kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 2 Januari 2006

 Ekonomi


Catatan Ekonomi Sepekan-------------
Tahun Penuh Tantangan

Banyak orang menyambut suka cita pergantian ke tahun 2006. Optimisme memang muncul dari benak masing-masing individu. Harapannya satu: ingin hidup lebih baik. Sesungguhnya, di balik keyakinan itu ada tantangan berat yang bakal dihadapi sepanjang tahun 2006. Tekanan inflasi dan lonjakan suku bunga diperkirakan masih berlangsung sampai pertengahan tahun. Tingkat pengangguran dan kemiskinan yang menjadi barometer kehidupan lebih baik itu menjadi kabur.

==============

Berulangkali Bank Indonesia (BI) mengingatkan, ekonomi Indonesia baru bisa tumbuh setelah semester kedua 2006. Rupanya, kenaikan harga BBM yang sangat mencengangkan pada Oktober lalu terus berimbas sampai medio 2006. Inflasi masih akan bertengger di angka 15 persen, setidaknya sampai Agustus. Bisa dipastikan pada masa-masa itu kebijakan BI masih akan ketat. Seiring dengan itu, bunga bank tentu akan menyesuaikan diri. Akibatnya, sumber pembiayaan yang menjadi nafas bergerak sektor riil menjadi tersengal.

Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif tentu bukan sekadar pepesan kosong. Tanda-tanda itu mulai terlihat akhir tahun 2005 ini. Ribuan karyawan pabrik makanan terkemuka negeri ini bersiap menghadapi PHK. Di sektor perbankan, ada lima ribuan karyawan yang menunggu nasib serupa lantaran ada penutupan 58 kantor cabang. Jika disisir mendalam mungkin jumlahnya akan lebih besar lagi. Untuk menahan hal ini tak menjalar, tidak ada pilihan bagi pemerintah kecuali membuat terobosan luar biasa.

Sayangnya, itu sulit dilakukan di tengah kantong pemerintah yang cekak. Pemerintah, yang diharapkan bisa memberikan berbagai stimulus harus menanggung beban utang jatuh tempo pada 2006 sebesar Rp 91,6 trilyun. Sementara perbankan tetap saja sulit bergerak. Intermediasi yang lemah akibat pergolakan makro ekonomi tak bisa dihindari.

Sebagai dana tambalan atas bunga simpanan yang sulit ditahan akibat inefisiensi perbankan, membuat suku bunga kredit terus naik. Situasi sulit ini tak hanya mengancam sektor riil, tetapi secara internal juga mempengaruhi kinerja perbankan.
Tingginya bunga kredit yang tak diikuti pergerakan kemampuan masyarakat membuat angka kredit macet (NPL) perbankan melonjak. Ketidakmampuan debitor membayar cicilan utang jelas harus ditanggung perbankan dengan menyediakan dana cadangan lebih besar. Padahal, dana itu seharusnya bisa diputar lagi ke pemilik usaha agar terjadi intermediasi. Kecenderungan NPL yang meningkat sudah mulai terlihat pada triwulan kedua 2005.

Sampai September 2005 NPL sudah mencapai Rp 53 trilyun dengan rasio NPL gros mencapai 8,4 persen. Tingginya kredit bermasalah ini membuat bank makin berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya. Tak cuma itu, struktur pendanaan di industri perbankan sampai saat ini masih timpang. Antara dana tersimpan dan jenis pinjaman rata-rata memiliki waktu yang berbeda jauh.

Jika dana pihak ketiga (DPK) umumnya berbentuk tabungan, giro, deposito berumur satu sampai dua bulan, maka untuk kredit rata-rata berumur di atas satu tahun. Akibatnya, bank tidak memiliki ruang yang cukup untuk melakukan intermediasi lebih banyak lagi. Melihat kondisi ini, tak heran jika BI memperkirakan pertumbuhan kredit di 2006 hanya pada kisaran 15-20 persen, lebih rendah dari tahun ini yang diprediksikan menyentuh angka 22 persen.

Kini, harapan satu-satunya hanya bertumpu pada kearifan dan kejelian pemerintah membuat kebijakan publik. Pekan lalu, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono mengaku pemerintah siap menggalang stimulus, fiskal dan moneter utamanya pada semester pertama 2006. Katanya, langkah ini sangat penting sebagai landasan untuk memacu pertumbuhan ekonomi 2006.

Dengan berbagai stimulus itu diharapkan akan ada percepatan pertumbuhan ekonomi ketika memasuki semester kedua. Bersamaan dengan itu, pertumbuhan pada semester pertama akan dipacu melalui percepatan pencairan pinjaman luar negeri, baik pinjaman program senilai Rp 9,9 trilyun maupun proyek senilai Rp 25,2 trilyun. Dengan langkah cepat ini, pemerinah berharap ada pembalikan arah pertumbuhan yang selama ini melambat.
Meski begitu, ancaman tetap saja ada. Tekanan beban utang yang jatuh tempo pada 2006 bisa saja makin berat ketika harga minyak dunia diprediksikan terus melambung. Bila saja harga minyak mentah menembus dari asumsi pemerintah 57 dolar AS per barel tentu ini akan merubah semua asumsi yang lain.

Akankah hal ini harus dibayar oleh rakyat dengan menanggung kenaikan BBM, lagi? Yang jelas, saat ini saja tingkat pengangguran akibat lonjakan harga BBM sudah bisa membuat kita mengelus dada. Jumlah penangguran yang mencapai 11 juta atau 11 persen dari total angkatan kerja sudah begitu mengkhawatirkan. Angka itu di luar 30 juta orang yang dianggap setengah menanggur karena kerja kurang dari 35 jam per hari.

Bukan mustahil jumlah itu terus melambung seiring dengan beban ekonomi yang kian berat. Kita patut bertanya. Dalam kondisi keuangan negara cekak, makro yang belum stabil, kredit perbankan macet dan pergerakan sektor riil yang mengkhawatirkan akankah pemerintah bisa menekan pengangguran hinga lima persen di akhir 2009?

* ahmadi

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)