''Wall Street''
Jadi ''Main Street''
Bangsa
Indonesia dilanda berbagai "demam". Ini menyebabkan mereka sulit
istirahat, sulit tidur, bahkan sulit berpikir. Sebab, ketika
deretan demam biologis akibat bermacam virus masih melanda,
demam-demam mentalitas akibat virus degradasi moral menyerang.
---------
PENYEBAR virus bukan lagi berupa nyamuk, burung maupun
serangga, tapi hasil kebrilyanan manusia yang disebut teknologi
informasi. Gigitannya langsung bersarang di otak-otak sasarannya,
meskipun di antara mereka ada yang punya imunitas tubuh yang
tinggi karena sering menyantap makanan bergizi.
Pikiran Rubag
justru terserang virus abstrak berupa tanda tanya besar berbunyi "mengapa?".
Mengapa bangsa yang kini berpopulasi 200 juta jiwa lebih dan
memiliki warisan kebudayaan tinggi serta keramahtamahan yang
mengagumkan ini, kok sekarang tak henti-hentinya ribut bahkan
saling cabik antara sesamanya? Mengapa bangsa yang berdiam di
hamparan Nusantara yang terkenal kesuburan dan kekayaan alamnya
sehingga menjadi rebutan para penjajah di era kolonial, setelah 60
tahun merdeka seakan-akan dihuni gerombolan yang terserang
kelaparan?
Mengapa negeri
yang setiap tahunnya berhasil mewisuda ribuan sarjana, ratusan
pascasarjana dan guru besar, kok atmosfirnya tetap diwarnai klenik
dan bau kemenyan, sementara kesurupan, santet dan black magic
masuk menyelusup ke gedung-gedung instansi terhormat mereka?
Lucunya, Tim Pemburu Hantu (TPH) yang dibentuk sebuah stasiun
televisi kelihatan lebih berhasil menempelkan stiker "Bebas Hantu"
di beberapa rumah yang disteril kekuatan gaibnya, daripada pemburu
koruptor yang hanya berhasil menempel "Presumption of Innocent".
Mungkin para hantu tak suka menyuap mafia peradilan, sehingga
memilih masuk ke botol-botol TPH, meski dengan risiko dilarung ke
laut.
..
***
MENGAPA orang ribut-ribut masalah pornografi dan pornoaksi?
Padahal, Rubag pikir, kecabulan (pornografi) dan perbuatan cabul (pornoaksi)
adalah hakikat dari reproduksi yang menyebabkan dunia sarat beban.
Kecabulan yang kian meningkat membuat populasi dunia mendekati
jumlah tujuh milyar jiwa. Jutaan orang meninggal setiap hari oleh
berbagai sebab, tapi yang lahir bisa jadi sekian kali lipat.
Kerusuhan, kesulitan hidup, stres dan penyakit agaknya sulit
menangguhkan desakan libidinal manusia, sehingga kopulasi tetap
berlanjut di bawah teriknya penderitaan.
Tidak
mencengangkan bila dalam Summa Theologiae 1:98,2; 1981, Vol.13:
156, ada kalimat berbunyi "Dalam hubungan seks manusia menjadi
sama seperti binatang".
Hubungan pornografi dan pornoaksi tak ubahnya relasi antara putih
dan kuning telor. Tanpa putih atau kuning, telor tak bisa dipakai
omlet atau dadar. Pun tanpa kecabulan atau perbuatan cabul,
seksualitas sebagai reproduksi jabang-jabang bayi tak akan terjadi.
Bila itu terjadi, sejarah manusia dan hewan terhenti, dinamika
kehidupan akan diganti statika dunia flora yang berkembang biak
hanya atas jasa angin dan air.
Dunia pucat
tanpa dinamika seperti itu rupanya bukan dunia yang dikehendaki
Tuhan, sehingga pada akhir ciptaanNya dimunculkanlah mahluk paling
sempurna sesuai citraNya. Adam, nama mahluk tersempurna itu
katanya masih merasa kesepian, sehingga Tuhan mencopot salah satu
tulang rusuk kiri Adam, lalu dibanting ke tanah. Serpihan tulang
itu berubah jadi mahluk serupa namun lain jenis yang diberi nama
Hawa.
