Pertumbuhan Ekonomi Bali Rendah-----
Muncul Penganggur Baru 89.640 Orang
Denpasar (Bali Post) -
Kondisi real pertumbuhan ekonomi Bali rata-rata dari
tahun 2001 s.d. 2004 baru bisa 3,46 persen dari
rata-rata yang dirancang 4,48 persen. Tingkat
pertumbuhan ekonomi Bali itu masih lebih rendah daripada
pertumbuhan ekonomi nasional mendekati 6 persen.
Konsekuensinya muncul pengangguran baru 89.640 orang.
Ketua Komisi C DPRD Bali Komang Budiarta, S.E. mengakui
pariwisata Bali pascabom Jimbaran dan Kuta amat
menyedihkan. ''Jangankan membicarakan anggaran dari APBD
untuk pemulihan pariwisata, strategi pemulihannya saja
belum pernah dibicarakan secara khusus di DPRD Bali,''
katanya, Sabtu (31/12) di Denpasar.
''Celakanya, pariwisata yang diharapkan mendongkrak
pertumbuhan ekonomi tahun 2005 justru semakin terpuruk
pascabom. Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan ekonomi masyarakat dan daerah,'' ujarnya.
Menurutnya, kondisi pemulihan kali ini jauh dibandingkan
tahun 2002. Dia menyesalkan tak ada inisiatif untuk
membahas pemulihan pariwisata, padahal sebagian besar
masyarakat Bali hidup dari bidang ini.
Rendahnya pertumbuhan ekonomi Bali sangat siginifikan
pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja. Padahal
tahun 2005 diharapkan mampu menyerap 97,90 persen.
Sampai akhir tahun 2004 persentase bekerja terhadap
angkata kerja baru 95,34 persen. ''Jadi ada penganggur
baru 89.640, belum termasuk tenaga kerja setengah
menganggur,'' katanya.
Diakui tahun 2006 masalah pengangguran adalah persoalan
sangat mendasar yang mesti disikapi, mengingat investasi
swasta yang diharapkan 63 persen, realisasi rata-ratanya
baru 48,30 persen. Ini berati peranan investasi dari
pemerintah masih cukup dominan.
Selain itu kesenjangan antardaerah dan kemiskinan di
Bali masih cukup tinggi. Kesenjangan antardaerah itu
ditunjukkan oleh kesenjangan tingkat PDRB per kapita
antarkabupaten/kota. PDRB terendah adalah Karangasem Rp
3,9 juta dan PDRB tertinggi Badung Rp 12,5 juta.
Ditinjau tingkat pertumbuhannya, daerah-daerah yang PDRB
per kapitanya tergolong rendah (Karangasem, Buleleng dan
Bangli) peningkatannya relatif sama dengan PDRB-nya
tertinggi (Badung, Denpasar dan Gianyar). Itu berarti
kesenjangan yang terjadi sejak lama hingga kini tetap
mengalami perubahan.
Selain itu, pemerataan sarana dan prasarana penunjang
pembangunan antarwilayah dirasakan sangat timpang.
Kondisi ini disebabkan kesenjangan dalam kemampuan PAD
setiap daerah. Badung tahun 2004 PAD-nya Rp 273,8 milyar,
sedangkan terendah Bangli Rp 7,14 milyar. Kondisi di
atas pada akhirnya melahirkan penduduk miskin yang
sangat timpang. Tertinggi jumlah Pra-KS di Karangasem
16.830 KK dan Buleleng 17.101 KK, sedangkan terendah
Badung 92 KK dan Denpasar 41 KK.
Dampak dari kesenjangan antardaerah dari sisi ekonomi
mempengaruhi indeks pembangunan manusia (IPM). Data
Badan Pusat Statistik Bali, IPM 2002 71,11. Artinya
pembangunan manusia Bali baru 71 persen dari angka
ideal. IPM di kabupaten/kota bervariasi. Denpasar
tertinggi 76,85 persen dan terendah Karangasem 62,72
persen.
Ditambahkannya, kerusakan lingkungan terutama di kawasan
budi daya dan lindung makin meluas. Kerusakan itu
terjadi karena lemahnya penegakan hukum. Banyak
pelanggaran perda tanpa diikuti tindakan hukum memadai
seperti pelanggaran tata ruang dan jalur hijau.
(029)