Keberanian
Prasyarat
Menuju
Pembaruan
Gerakan
yang sedang
menjadi trademark
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
dalam
perang melawan
terorisme,
korupsi
dan narkoba
perlu
juga keberanian
untuk
menghadapinya.
Ancaman
pembunuhan,
penculikan
Presiden,
Wakil
Presiden dan
para
pejabat itu,
menegaskan
adanya
intimidasi jahat.
Karenanya,
hanya
dengan keberanian
akan
menang
perang melawan
kejahatan
dan
rasa ketakutan
akan
semakin menyuburkan
kebejatan.
Dengan
informasi valid
intelijen
tentang
indikasi ancaman
itu,
mau tidak
mau
paspampres juga
petugas
keamanan lainnya
putar
otak.
Kian
berjibaku,
serius
menyikapi protokoler
semua
kegiatan/tugas RI-1 dan
RI-2 serta
petinggi
lainnya, agar
tidak
terjadi hal-hal yang
tidak
diinginkan.
Ujung-ujungnya
jubir
presiden Andi
Mallarangeng
mengimbau
supaya
masyarakat maklum
atas
perubahan friendliness
Presiden Yudhoyono
mengumbar
senyum,
membuka kaca
mobil
dan melambaikan
tangan
saat kunjungan
daerah.
Sungguh
sayang
sekali dengan
infleksibilitas
dan
depersonalisasi Presiden
ke-6 RI ini,
Sebab,
improvisasi sebelumnya
selama
ini, terbukti
sikap
itu sangat
positif.
Bermanfaat
untuk
terapi psikologis,
mujarab
bagi rakyatnya (yang
dikategorikan
dalam
kondisi sakit).
Sekurang-kurangnya
akan
berfungsi
menutup
sisi-sisi lemahnya
kepemimpinan
pada
laju roda
pemerintahannya.
Tetapi
rasanya
kita
sama paham
dan
tidak keberatan
karena
kondisi mengharuskan
begitu.
Akhirnya
tetap
kita sadari,
betapa
berartinya makna
suatu
keberanian itu
dalam
seluruh aspek
kehidupan.
Apalagi
penyandang
keberanian
itu
figur publik
terdepan.
Lebih
kita
khawatirkan dengan
pola
protokoler ketat
dan
serta birokratisnya
segala
urusan, tugas
dan
kegiatan kelembagaan
negara,
akan
banyak
terjadinya keterbengkelaian
dan
ketidaksempurnaan dalam
struktur,
operasional
dan
fungsional organisasi
besar yang
harus
dijalankan. Utamanya
yang perlu
dilakukan
secara
terbuka, misalnya,
dalam
suatu pertemuan
atau
rapat
akbar bersama
rakyat.
Pernyataan
jubir
presiden Andi
Malarangeng
menjamin
tidak
terjadinya kebuntuan
dan
melemahnya kinerja
pemerintahan
dalam
penerapan ketatnya
pengawalan
para
pejabat negara,
terkait
dengan upaya
menyikapi
ancaman
itu, baru
suatu
ikhtiar.
Praktik
pelaksanaan
dan di
lapangan
tersebut
memang
masih perlu
pembuktian.
Kondisi
bangsa
sekarang, masih
terus
sangat membutuhkan
kinerja
serius.
Rentannya
ekses
pengangguran, praktik
kejahatan,
kekhawatiran
akan
ketahanan
berbagai
sektor
kehidupan, nampaknya
cukup
beralasan, bila
kita
selalu mempertanyakan,
''bagaimana
seharusnya
dan apa
yang mendesak
perlu
dilakukan?''
Drs. Imam Muhayat
Lingk.Celuk
Benoa,
Kuta Selatan,
Badung