kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 12 Oktober 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Pembangunam
Bali Melaju tanpa Perencanaan

PEMBANGUNAN Bali sampai saat ini sepertinya melaju pesat tanpa adanya sebuah perencanaan untuk menata Bali mau dibawa ke arah mana. Apalagi Bali sebagai daerah pariwisata yang terkenal di dunia, sehingga sampai terninabobokan oleh indahnya pariwisata itu sendiri. Memang bisa dikatakan terlambat apabila mengangkat konsep Tri Hita Karana, tetapi hal ini memang tidak bisa diabaikan. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan langsung Radio Global 96,5 FM Rabu (11/10) kemarin dan dipancarluaskan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

--------------------------------------------

Anggota DPRD Bali Ir. I Made Dauh Wijana menjelaskan, terkait wacana Bali tidak punya master plan terutama tentang investasi memang sedikit ada benarnya. Padahal, hendaknya pemprop membuat peta tentang investasi, karena selama ini kita belum memiliki seperti apa master plan investasi yang cocok di Bali sehingga sering kecolongan, seperti adanya proyek geothermal, apakah merupakan potensi investasi atau tidak, juga pabrik miras. Untuk saat ini Bali memang perlu mempersiapkan tentang master plan investasi yang sesuai dengan budaya Bali. Sejauh ini memang semua komponen masyarakat Bali terninabobokan oleh pariwisata. Maka setiap berbicara investasi di Bali maka hanya pada pariwisata tidak ada inovasi-inovasi baru karena mereka memang tidak melakukan pemetaan investasi yang cocok di Bali. Padahal masih banyak investasi menarik yang harus sudah dikembangkan di Bali dengan membuat suatu master plan, misalnya infrastruktur. Karena potensi investasi infrastuktur cukup tinggi terlihat misalnnya dari infrastruktur jalan.

Master plan Bali harus dibuat secara komprehensif misalnya pariwisata, seberapa jauh pariwisata yang dikembangkan. Artinya, paling tidak berapa tamu atau wisatawan yang akan kita harapkan ke Bali, sehingga tidak harus membuat fasilitas pariwisata terus-menerus. Dengan demikian kita sudah memiliki gambaran bahwa apabila kita membangun fasilitas hotel atau vila dibangun sejumlah volume ini sesuai dengan tata ruang.

Demikian juga harus dipikirkan pengkajian dari segi budaya. Bali tidak hanya cocok untuk pariwisata, tetapi juga sektor lain, misalnya pertanian. Master plan ini memang baru sebatas wacana, tetapi mau tidak mau kita ke depan harus membuat master plan sehingga tidak ada lagi proses-proses investasi yang membuat kita kecolongan dan benturan-benturan di kemudian hari. Bila perlu master plan yang dibuat disosialisasikan, dengan demikian akan mendapat masukan dari para praktisi, akademisi, tokoh masyarakat sehingga nanti benar-benar didapatkan master plan yang cocok dengan kondisi Bali yang dikatakan kecil, tidak memiliki SDA, hanya memiliki kebudayaan yang mampu menjadi potensi investasi. Mengenai waktu penyelesaian master plan diperkiraan tahun 2007.

Natri Udiani di Denpasar prihatin dengan Pulau Bali yang sudah sekian lama menjadi objek pariwisata tetapi tidak memiliki master plan, sungguh ironis. Artinya sistem pemerintahan di Bali amburadul. Ini sangat terlambat, Bali sudah bopeng dan hancur di mana-mana.

Dewa Sudarsana di Renon bertanya, apakah master plan sama dengan RUTR? Mungkin ada salah persepsi. RUTR memang dari dulu sudah ada. Kalau kita melihat RUTR dan pengembangan dari peruntukan wilayah di Bali memang harus ada master plan, tetapi master plan belum ada namun pembangunan Bali tetap berjalan dengan menganut konsep Tri Hita Karana. Master plan hanya pengembangan di saat Bali diserbu investor.

Agung Ngurah Putra di Tabanan mengatakan bahwa master palan Bali sudah ada sejak dulu. Sehingga dicurigai ke arah proyek.

Santa di Gianyar berpendapat Pulau Bali sudah bopeng kalau dikatakan terlambat ya, karena dari dulu majunya pariwisata Bali karena wisata alam baru ke budaya. Kini justru akar wisata tersebut dilupakan pemerintah. Masuknya investor menjepit saluran-saluran pertanian sehingga banyak lahan tidur. Lalu terlupakan sama sekali akarnya yakni alam kita yang kini sudah hancur lebur. Maka dari itu kalau pemerintah mau ada master plan ini maka kembalikan sedikit demi sedikit ke alam. * panca

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)