, keluarga,
kelompok,
golongan,
kaum
pejabat dan
sebagainya.
Jika yang
peduli
hanya satu
atau
dua elemen
saja,
pastilah usaha
untuk
ajeg
Bali
sangat
susah
untuk
diwujudkan.
Harus
ada
gerakan Care for all and
Interinpendency, satu
visi
dan misi
bersama
untuk menyelamatkan
Bali
dari
kepentingan sesaat.
Kejadian-kejadian
di
daerah lain, seperti
luapan
lumpur panas,
konflik
pertambangan emas
di Papua,
dan
konflik-konflik lainnya
sudah
cukup menjadi
bukti
bahwa kaum investor
masih
tergolong hanya
mementingkan
diri
sendiri saja.
Masyarakat
Proaktif
Masyarakat
Bali haruslah
proaktif
dalam
memberikan masukan
tentang
kebijakan-kebijakan
pembangunan di
daerah
ini.
Setiap
proyek yang
ditawarkan
di
Bali
haruslah
dikaji
secara realitas
dan
faktual agar tidak
bertentangan
dengan
budaya yang telah
ada.
Misalnya
saja,
cocokkah di
Bali
dibangun
pabrik
miras?
Membuat
program pembangunan yang
meminimalkan
dampak
negatif
dan memaksimalkan
pengaruh
positifnya
sehingga
generasi yang
akan
datang tidak
dibebani
dengan
kebobrokan dan
kehancuran
para
pendahulunya. Program yang
baik
bukan karena
banyaknya program,
tetapi
kualitas dari
penyelesaian
dari
sebuah program.
Pembangunan-pembangunan
fisik
masih dilakukan
secara
parsial, sehingga
menimbulkan
dampak yang
tidak
baik.
Misalnya
saja,
kabel listrik,
kabel
telepon, saluran air
seharusnya
dapat
ditempatkan dalam
satu
saluran, kenapa
harus
digali berkali-kali?
Jalan
raya yang berlubang-lubang,
trotoar yang
tidak
berfungsi sungguh
tidak
mencirikan sebuah
kota
sebagai international
tourism destination.
Penomena
pembangunan
akhir-akhir
ini di
Bali sungguh
membuat
kita prihatin,
sebab
beberapa proyek yang
ditawarkan
oleh investor
di Bali
terkadang tidak
sesuai
dengan budaya
dan
tradisi di Bali.
Mungkin
saja investor
tidak
salah karena
memang
pemegang kebijakan
di
Bali
tidak
memiliki perencanaan
yang jelas
tentang
pembangunan di
daerahnya.
Begitu
juga
masyarakat
dengan
sangat mudahnya
menjual
tanah miliknya.
Dalam
konteks
ini, tidak
ada
pihak yang dapat
dibenarkan
dan
disalahkan.
Untuk
kesinambungan
pembangunan
Bali,
semua
elemen masyarakat
harus
berpegang teguh
pada
visi dan
misi yang
telah
ditetapkan.
Yang menjadi
persoalan
adalah,
sudahkah Bali memiliki
visi
dan misi
tentang
pembangunan ke
depan?
Visi
dan
misi ini
harusnya
melekat
di setiap
sanubari
masyarakat
Bali, tidak
hanya
dalam kata-kata
namun
dalam tindakan
nyata.
Penulis,
dosen
Tetap STIM Dhyana
Pura,
mahasiswa MA in International Leisure and Tourism
Studies CHN, tinggal
di
Leeuwarden,
Belanda
---------------------------------
*
Masyarakat Bali
telah
mengalami pergeseran
gaya
hidup
*
Perlu
gerakan semua
elemen
masyarakat untuk
mendukung
ajeg Bali.
*
Pembangunan
fisik
masih dilakukan
secara
parsial sehingga
menimbulkan
dampak yang
tidak
baik.
*
Visi
dan misi
ini
harusnya melekat
di
setiap sanubari
masyarakat Bali
tidak
hanya dalam
kata-kata
namun
dalam tindakan
nyata.