kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 22 Januari 2006 tarukan valas
 

OPINI

''Wall Street'' Jadi ''Main Street'' 

Bangsa Indonesia dilanda berbagai "demam". Ini menyebabkan mereka sulit istirahat, sulit tidur, bahkan sulit berpikir.  Sebab, ketika deretan demam biologis akibat bermacam virus masih melanda, demam-demam mentalitas akibat virus degradasi moral menyerang.

---------

 

PENYEBAR virus bukan lagi berupa nyamuk, burung maupun serangga, tapi hasil kebrilyanan manusia yang disebut teknologi informasi. Gigitannya langsung bersarang di otak-otak sasarannya, meskipun di antara mereka ada yang punya imunitas tubuh yang tinggi karena sering menyantap makanan bergizi.

 

Pikiran Rubag justru terserang virus abstrak berupa tanda tanya besar berbunyi "mengapa?". Mengapa bangsa yang kini berpopulasi 200 juta jiwa lebih dan memiliki warisan kebudayaan tinggi serta keramahtamahan yang mengagumkan ini, kok sekarang tak henti-hentinya ribut bahkan saling cabik antara sesamanya? Mengapa bangsa yang berdiam di hamparan Nusantara yang terkenal kesuburan dan kekayaan alamnya sehingga menjadi rebutan para penjajah di era kolonial, setelah 60 tahun merdeka seakan-akan dihuni gerombolan yang terserang kelaparan?

Mengapa negeri yang setiap tahunnya berhasil mewisuda ribuan sarjana, ratusan pascasarjana dan guru besar, kok atmosfirnya tetap diwarnai klenik dan bau kemenyan, sementara kesurupan, santet dan black magic masuk menyelusup ke gedung-gedung instansi terhormat mereka? Lucunya, Tim Pemburu Hantu (TPH) yang dibentuk sebuah stasiun televisi kelihatan lebih berhasil menempelkan stiker "Bebas Hantu" di beberapa rumah yang disteril kekuatan gaibnya, daripada pemburu koruptor yang hanya berhasil menempel "Presumption of Innocent". Mungkin para hantu tak suka menyuap mafia peradilan, sehingga memilih masuk ke botol-botol TPH, meski dengan risiko dilarung ke laut.

..

 

***

 

MENGAPA orang ribut-ribut masalah pornografi dan pornoaksi? Padahal, Rubag pikir, kecabulan (pornografi) dan perbuatan cabul (pornoaksi) adalah hakikat dari reproduksi yang menyebabkan dunia sarat beban. Kecabulan yang kian meningkat membuat populasi dunia mendekati jumlah tujuh milyar jiwa. Jutaan orang meninggal setiap hari oleh berbagai sebab, tapi yang lahir bisa jadi sekian kali lipat. Kerusuhan, kesulitan hidup, stres dan penyakit agaknya sulit menangguhkan desakan libidinal manusia, sehingga kopulasi tetap berlanjut di bawah teriknya penderitaan.

Tidak mencengangkan bila dalam Summa Theologiae 1:98,2; 1981, Vol.13: 156, ada kalimat berbunyi "Dalam hubungan seks manusia menjadi sama seperti binatang".

           Hubungan pornografi dan pornoaksi tak ubahnya relasi antara putih dan kuning telor. Tanpa putih atau kuning, telor tak bisa dipakai omlet atau dadar. Pun tanpa kecabulan atau perbuatan cabul, seksualitas sebagai reproduksi jabang-jabang bayi tak akan terjadi. Bila itu terjadi, sejarah manusia dan hewan terhenti, dinamika kehidupan akan diganti statika dunia flora yang berkembang biak hanya atas jasa angin dan air.

Dunia pucat tanpa dinamika seperti itu rupanya bukan dunia yang dikehendaki Tuhan, sehingga pada akhir ciptaanNya dimunculkanlah mahluk paling sempurna sesuai citraNya. Adam, nama mahluk tersempurna itu katanya masih merasa kesepian, sehingga Tuhan mencopot salah satu tulang rusuk kiri Adam, lalu dibanting ke tanah. Serpihan tulang itu berubah jadi mahluk serupa namun lain jenis yang diberi nama Hawa.

