kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 2 Januari 2006

 Surat Pembaca


Keberanian
Prasyarat Menuju Pembaruan 

Gerakan yang sedang menjadi trademark Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam perang melawan terorisme, korupsi dan narkoba perlu juga keberanian untuk menghadapinya. Ancaman pembunuhan, penculikan Presiden, Wakil Presiden dan para pejabat itu, menegaskan adanya intimidasi jahat. Karenanya, hanya dengan keberanian akan menang perang melawan kejahatan dan rasa ketakutan akan semakin menyuburkan kebejatan.

Dengan informasi valid intelijen tentang indikasi ancaman itu, mau tidak mau paspampres juga petugas keamanan lainnya putar otak. Kian berjibaku, serius menyikapi protokoler semua kegiatan/tugas RI-1 dan RI-2 serta petinggi lainnya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ujung-ujungnya jubir presiden Andi Mallarangeng mengimbau supaya masyarakat maklum atas perubahan friendliness Presiden Yudhoyono mengumbar senyum, membuka kaca mobil dan melambaikan tangan saat kunjungan daerah. Sungguh sayang sekali dengan infleksibilitas dan depersonalisasi Presiden ke-6 RI ini, Sebab, improvisasi sebelumnya selama ini, terbukti sikap itu sangat positif. Bermanfaat untuk terapi psikologis, mujarab bagi rakyatnya (yang dikategorikan dalam kondisi sakit). Sekurang-kurangnya akan berfungsi menutup sisi-sisi lemahnya kepemimpinan pada laju roda pemerintahannya.

Tetapi rasanya kita sama paham dan tidak keberatan karena kondisi mengharuskan begitu. Akhirnya tetap kita sadari, betapa berartinya makna suatu keberanian itu dalam seluruh aspek kehidupan. Apalagi penyandang keberanian itu figur publik terdepan.

Lebih kita khawatirkan dengan pola protokoler ketat dan serta birokratisnya segala urusan, tugas dan kegiatan kelembagaan negara, akan banyak terjadinya keterbengkelaian dan ketidaksempurnaan dalam struktur, operasional dan fungsional organisasi besar yang harus dijalankan. Utamanya yang perlu dilakukan secara terbuka, misalnya, dalam suatu pertemuan atau rapat akbar bersama rakyat.

Pernyataan jubir presiden Andi Malarangeng menjamin tidak terjadinya kebuntuan dan melemahnya kinerja pemerintahan dalam penerapan ketatnya pengawalan para pejabat negara, terkait dengan upaya menyikapi ancaman itu, baru suatu ikhtiar. Praktik pelaksanaan dan di lapangan tersebut memang masih perlu pembuktian.

Kondisi bangsa sekarang, masih terus sangat membutuhkan kinerja serius. Rentannya ekses pengangguran, praktik kejahatan, kekhawatiran akan ketahanan berbagai sektor kehidupan, nampaknya cukup beralasan, bila kita selalu mempertanyakan, ''bagaimana seharusnya dan apa yang mendesak perlu dilakukan?''

Drs. Imam Muhayat
Lingk.Celuk
Benoa, Kuta Selatan, Badung

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)