Buntut
Pemblokiran
Setra
Cekik-Gablogan
...
Kecewa,
Setra
Ditetapkan Status Quo
Tabanan
(Bali Post) -
Pemkab
Tabanan
bersikap tegas
atas
kasus adat yang
terjadi
antara Desa
Pakraman
Gablogan
dan
Cekik.
Kasus
ini
mencuat setelah
terjadi
pemblokiran setra
oleh
pihak Cekik
Selasa (10/10)
lalu.
Rabu (11/10)
kemarin
di ruang
rapat
Bupati Tabanan,
diadakan
pertemuan
antara
Bupati dan
jajaran
Muspida serta 10
orang
perwakilan masyarakat
Gablogan
dan
Cekik yang dipimpin
Bupati
Adi Wiryatama.
Pertemuan
tertutup
itu
menghasilkan
lima
poin
keputusan.
Di
antaranya
sejak
pukul 11.00 wita
kemarin,
setra yang
disengketakan
ditetapkan status quo.
Siapa
pun tidak
boleh
melakukan kegiatan
di
setra tersebut
kecuali
diizinkan pemkab.
Sementara
setra
untuk masyarakat
Gablogan
akan
diusahakan
oleh
pemkab dan
masyarakat.
Soal
tapal
batas, pemkab
segera
menyelesaikannya dengan
melibatkan
tim
topografi
dari
Kodam IX/Udayana.
Seusai
diadakan
pertemuan,
Ketua DPRD
Tabanan I
Wayan
Sukaja membacakan
keputusan
tersebut
di
halaman
kantor bupati
didampingi
Bupati
Wiryatama dan
segenap
jajaran muspida.
Pihak
Gablogan yang sejak
awal
tampak kecewa
dengan
keputusan itu,
awalnya
bertahan
di
depan pos
Satpol PP
dan
tidak bersedia
mendekat.
Sementara
massa
Cekik yang
bertahan
di
bagian belakang
sebelah
kanan kantor
bupati
tidak turut
mendengarkan
pengumuman.
Segenap
jajaran
muspida diharapkan
mengamankan
keputusan
ini,''
ujar Sukaja
menutup
pembacaan keputusan.
Warga
yang tidak
puas
meminta kepada
Sukaja
untuk berbicara,
tetapi
tidak diizinkan
mengingat
keputusan
tersebut
sudah final.
Dengan
kecewa, ratusan
warga
Gablogan langsung
meninggalkan
kantor
bupati.
Bahkan, mereka
menolak
pengawalan yang
akan
dilakukan
oleh
pihak kepolisian.
Sementara
krama
adat Cekik
meninggalkan
halaman
kantor
bupati
sekitar satu jam
setelah
krama adat
Gablogan
pulang.
Beberapa
utusaan
warga Gablogan
mengaku
kecewa karena
pihaknya
tidak
diizinkan untuk
menyampaikan
aspirasi.
Mereka
sebenarnya
ingin
mengusulkan agar didahulukan
penyelesaian
tapal
batas, sebelum
diputuskan
pengupayaan
setra.
Usulan
lain yang diinginkan
adalah
mengambil jalan
tengah
yakni agar setra
dibagi
dua.
Pengadaan
setra
baru oleh
pemda
tidak terlalu
menggembirakan
pihak
Gablogan, karena
dianggap
bukan
merupakan solusi yang
diinginkan
sebagian
besar
warga. (upi)