kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 2 Januari 2006

 Ekonomi


Pertumbuhan Ekonomi Bali Rendah-----

Muncul Penganggur Baru 89.640 Orang

Denpasar (Bali Post) -
Kondisi real pertumbuhan ekonomi Bali rata-rata dari tahun 2001 s.d. 2004 baru bisa 3,46 persen dari rata-rata yang dirancang 4,48 persen. Tingkat pertumbuhan ekonomi Bali itu masih lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi nasional mendekati 6 persen. Konsekuensinya muncul pengangguran baru 89.640 orang.

Ketua Komisi C DPRD Bali Komang Budiarta, S.E. mengakui pariwisata Bali pascabom Jimbaran dan Kuta amat menyedihkan. ''Jangankan membicarakan anggaran dari APBD untuk pemulihan pariwisata, strategi pemulihannya saja belum pernah dibicarakan secara khusus di DPRD Bali,'' katanya, Sabtu (31/12) di Denpasar.

''Celakanya, pariwisata yang diharapkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi tahun 2005 justru semakin terpuruk pascabom. Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi masyarakat dan daerah,'' ujarnya.

Menurutnya, kondisi pemulihan kali ini jauh dibandingkan tahun 2002. Dia menyesalkan tak ada inisiatif untuk membahas pemulihan pariwisata, padahal sebagian besar masyarakat Bali hidup dari bidang ini.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Bali sangat siginifikan pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja. Padahal tahun 2005 diharapkan mampu menyerap 97,90 persen. Sampai akhir tahun 2004 persentase bekerja terhadap angkata kerja baru 95,34 persen. ''Jadi ada penganggur baru 89.640, belum termasuk tenaga kerja setengah menganggur,'' katanya.

Diakui tahun 2006 masalah pengangguran adalah persoalan sangat mendasar yang mesti disikapi, mengingat investasi swasta yang diharapkan 63 persen, realisasi rata-ratanya baru 48,30 persen. Ini berati peranan investasi dari pemerintah masih cukup dominan.

Selain itu kesenjangan antardaerah dan kemiskinan di Bali masih cukup tinggi. Kesenjangan antardaerah itu ditunjukkan oleh kesenjangan tingkat PDRB per kapita antarkabupaten/kota. PDRB terendah adalah Karangasem Rp 3,9 juta dan PDRB tertinggi Badung Rp 12,5 juta. Ditinjau tingkat pertumbuhannya, daerah-daerah yang PDRB per kapitanya tergolong rendah (Karangasem, Buleleng dan Bangli) peningkatannya relatif sama dengan PDRB-nya tertinggi (Badung, Denpasar dan Gianyar). Itu berarti kesenjangan yang terjadi sejak lama hingga kini tetap mengalami perubahan.

Selain itu, pemerataan sarana dan prasarana penunjang pembangunan antarwilayah dirasakan sangat timpang. Kondisi ini disebabkan kesenjangan dalam kemampuan PAD setiap daerah. Badung tahun 2004 PAD-nya Rp 273,8 milyar, sedangkan terendah Bangli Rp 7,14 milyar. Kondisi di atas pada akhirnya melahirkan penduduk miskin yang sangat timpang. Tertinggi jumlah Pra-KS di Karangasem 16.830 KK dan Buleleng 17.101 KK, sedangkan terendah Badung 92 KK dan Denpasar 41 KK.

Dampak dari kesenjangan antardaerah dari sisi ekonomi mempengaruhi indeks pembangunan manusia (IPM). Data Badan Pusat Statistik Bali, IPM 2002 71,11. Artinya pembangunan manusia Bali baru 71 persen dari angka ideal. IPM di kabupaten/kota bervariasi. Denpasar tertinggi 76,85 persen dan terendah Karangasem 62,72 persen.

Ditambahkannya, kerusakan lingkungan terutama di kawasan budi daya dan lindung makin meluas. Kerusakan itu terjadi karena lemahnya penegakan hukum. Banyak pelanggaran perda tanpa diikuti tindakan hukum memadai seperti pelanggaran tata ruang dan jalur hijau. (029)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)