kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 2 Januari 2006

 Bali


RAPBD Badung 2006 Ketok Palu   --

Perlu
Pengamanan Proyek Nonfisik 

RAPBD Badung tahun 2006 akhirnya disahkan dengan sejumlah catatan penting, sekaligus koreksi oleh DPRD Badung pada anggaran yang seluruhnya bernilai Rp 535 milyar itu. Salah satu catatan penting itu adalah kegiatan proyek nonfisik yang menyerap anggaran relatif cukup tinggi dibandingkan proyek fisik yang mencapai ratusan milyar rupiah. Sejauh manakah nilai proyek nonfisik itu bagi pembangunan? 

---------------------------------------------------------

BANYAK koreksi yang dilakukan Dewan saat pembahasan RAPBD tahun 2006 yang nilainya setengah trilyun lebih itu. Akibatnya, muncul dana terkoreksi sampai Rp 40 milyar lebih. Meski angka itu lebih rendah sekitar Rp 10 milyar dari RAPBD tahun 2005, namun hasil koreksi itu tetap memunculkan perdebatan panjang dalam pemanfaatannya.

Menyikapi hal itu, dibentuklah tim kecil yang khusus membahas penggunaan anggaran tersebut selain hal-hal yang masih dirasakan belum memuaskan. Namun, dilihat dari pembahasan yang begitu alot, arahnya lebih banyak pada kegiatan fisik. Yang nonfisik seperti pembinaan dan penyuluhan, tampaknya kurang begitu tersentuh. Padahal proyek nonfisik ini memiliki sisi-sisi yang unik dan penting, yang semestinya mendapat perhatian khusus pula. ''Selain angka finansialnya cukup besar, hasil kerja proyek nonfisik ini sulit dilihat dalam jangka pendek,'' ujar anggota Dewan asal Badung Selatan, Disel Astawa maupun Puspa Negara.

Tanpa merinci nilainya, mereka mengatakan kegiatan nonfisik ini sangat penting bagi peningkatan kualitas SDM. Karena dengan SDM yang baik dan cakap kegiatan yang dilaksanakan bisa berhasil dengan baik pula. ''Kalau SDM-nya kendur maka tak mungkin hasil kerjanya bisa sesuai harapan,'' ujar Disel yang sejak awal sangat getol memperjuangkan peningkatan dana untuk sektor pendidikan.

Dia melihat memang dana pendidikan sudah bagus, yakni 23 persen lebih di atas rata-rata nasional yang hanya 20 persen. Namun, soal distribusi dana itu, sangat penting terutama dalam hal yang bersentuhan langsung dengan perbaikan kualitas SDM. Karena itu, ketika banyak muncul penggunaan anggaran untuk perbaikan kualitas di berbagai sektor, baik Disel maupun Puspa menilainya cukup positif. ''Cuma penggunaannya yang perlu diwaspadai dan diawasi secara ketat,'' ujarnya.

Pasalnya, menurut mereka hasil proyek nonfisik yang namanya penyuluhan, pembinaan maupun yang lainnya sulit dilihat dalam jangka pendek. Beda dengan proyek fisik yang begitu dikerjakan langsung bisa dilihat hasilnya. Mengingat begitu strategisnya kegiatan nonfisik, mereka berharap pelaksanaannya dilakukan secara sungguh-sungguh. Dewan bahkan akan melakukan pengawasan khusus atas kegiatan di lapangan sehingga bisa berjalan sesuai rencana.

 

Bagi-bagi Proyek

Selain proyek nonfisik, masalah proyek fisik tampaknya juga perlu mendapat perhatian. Sebab, ketika RAPBD disodorkan, sempat terjadi beda pandang sejumlah anggota Dewan. Mereka menilai pembagian proyek tak merata di tiap kecamatan. ''Ada kecamatan yang padat dengan proyek,'' jelas anggota Dewan.

Disel Astawa dari PDI-P Kuta Selatan mengakui kucuran proyek ke wilayahnya itu cukup besar. ''Kita melihat sudah cukup merata,'' jelasnya. Namun, dia menangkis kalau kucuran itu karena ada pejabat penting duduk di Pemkab Badung. ''Proyek ini jangan dikaitkan karena Wabup Badung dari Kuta Selatan,'' ujarnya.

Dia mengatakan proyek yang jatuh ke tiap kecamatan semestinya mengacu pada kebutuhan masyarakat dan hal-hal yang bisa menstimulir tumbuhnya ekonomi rakyat setempat. ''Jadi bukan lantaran ada orang penting di kawasan itu,'' tegasnya. Meski sebagai politisi, dia mengajak agar proyek yang jatuh ke masyarakat bisa memberi manfaat bagi pertumbuhan masyarakat terlebih dalam kondisi sulit saat ini.

Karena itu, katanya, hasil dana terkoreksi sebesar Rp 40 milyar tersebut diharapkan juga digulirkan untuk hal-hal yang bisa memperkuat pilar ekonomi rakyat. Selain untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan dan pengadaan air bersih, dana itu bisa digulirkan langsung kepada usaha-usaha ekonomi rakyat. ''Rakyat masih terbentur permodalan dalam berusaha,'' tambah Puspa. (lit)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)