kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 1 Oktober 2006 tarukan valas
 

POTRET


Poetri Soehendro 
Mendongeng Mestinya Dilakukan oleh Banyak Wanita 

PADA masa kecil umumnya, jika kita mendengarkan cerita, itu akan membawa suatu suasana tersendiri. Apa pun ceritanya kalau diceritakan oleh orang yang kita percayai, maka itu dapat mengubah suasana. Suasana malam dari gelisah menjadi tenang, suasana pagi dari malas menjadi semangat, dan suasana siang dari bingung menjadi lebih terfokus. Sayang sekali, ilmu atau kebiasaan itu sudah tak banyak lagi di Indonesia. Untunglah di antara yang langka itu, ada seseorang yang masih membawakan tradisi story telling atau tradisi dongeng di radio, bahkan sekarang juga di panggung, di mana pun orang berminat mendengarkannya.

Tamu kita kali ini adalah salah satu pendongeng terkemuka di Indonesia saat ini, Poetri Soehendro. Poetri menyatakan, komunitas pendongeng profesional di Indonesia hanya berjumlah sekitar 10 orang. Poetri satu-satunya perempuan pendongeng. Hal ini menyedihkan dirinya karena mendongeng itu seharusnya dilakukan lebih banyak oleh wanita dengan naluri keibuannya. Wanita yang melahirkan, mereka yang membesarkan anak. Di sisi lain, mendongeng juga menghasilkan uang. Bayangkan saja wilayah Indonesia yang begitu luas hanya memiliki 10 pendongeng. Berikut petikan wawancara dengan Poetri Soehendro.

--------------

 

BAGAIMANA Anda bisa mempunyai keahlian mendongeng? Apakah itu dari pengalaman di rumah atau memang ada semacam keterampilan tertentu, studi tertentu untuk bercerita dongeng?

Awalnya dari sebuah morning show yang saya bawakan di sebuah radio. Saya semula harus membuat acara berisi tentang kultur selama satu bulan. Saya bingung karena selama sebulan harus membicarakan masalah budaya, jadi apa yang saya mesti bicarakan lagi di acara itu? Kemudian produser saya mengatakan, "Mendongeng saja, Put!"

 

Apakah sebelum diminta produser Anda sudah suka dunia dongeng?

Tidak, tidak. Saya jauh dari dunia dongeng, saya jauh dari anak-anak. Pada waktu itu sebetulnya saya tidak begitu memperhatikan dunia anak-anak. Namun sekarang menjadi sangat care.

 

Jadi, ini bukan dari pengalaman di rumah dibawa ke radio?

Di radio saya terpaksa membawakannya. Sebulan berturut-turut saya membawakan acara itu. Saya juga tidak mempunyai latar belakang teater atau drama untuk mengubah permainan suara.

 

Anda membawakan suara macam-macam sehingga orang seperti nonton film kartun yang karakternya tergambarkan oleh volume suara, nada, dan intonasi. Apakah setelah Anda mendongeng kemudian membuka referensi mengenai "how to tell a story"?

Iya, semula saya membawakannya cuma dengan membaca. Pada waktu saya bosan, saya berhenti. Saya tidak mau membacakan dongeng di radio. I feel stupid karena I don't know what I'm doing sebetulnya. Saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Tapi kemudian banyak telepon dari pendengar bahkan sampai ratusan. Semua bertanya, mengapa berhenti? Akhirnya saya mulai membawakannya, saya mulai mempelajarinya, saya mulai ke Google University (situs mesin pencari di internet, red). Jadi saya klik story telling. Wah, itu isinya macam-macam. Di situlah saya belajar dan di situlah saya tahu bahwa di luar Indonesia ternyata ratusan orang berprofesi sebagai pendongeng.

 

Di Eropa, biasanya di setiap desa kecil ada "story teller" yang hebat, yang bertahun-tahun berkuasa. Kalau sudah tua ada yang menggantikannya. Jadi sebagian dari tradisi kelompok-kelompok kota. Sekarang Anda sudah belajar di Google University. Apakah di Indonesia dulu tidak ada cerita tentang "story teller"? Bukankah dalang itu "story telling"?

Sebetulnya dalang itu adalah kelanjutan dari story telling. Saya percaya sekali itu. Kalau di Amerika, story teller biasanya bercerita di perpustakaan atau taman-taman. Pendengar atau penontonnya justru kebanyakan orang dewasa ketimbang anak-anak.

 

***

 

APAKAH Anda juga bermaksud memberikan metafor terhadap hal yang lebih luas melalui cerita?

Iya, sebetulnya itu. Jadi saya tidak mau menjadi pendongeng hanya untuk anak-anak, mengisi acara ulang tahun anak. Saya melihat dongeng adalah suatu ilmu dan keterampilan yang dahsyat yang memudahkan kita masuk ke dalam masyarakat. Apa pun pesan yang ingin kita sampaikan ke masyarakat, kita bisa masukkan tanpa orang merasa digurui, tanpa orang merasa dikhotbahi, tanpa orang merasa dipaksa untuk mengerti tentang sesuatu.

 

Apakah dalam mendongeng Anda mengaitkan dengan suatu situasi tertentu, mencari relevansi khusus, misalnya, cerita Lapindo, cerita flu burung, atau kontemporer?

