Perekonomian 2006 masih Berat-------
Tarif Tetap, Target Pelindo Turun
Memasuki 2006, PT Pelindo III tidak mau gegabah. Meski
total pendapatan 2005 mencapai Rp 1,709 trilyun atau
laba Rp 305,495 milyar, perusahaan BUMN yang berkantor
pusat di Surabaya itu justru memproyeksikan target 2006
turun. Dalam rancangan kerja anggaran perusahaan (RKAP)
2006 Pelindo mematok target pendapatan Rp 1,673 trilyun
atau laba Rp 238,243 milyar. Mengapa targetnya turun?
============================
''Kami melihat tahun 2006, perekonomian masih berat.
Karena itulah target yang dipasang tidak melangit. Kami
ingin realistis dan tetap optimis menatap 2006,'' papar
Dirut PT Pelindo III Ir. Suprihat didampingi Direktur
Pemasaran dan Pengembangan Usaha Robert Sianipar dan
Direktur Personalia dan Umum DJ Dunda kepada Bali Post,
usai evaluasi kinerja akhir tahun 2005 di Surabaya,
Sabtu (31/12).
Mengapa PT Pelindo III mematok target pendapatan dan
laba 2006 turun? Ia menyatakan beberapa alasan mengapa
PT Pelindo III yang mengelola 19 pelabuhan ini terpaksa
menurunkan targetnya. Di antaranya, karena pada 2005 BBM
mengalami dua kali kenaikan (Maret dan Oktober-red),
tarif tidak akan dinaikkan sementara biaya operasional
bertambah. Di samping itu, juga ada penurunan tari CHC
dari 93 dolar menjadi 70 dolar pada November lalu.
''Dengan kondisi yang demikian terus terang sangat berat.
Daripada memasang target tingi tetapi tida tercapai
lebih baik target pendapatan dan laba diturunkan
sekalian,'' katanya.
Dengan diturunkannya target, katanya, diharapkan supaya
dapat bersaing dengan luar negeri.
Menurutnya, meski trafik arus kapal tidak pernah turun
dari tahun ke tahun tetapi kenaikan trafik antara 1-2 %.
Trafik arus kapal yang keluar masuk pelabuhan turun saa
krisis moneter pada 1998. Sedangkan setelah krismon
kenaikan trafik rata-rata dua persen/tahun. Sementara
biaya operasional naik karena kenaikan BBM hingga dua
kali dalam 2005.
Kunjungan Kapal
Selain menjelaskan proyeksi target 2006, Dirut Pelindo
III Suprihat juga mengungkapkan kunjungan kapal selama
2005 diperkirakan terealisasikan dua persen di atas
anggaran atau 79.460 unit. Sedangkan dari sisi
gros ton (GT) diperkirakan hanya mencapai 4% atau 194,45
juta GT.
Hal ini, kata dia, disebabkan turunnya kunjungan kapal
petikemas luar negeri dan adanya pembatalan kunjungan
kapal petikemas sehubungan dengan kerusakan CC di
Terminal Peti Kemas Semarang. Arus barang tahun 2005
terealisasi 82,35 ton dan 9,76 juta m3 atau 99% dan 93%
dari target anggaran. Tidak tercapainya target arus
barang ini disebabkan adanya penutupan beberapa industri
di Jatim dan Jateng serta adanya kebijakan illegal
logging.
Sementara arus peti kemas 2005 dalam boks dan TEUs
masing-masing 4% dan 5% di bawah target anggaran. Tidak
tercapainya arus peti kemas terutama di Terminal Peti
Kemas Semarang, PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI),
PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan cabang kota
baru. Penyebabnya karena beberapa kapal peti kemas
dengan GT yang lebih kecil.
Sementara arus penumpang 2005, katany, mencapai 2.98
juta orang atau 3% di bawah target anggaran. Penyebabnya
adanya perusahaan pilihan moda angkutan sebagai pengaruh
adanya kenaikan harga BBM.
(bam)