Para iblis yang
merasa iri atas munculnya kedua mahluk yang mendapat privelese dan
pujian dari Tuhan itu, membisikkan sesuatu ke telinga Hawa, "Eritis
sicut Dei! Kamu pun bisa seperti Tuhan, asal kau mau mencuri dan
mencicipi buah quldy". Hawa terpengaruh, sehingga terjadilah awal
mula dosa yang menyebabkan keduanya terusir dari Taman Eden.
"Coba saja
Siti Hawa tidak mengikuti bisikan iblis atau hanya mencuri buah
semangka berdaun sirih seperti tembang almarhum Broery, mungkin
dunia tak sekacau sekarang. Gara-gara buah quldy, hawa nafsu
manusia jadi meledak-ledak mirip birahi binatang, seperti
dikatakan Summa Theologiae," gumam Rubag.
Akhir-akhir ini,
aparat kepolisian sering sibuk mengurus perkara incest atau
hubungan seksual sedarah sekandung yang bermotif perkosaan maupun
sukarela. Belum lagi bayi-bayi yang lahir tanpa ayah karena dugaan
sperma "didonasi" banyak pihak. Gara-gara dosa awal nenek moyang,
cucu-cicit Siti Hawa secara historis selalu jadi korban penanggung
beban.
***
TANPA sadar, Rubag terpengaruh budaya patriarkal yang
terlalu mengistimewakan laki-laki sebagai mahluk yang steril dari
dosa asal manusia, lalu ikut-ikutan mendiskreditkan wanita.
Padahal, ketika menyaksikan tayangan televisi dari dua manusia
lain jenis yang tanpa sehelai benang pun menutupi syahwatnya, mata
Rubag hanya terfokus pada tubuh molek dari cucu Siti Hawa. Kisah
itu konon merupakan wilful nostalgia dari manusia-manusia
Millenium Ketiga atas perilaku kedua nenek moyangnya ketika masih
jadi penghuni Taman Firdaus. Reifikasi, saat sebelum keduanya
mencuri dan mencicipi buah terlarang, sehingga tidak kenal rasa
malu, karena belum pernah bikin dosa.
Celakanya,
kisah yang lebih cocok disebut simulakrum yang terjadi entah kapan
itu, perulangannya justru dibuat saat dosa manusia sudah melebihi
tebalnya litosfer. Kedua pelakonnya pun bukan manusia primitif
yang diambil dari gua, bahkan pemeran Adamnya dimainkan aktor
kaliber, mereka dari lingkungan jetset, yang lebih dikenal dengan
kaum selebriti. Argumentasi menjelimet tentang estetika,
kreativitas dan artistik mengaburkan batas antara kecabulan
libidinal dan komersial, namun kenikmatan quldy lebih tertuang ke
pihak Adam.
Ironisnya,
protes hanya bergaung sesaat.
Kebugilan
tidak selalu tampil dalam bentuk plontos seperti bayi, juga lewat
kemunculan seronok yang menonjolkan sexual appeal disertai desah
suara merangsang para naratornya. Gambar-gambar hidup
berpenampilan setengah telanjang yang diilustrasi narasi genit
presenternya, nyaris menjadi primadona tayangan televisi secara
merata dewasa ini. Persaingan bebas dan mekanisme pasar jadi
alasannya. Meskipun ditayangkan saat tengah malam, namun mata
anak-anak "papa dan mama" yang di setiap biliknya dilengkapi
pesawat televisi, tentu tidak disegel setiap jam-jam tidur.
Bahkan sepulang
sekolah sore hari, anak-anak disuguhi beragam acara gosip yang
menelanjangi kisah kawin-cerai dan rahasia tempat tidur kalangan
selebriti. Semua suguhan gosip, rumor atau sungguhan dalam
masyarakat televisi adalah komoditas yang harus dikonsumsi.
Tata cara dan
program tayangan ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat, kaya
atau miskin. Makanya, tak jarang dalam tayangan kriminalitas ada
kabar kakek sudah "bau tanah" dituduh menghamili cucu kandungnya
sendiri.
Di
tengah-tengah entropi seksualitas inilah di Indonesia akan dibuka
cabang majalah Playboy dari Amerika Serikat. Padahal, negeri ini
sudah memasuki suasana "Play Grand Papa". Bahkan, "Wall Street"
sudah jadi "Main Street". Olala...
* aridus