kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 12 Oktober 2006

 Artikel


Masyarakat
Bali haruslah proaktif dalam memberikan masukan tentang kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah ini. Setiap proyek yang ditawarkan di Bali haruslah dikaji secara realitas dan faktual agar tidak bertentangan dengan budaya yang telah ada. Untuk kesinambungan pembangunan Bali, semua elemen masyarakat harus berpegang teguh pada visi dan misi yang telah ditetapkan. Yang menjadi persoalan adalah, sudahkan Bali memiliki visi dan misi tentang pembangunan ke depan?

-------------------

Mewujudkan Pembangunan Bali Berkesinambungan
Oleh
I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., MMA. 

ADA indikasi bahwa masyarakan Bali telah mengalami pergeseran gaya hidup, yang pada mulanya sangat teguh memegang konsep hidup harmonisasi antara alam, manusia, dan penciptanya ke arah mementingkan diri sendiri walaupun sepintas terlihat tempat-tempat suci keagamaan masih ramai dikunjungi oleh penganutnya masing-masing.

-----------------------------

Indikasi lainnya, masyarakat Bali telah mengalami bergeseran dari budaya conserver ke arah consumer, tidak peduli dampak negatif dari sebuah usaha yang dilakukan di Bali yang penting uang dan uang. Misalnya saja, beberapa puluh tahun yang lalu, sepeda gayung sangat populer di masyarakat sebagai kendaraan rakyat waktu itu. Coba kita lihat sekarang, sangat jarang kita lihat sepeda gayung di jalan raya. Coba bandingkan dengan negara Cina, Belanda, dan beberapa negara di Eropa. Mungkinkah Bali lebih maju dari mereka? Polusi udara dapat dikurangi, ketergantungan pada BBM juga dapat dikurangi. Bandingkan juga dengan India, mereka mau hidup menderita namun mereka tidak dililit utang seperti negara kita.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah budaya luhur nenek moyang kita berupa prinsip gotong royong dan kekeluargaan hanya tinggal semboyan saja? Kalau berbicara pembangunan, sepintas terlintas di benak kita adalah bangunan gedung, jalan raya, hotel dan sebagainya. Namun sebenarnya yang dimaksud pembangunan adalah menyadarkan diri bahwa hidup ini bukan untuk hari ini saja, tetapi untuk masa yang akan datang. Jika setiap individu yang hidup di Bali sadar bahwa hidup ini bukan hanya untuk hari ini saja, bukan hanya untuk dirinya saja, pastinya Bali ini akan tetap ajeg.

Para investor yang telah berbaik hati ikut membangun Bali secara phisik, tentunya sangat berjasa bagi masyarakat Bali. Sekarang yang menjadi persoalan adalah, sudahkan para investor memikirkan bahwa usaha yang dibangunnya di Bali harus tetap ajeg/sustainable? Pastilah mereka telah memikirkannya dan telah mengusahakannya. Perusahaan-perusahaan yang ada di Bali tidaklah hanya peduli pada kepentingan perusahaannya saja, tetapi harusnya peduli dengan lingkungan di mana mereka berusaha, ibarat seseorang yang memiliki angsa yang bertelur emas, si angsa harus dirawat dan dipelihara agar tetap bertelur sepanjang masa.

Harus ada gerakan bersama pada semua elemen masyarakat, dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum pejabat dan sebagainya. Jika yang peduli hanya satu atau dua elemen saja, pastilah usaha untuk ajeg Bali sangat susah untuk diwujudkan. Harus ada gerakan Care for all and Interinpendency, satu visi dan misi bersama untuk menyelamatkan Bali dari kepentingan sesaat. Kejadian-kejadian di daerah lain, seperti luapan lumpur panas, konflik pertambangan emas di Papua, dan konflik-konflik lainnya sudah cukup menjadi bukti bahwa kaum investor masih tergolong hanya mementingkan diri sendiri saja.

 

Masyarakat Proaktif

Masyarakat Bali haruslah proaktif dalam memberikan masukan tentang kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah ini. Setiap proyek yang ditawarkan di Bali haruslah dikaji secara realitas dan faktual agar tidak bertentangan dengan budaya yang telah ada. Misalnya saja, cocokkah di Bali dibangun pabrik miras?

Membuat program pembangunan yang meminimalkan  dampak negatif dan memaksimalkan pengaruh positifnya sehingga generasi yang akan datang tidak dibebani dengan kebobrokan dan kehancuran para pendahulunya. Program yang baik bukan karena banyaknya program, tetapi kualitas dari penyelesaian dari sebuah program. Pembangunan-pembangunan fisik masih dilakukan secara parsial, sehingga menimbulkan dampak yang tidak baik. Misalnya saja, kabel listrik, kabel telepon, saluran air seharusnya dapat ditempatkan dalam satu saluran, kenapa harus digali berkali-kali? Jalan raya yang berlubang-lubang, trotoar yang tidak berfungsi sungguh tidak mencirikan sebuah kota sebagai international tourism destination. 

Penomena pembangunan akhir-akhir ini di Bali sungguh membuat kita prihatin, sebab beberapa proyek yang ditawarkan oleh investor di Bali terkadang tidak sesuai dengan budaya dan tradisi di Bali. Mungkin saja investor tidak salah karena memang pemegang kebijakan di Bali tidak memiliki perencanaan yang jelas tentang pembangunan di daerahnya. Begitu juga  masyarakat dengan sangat mudahnya menjual tanah miliknya. Dalam konteks ini, tidak ada pihak yang dapat dibenarkan dan disalahkan. Untuk kesinambungan pembangunan Bali, semua elemen masyarakat harus berpegang teguh pada visi dan misi yang telah ditetapkan.

Yang menjadi persoalan adalah, sudahkah Bali memiliki visi dan misi tentang pembangunan ke depan? Visi dan misi ini harusnya melekat di setiap sanubari masyarakat Bali, tidak hanya dalam kata-kata namun dalam tindakan nyata.

 

Penulis, dosen Tetap STIM Dhyana Pura, mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN, tinggal di Leeuwarden, Belanda

 

---------------------------------

* Masyarakat Bali telah mengalami pergeseran gaya hidup

* Perlu gerakan semua elemen masyarakat untuk mendukung ajeg Bali.

* Pembangunan fisik masih dilakukan secara parsial sehingga menimbulkan dampak yang tidak baik.

* Visi dan misi ini harusnya melekat di setiap sanubari masyarakat Bali tidak hanya dalam kata-kata namun dalam tindakan nyata.

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)