Poetri Soehendro
Mendongeng Mestinya Dilakukan oleh Banyak Wanita
PADA
masa kecil umumnya, jika kita mendengarkan cerita, itu akan
membawa suatu suasana tersendiri. Apa pun ceritanya kalau
diceritakan oleh orang yang kita percayai, maka itu dapat mengubah
suasana. Suasana malam dari gelisah menjadi tenang, suasana pagi
dari malas menjadi semangat, dan suasana siang dari bingung
menjadi lebih terfokus. Sayang sekali, ilmu atau kebiasaan itu
sudah tak banyak lagi di Indonesia. Untunglah di antara yang
langka itu, ada seseorang yang masih membawakan tradisi story
telling atau tradisi dongeng di radio, bahkan sekarang juga di
panggung, di mana pun orang berminat mendengarkannya.
Tamu kita kali ini adalah salah satu pendongeng
terkemuka di Indonesia saat ini, Poetri Soehendro. Poetri
menyatakan, komunitas pendongeng profesional di Indonesia hanya
berjumlah sekitar 10 orang. Poetri satu-satunya perempuan
pendongeng. Hal ini menyedihkan dirinya karena mendongeng itu
seharusnya dilakukan lebih banyak oleh wanita dengan naluri
keibuannya. Wanita yang melahirkan, mereka yang membesarkan anak.
Di sisi lain, mendongeng juga menghasilkan uang. Bayangkan saja
wilayah Indonesia yang begitu luas hanya memiliki 10 pendongeng.
Berikut petikan wawancara dengan Poetri Soehendro.
--------------
BAGAIMANA
Anda bisa mempunyai keahlian mendongeng? Apakah itu dari
pengalaman di rumah atau memang ada semacam keterampilan tertentu,
studi tertentu untuk bercerita dongeng?
Awalnya dari sebuah morning show yang saya bawakan
di sebuah radio. Saya semula harus membuat acara berisi tentang
kultur selama satu bulan. Saya bingung karena selama sebulan harus
membicarakan masalah budaya, jadi apa yang saya mesti bicarakan
lagi di acara itu? Kemudian produser saya mengatakan, "Mendongeng
saja, Put!"
Apakah sebelum diminta produser Anda sudah suka
dunia dongeng?
Tidak, tidak. Saya jauh dari dunia dongeng, saya
jauh dari anak-anak. Pada waktu itu sebetulnya saya tidak begitu
memperhatikan dunia anak-anak. Namun sekarang menjadi sangat care.
Jadi, ini bukan dari pengalaman di rumah dibawa ke
radio?
Di radio saya terpaksa membawakannya. Sebulan
berturut-turut saya membawakan acara itu. Saya juga tidak
mempunyai latar belakang teater atau drama untuk mengubah
permainan suara.
Anda membawakan suara macam-macam sehingga orang
seperti nonton film kartun yang karakternya tergambarkan oleh
volume suara, nada, dan intonasi. Apakah setelah Anda mendongeng
kemudian membuka referensi mengenai "how to tell a story"?
Iya, semula saya membawakannya cuma dengan membaca.
Pada waktu saya bosan, saya berhenti. Saya tidak mau membacakan
dongeng di radio. I feel stupid karena I don't know what I'm doing
sebetulnya. Saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Tapi kemudian
banyak telepon dari pendengar bahkan sampai ratusan. Semua
bertanya, mengapa berhenti? Akhirnya saya mulai membawakannya,
saya mulai mempelajarinya, saya mulai ke Google University (situs
mesin pencari di internet, red). Jadi saya klik story telling. Wah,
itu isinya macam-macam. Di situlah saya belajar dan di situlah
saya tahu bahwa di luar Indonesia ternyata ratusan orang
berprofesi sebagai pendongeng.
Di Eropa, biasanya di setiap desa kecil ada "story
teller" yang hebat, yang bertahun-tahun berkuasa. Kalau sudah tua
ada yang menggantikannya. Jadi sebagian dari tradisi
kelompok-kelompok kota. Sekarang Anda sudah belajar di Google
University. Apakah di Indonesia dulu tidak ada cerita tentang
"story teller"? Bukankah dalang itu "story telling"?
Sebetulnya dalang itu adalah kelanjutan dari story
telling. Saya percaya sekali itu. Kalau di Amerika, story teller
biasanya bercerita di perpustakaan atau taman-taman. Pendengar
atau penontonnya justru kebanyakan orang dewasa ketimbang
anak-anak.
***
APAKAH
Anda juga bermaksud memberikan metafor terhadap hal yang lebih
luas melalui cerita?
Iya, sebetulnya itu. Jadi saya tidak mau menjadi
pendongeng hanya untuk anak-anak, mengisi acara ulang tahun anak.
Saya melihat dongeng adalah suatu ilmu dan keterampilan yang
dahsyat yang memudahkan kita masuk ke dalam masyarakat. Apa pun
pesan yang ingin kita sampaikan ke masyarakat, kita bisa masukkan
tanpa orang merasa digurui, tanpa orang merasa dikhotbahi, tanpa
orang merasa dipaksa untuk mengerti tentang sesuatu.
Apakah dalam mendongeng Anda mengaitkan dengan
suatu situasi tertentu, mencari relevansi khusus, misalnya, cerita
Lapindo, cerita flu burung, atau kontemporer?