Para iblis yang merasa iri atas munculnya kedua mahluk yang mendapat privelese dan pujian dari Tuhan itu, membisikkan sesuatu ke telinga Hawa, "Eritis sicut Dei! Kamu pun bisa seperti Tuhan, asal kau mau mencuri dan mencicipi buah quldy". Hawa terpengaruh, sehingga terjadilah awal mula dosa yang menyebabkan keduanya terusir dari Taman Eden.

 "Coba saja Siti Hawa tidak mengikuti bisikan iblis atau hanya mencuri buah semangka berdaun sirih seperti tembang almarhum Broery, mungkin dunia tak sekacau sekarang. Gara-gara buah quldy, hawa nafsu manusia jadi meledak-ledak mirip birahi binatang, seperti dikatakan Summa Theologiae," gumam Rubag.

Akhir-akhir ini, aparat kepolisian sering sibuk mengurus perkara incest atau hubungan seksual sedarah sekandung yang bermotif perkosaan maupun sukarela. Belum lagi bayi-bayi yang lahir tanpa ayah karena dugaan sperma "didonasi" banyak pihak. Gara-gara dosa awal nenek moyang, cucu-cicit Siti Hawa secara historis selalu jadi korban penanggung beban.

 

***

 

TANPA sadar, Rubag terpengaruh budaya patriarkal yang terlalu mengistimewakan laki-laki sebagai mahluk yang steril dari dosa asal manusia, lalu ikut-ikutan mendiskreditkan wanita. Padahal, ketika menyaksikan tayangan televisi dari dua manusia lain jenis yang tanpa sehelai benang pun menutupi syahwatnya, mata Rubag hanya terfokus pada tubuh molek dari cucu Siti Hawa. Kisah itu konon merupakan wilful nostalgia dari manusia-manusia Millenium Ketiga atas perilaku kedua nenek moyangnya ketika masih jadi penghuni Taman Firdaus. Reifikasi, saat sebelum keduanya mencuri dan mencicipi buah terlarang, sehingga tidak kenal rasa malu, karena belum pernah bikin dosa.

Celakanya, kisah yang lebih cocok disebut simulakrum yang terjadi entah kapan itu, perulangannya justru dibuat saat dosa manusia sudah melebihi tebalnya litosfer. Kedua pelakonnya pun bukan manusia primitif yang diambil dari gua, bahkan pemeran Adamnya dimainkan aktor kaliber, mereka dari lingkungan jetset, yang lebih dikenal dengan kaum selebriti. Argumentasi menjelimet tentang estetika, kreativitas dan artistik mengaburkan batas antara kecabulan libidinal dan komersial, namun kenikmatan quldy lebih tertuang ke pihak Adam.

Ironisnya, protes hanya bergaung sesaat.

 Kebugilan tidak selalu tampil dalam bentuk plontos seperti bayi, juga lewat kemunculan seronok yang menonjolkan sexual appeal disertai desah suara merangsang para naratornya. Gambar-gambar hidup berpenampilan setengah telanjang yang diilustrasi narasi genit presenternya, nyaris menjadi primadona tayangan televisi secara merata dewasa ini. Persaingan bebas dan mekanisme pasar jadi alasannya. Meskipun ditayangkan saat tengah malam, namun mata anak-anak "papa dan mama" yang di setiap biliknya dilengkapi pesawat televisi, tentu tidak disegel setiap jam-jam tidur.

Bahkan sepulang sekolah sore hari, anak-anak disuguhi beragam acara gosip yang menelanjangi kisah kawin-cerai dan rahasia tempat tidur kalangan selebriti. Semua suguhan gosip, rumor atau sungguhan dalam masyarakat televisi adalah komoditas yang harus dikonsumsi.

Tata cara dan program tayangan ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat, kaya atau miskin. Makanya, tak jarang dalam tayangan kriminalitas ada kabar kakek sudah "bau tanah" dituduh menghamili cucu kandungnya sendiri.

Di tengah-tengah entropi seksualitas inilah di Indonesia akan dibuka cabang majalah Playboy dari Amerika Serikat. Padahal, negeri ini sudah memasuki suasana "Play Grand Papa". Bahkan, "Wall Street" sudah jadi "Main Street". Olala...

 

* aridus

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com