Ya, dan itu saya mulai pada waktu pemilu. Saat itu banyak anak menanyakan, "Tante, nyoblos itu apa sih, pemilu apa sih?" Akhirnya, saya ceritakan mengenai sebuah kerajaan di hutan di mana si raja hutan sakit dan meninggal sehingga harus mencari penggantinya. Siapa yang seharusnya menjadi pengganti? Semua anak mengatakan, "Raja juga dong, Tante. Eh, siapa bilang jerapah bukannya tidak pandai memimpin hutan, dia hanya belum memiliki kesempatan saja." Sampai di akhir cerita anak-anak mengatakan, "Oh, kalau begitu, seperti pemilu sekarang ya, Tante." Saya jawab, "Iya betul." Jadi, jika pada pemilu waktu itu calon presidennya ada lima,  maka saya juga memakai contoh lima binatang. Karena itu saya sampai kuliah lagi dan kegiatan lainnya guna memperdalam dongeng ini.

 

Jadi, akhirnya boleh dikatakan Anda mengembangkan sendiri kemampuan di bidang pendongengan?

Iya dan saya juga ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa pendongeng itu tidak cuma hanya di ulang tahun anak lho.

 

Menurut Anda, apakah di acara ulang tahun anak-anak sekarang suka ada pendongeng?

Suka ada. Kadang-kadang saya suka mendapat telepon seperti ini, "Kan gini ya Mbak Poetri, anak saya takut badut, kayaknya Mbak Poetri juga lucu, boleh deh mendongeng." Nah, itu saya suka mengatakan bukannya saya tidak mau disamakan dengan badut karena badut juga memiliki keahlian tersendiri untuk menghibur anak. Tetapi dongeng ini berbeda. Dalam urusan mendongeng ini, saya sangat menggangap hal ini serius.

 

***

 

SETELAH menjadi pendongeng, apakah Anda melihat ada orang yang berusaha untuk melakukan hal sama atau Anda tetap sendiri?

Sekarang sih yang terhitung dengan jari cuma 10 pendongeng profesional. Saya satu-satunya perempuan pendongeng. Ini buat saya menyedihkan karena mendongeng itu seharusnya dilakukan lebih banyak oleh wanita dengan naluri keibuannya. Wanita yang melahirkan, mereka yang membesarkan anak. Tapi dari 10 pendongeng yang ada di Indonesia, sembilan laki-laki, saya sendiri perempuan. Banyak orang ingin mulai mencobanya, tetapi mungkin karena keadaan negara yang sudah susah, mereka suka bertanya, "Duitnya gede nggak sih Put?"

 

Apakah mendongeng ada duitnya?

Kalau saya mengatakannya dengan cara membayangkan begitu luasnya wilayah Indonesia, tapi kita cuma memiliki 10 pendongeng. Sekarang barangkali menjadi sembilan karena Kak Seto juga tidak terlalu aktif dan Pak Raden juga usianya sudah tua. Jadi 10 orang tersebut mendongeng untuk seluruh anak di Indonesia. Can you imagine? Jadi seharusnya ada duitnya.

 

Mekanismenya barangkali melalui pemerintah, melalui yayasan. Artinya, kita ada baiknya menyebarkan contoh-contoh dari Anda ini supaya siapa saja yang membaca ini bisa tergugah. Kalau tidak didanai agar bisa jalan, maka akan bisa punah. Pendapat Anda?

Sebetulnya, banyak pihak swasta yaitu sponsor mempergunakan tenaga pendongeng untuk promosi produk mereka dan selalu sukses ketika itu ditujukan untuk anak-anak dan ibu rumah tangga. Jadi, dongeng sering dijadikan alat untuk promosi. Tapi saya selalu mengatakan kepada pihak swasta, "Ayo dong bawa saya ke Sulawesi, ayo dong bawa saya ke Sumatera, ayo dong bawa saya ke Papua." Mereka pikir, "Ah sudahlah, sudah dagang di Surabaya juga sudah laku Bu, yuk pulang yuk."

 

Dalam mendongeng, apakah sebuah dongeng Anda hafalkan dari teks? Bagaimana caranya supaya menjadi lancar?

Saya bikin poin-poinnya saja. Jadi seperti pembicara di seminar saja, public speaking. Nanti kalau ada audience-nya, biasanya cerita bisa menjadi panjang. Kalau anak-anak  kelihatan sudah mengerti jalan ceritanya, maka dipotong pendek. Tapi kalau kelihatan anak-anaknya smart, mereka ingin ada elaborasi dan biasanya persoalannya dibuat lebih berat lagi. Jadi jelas mendongeng adalah kegiatan interaktif seperti public speaking dan ada reaksi.

 

Ketika mendongeng, Anda sangat memikat. Apakah Anda pernah pikirkan atau menyelidiki bagaimana pengaruh dongeng-dongeng itu jika dalam bentuk tertulis?

Kalau melihat di situs www.storytelling.com atau www.storyteller.com, jumlah yang mengunjunginya sangat tinggi. Betul, banyak sekali pengunjungnya. Mereka men-download cerita-cerita.

 

Apakah Anda sendiri punya koleksi dari dongeng yang diceritakan seperti dalam bentuk formal buku?

Ya, tapi saya mengarsipkan itu, bukan membukukannya. Saya punya hampir 200 cerita yang pernah saya bacakan di radio maupun di acara lainnya.

 

Apakah ada rencana untuk diterbitkan?

Ada rencana untuk diterbitkan, tetapi penerbit pernah bicara sama saya, "Put, jangan dijual deh ceritanya, tapi lebih baik dijual tipsnya mendongeng. Karena itu lebih berguna." Barangkali betul juga karena kekuatan cerita ada pada penyampaiannya, sedangkan ceritanya tidak semuanya asli dari saya. Jadi tips-tips mendongeng kalau dibukukan barangkali lebih berguna buat orang. (*)

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com