Ya, dan itu saya mulai pada waktu pemilu. Saat itu
banyak anak menanyakan, "Tante, nyoblos itu apa sih, pemilu apa
sih?" Akhirnya, saya ceritakan mengenai sebuah kerajaan di hutan
di mana si raja hutan sakit dan meninggal sehingga harus mencari
penggantinya. Siapa yang seharusnya menjadi pengganti? Semua anak
mengatakan, "Raja juga dong, Tante. Eh, siapa bilang jerapah
bukannya tidak pandai memimpin hutan, dia hanya belum memiliki
kesempatan saja." Sampai di akhir cerita anak-anak mengatakan,
"Oh, kalau begitu, seperti pemilu sekarang ya, Tante." Saya jawab,
"Iya betul." Jadi, jika pada pemilu waktu itu calon presidennya
ada lima, maka saya juga memakai contoh lima binatang.
Karena itu saya sampai kuliah lagi dan kegiatan lainnya guna
memperdalam dongeng ini.
Jadi, akhirnya boleh dikatakan Anda mengembangkan
sendiri kemampuan di bidang pendongengan?
Iya dan saya juga ingin menyampaikan kepada
masyarakat bahwa pendongeng itu tidak cuma hanya di ulang tahun
anak lho.
Menurut Anda, apakah di acara ulang tahun anak-anak
sekarang suka ada pendongeng?
Suka ada. Kadang-kadang saya suka mendapat telepon
seperti ini, "Kan gini ya Mbak Poetri, anak saya takut badut,
kayaknya Mbak Poetri juga lucu, boleh deh mendongeng." Nah, itu
saya suka mengatakan bukannya saya tidak mau disamakan dengan
badut karena badut juga memiliki keahlian tersendiri untuk
menghibur anak. Tetapi dongeng ini berbeda. Dalam urusan
mendongeng ini, saya sangat menggangap hal ini serius.
***
SETELAH
menjadi pendongeng, apakah Anda melihat ada orang yang berusaha
untuk melakukan hal sama atau Anda tetap sendiri?
Sekarang sih yang terhitung dengan jari cuma 10
pendongeng profesional. Saya satu-satunya perempuan pendongeng.
Ini buat saya menyedihkan karena mendongeng itu seharusnya
dilakukan lebih banyak oleh wanita dengan naluri keibuannya.
Wanita yang melahirkan, mereka yang membesarkan anak. Tapi dari 10
pendongeng yang ada di Indonesia, sembilan laki-laki, saya sendiri
perempuan. Banyak orang ingin mulai mencobanya, tetapi mungkin
karena keadaan negara yang sudah susah, mereka suka bertanya, "Duitnya
gede nggak sih Put?"
Apakah mendongeng ada duitnya?
Kalau saya mengatakannya dengan cara membayangkan
begitu luasnya wilayah Indonesia, tapi kita cuma memiliki 10
pendongeng. Sekarang barangkali menjadi sembilan karena Kak Seto
juga tidak terlalu aktif dan Pak Raden juga usianya sudah tua.
Jadi 10 orang tersebut mendongeng untuk seluruh anak di Indonesia.
Can you imagine? Jadi seharusnya ada duitnya.
Mekanismenya barangkali melalui pemerintah, melalui
yayasan. Artinya, kita ada baiknya menyebarkan contoh-contoh dari
Anda ini supaya siapa saja yang membaca ini bisa tergugah. Kalau
tidak didanai agar bisa jalan, maka akan bisa punah. Pendapat Anda?
Sebetulnya, banyak pihak swasta yaitu sponsor
mempergunakan tenaga pendongeng untuk promosi produk mereka dan
selalu sukses ketika itu ditujukan untuk anak-anak dan ibu rumah
tangga. Jadi, dongeng sering dijadikan alat untuk promosi. Tapi
saya selalu mengatakan kepada pihak swasta, "Ayo dong bawa saya ke
Sulawesi, ayo dong bawa saya ke Sumatera, ayo dong bawa saya ke
Papua." Mereka pikir, "Ah sudahlah, sudah dagang di Surabaya juga
sudah laku Bu, yuk pulang yuk."
Dalam mendongeng, apakah sebuah dongeng Anda
hafalkan dari teks? Bagaimana caranya supaya menjadi lancar?
Saya bikin poin-poinnya saja. Jadi seperti
pembicara di seminar saja, public speaking. Nanti kalau ada
audience-nya, biasanya cerita bisa menjadi panjang. Kalau
anak-anak kelihatan sudah mengerti jalan ceritanya, maka
dipotong pendek. Tapi kalau kelihatan anak-anaknya smart, mereka
ingin ada elaborasi dan biasanya persoalannya dibuat lebih berat
lagi. Jadi jelas mendongeng adalah kegiatan interaktif seperti
public speaking dan ada reaksi.
Ketika mendongeng, Anda sangat memikat. Apakah Anda
pernah pikirkan atau menyelidiki bagaimana pengaruh
dongeng-dongeng itu jika dalam bentuk tertulis?
Kalau melihat di situs www.storytelling.com atau
www.storyteller.com, jumlah yang mengunjunginya sangat tinggi.
Betul, banyak sekali pengunjungnya. Mereka men-download
cerita-cerita.
Apakah Anda sendiri punya koleksi dari dongeng yang
diceritakan seperti dalam bentuk formal buku?
Ya, tapi saya mengarsipkan itu, bukan membukukannya.
Saya punya hampir 200 cerita yang pernah saya bacakan di radio
maupun di acara lainnya.
Apakah ada rencana untuk diterbitkan?
Ada rencana untuk diterbitkan, tetapi penerbit
pernah bicara sama saya, "Put, jangan dijual deh ceritanya, tapi
lebih baik dijual tipsnya mendongeng. Karena itu lebih berguna."
Barangkali betul juga karena kekuatan cerita ada pada
penyampaiannya, sedangkan ceritanya tidak semuanya asli dari saya.
Jadi tips-tips mendongeng kalau dibukukan barangkali lebih berguna
buat orang. (*)