RAPBD Badung 2006
Ketok
Palu --
Perlu
Pengamanan
Proyek
Nonfisik
RAPBD
Badung
tahun 2006 akhirnya
disahkan
dengan
sejumlah catatan
penting,
sekaligus
koreksi
oleh DPRD Badung
pada
anggaran yang seluruhnya
bernilai
Rp 535
milyar itu.
Salah
satu catatan
penting
itu adalah
kegiatan
proyek
nonfisik yang menyerap
anggaran
relatif
cukup tinggi
dibandingkan
proyek
fisik yang mencapai
ratusan
milyar rupiah.
Sejauh
manakah nilai
proyek
nonfisik itu
bagi
pembangunan?
---------------------------------------------------------
BANYAK
koreksi yang
dilakukan
Dewan
saat pembahasan RAPBD
tahun 2006 yang
nilainya
setengah
trilyun
lebih itu.
Akibatnya,
muncul
dana terkoreksi
sampai
Rp 40 milyar
lebih.
Meski angka
itu
lebih rendah
sekitar
Rp 10 milyar
dari RAPBD
tahun 2005,
namun
hasil koreksi
itu
tetap memunculkan
perdebatan
panjang
dalam pemanfaatannya.
Menyikapi
hal itu,
dibentuklah
tim
kecil yang khusus
membahas
penggunaan
anggaran
tersebut
selain
hal-hal yang masih
dirasakan
belum
memuaskan. Namun,
dilihat
dari pembahasan yang
begitu
alot, arahnya
lebih
banyak pada
kegiatan
fisik. Yang
nonfisik
seperti
pembinaan dan
penyuluhan,
tampaknya
kurang
begitu tersentuh.
Padahal
proyek nonfisik
ini
memiliki sisi-sisi
yang unik
dan
penting, yang semestinya
mendapat
perhatian
khusus pula. ''Selain
angka
finansialnya cukup
besar,
hasil kerja
proyek
nonfisik ini
sulit
dilihat dalam
jangka
pendek,'' ujar
anggota
Dewan asal
Badung
Selatan, Disel
Astawa
maupun Puspa Negara.
Tanpa
merinci
nilainya, mereka
mengatakan
kegiatan
nonfisik
ini
sangat penting
bagi
peningkatan kualitas
SDM. Karena
dengan SDM yang
baik
dan cakap
kegiatan yang
dilaksanakan
bisa
berhasil dengan
baik pula. ''Kalau
SDM-nya
kendur maka
tak
mungkin hasil
kerjanya
bisa
sesuai harapan,''
ujar
Disel yang sejak
awal
sangat getol
memperjuangkan
peningkatan
dana
untuk sektor
pendidikan.
Dia
melihat
memang dana
pendidikan
sudah
bagus, yakni 23
persen
lebih di
atas rata-rata
nasional yang
hanya 20
persen.
Namun, soal
distribusi
dana
itu, sangat
penting
terutama dalam
hal yang
bersentuhan
langsung
dengan
perbaikan kualitas
SDM. Karena
itu,
ketika banyak
muncul
penggunaan anggaran
untuk
perbaikan kualitas
di
berbagai sektor,
baik
Disel maupun
Puspa
menilainya cukup
positif. ''Cuma
penggunaannya yang
perlu
diwaspadai dan
diawasi
secara ketat,''
ujarnya.
Pasalnya,
menurut
mereka hasil
proyek
nonfisik yang namanya
penyuluhan,
pembinaan
maupun yang
lainnya
sulit dilihat
dalam
jangka pendek.
Beda
dengan proyek
fisik yang
begitu
dikerjakan langsung
bisa
dilihat hasilnya.
Mengingat
begitu
strategisnya kegiatan
nonfisik,
mereka
berharap pelaksanaannya
dilakukan
secara
sungguh-sungguh. Dewan
bahkan
akan melakukan
pengawasan
khusus
atas kegiatan
di
lapangan sehingga
bisa
berjalan sesuai
rencana.
Bagi-bagi
Proyek
Selain
proyek
nonfisik, masalah
proyek
fisik tampaknya
juga
perlu mendapat
perhatian.
Sebab,
ketika RAPBD disodorkan,
sempat
terjadi beda
pandang
sejumlah anggota
Dewan.
Mereka menilai
pembagian
proyek
tak merata
di tiap
kecamatan. ''Ada
kecamatan yang
padat
dengan proyek,''
jelas
anggota Dewan.
Disel
Astawa
dari PDI-P Kuta
Selatan
mengakui kucuran
proyek
ke wilayahnya
itu
cukup besar. ''Kita
melihat
sudah cukup
merata,''
jelasnya.
Namun,
dia menangkis
kalau
kucuran itu
karena
ada pejabat
penting
duduk di
Pemkab
Badung. ''Proyek
ini
jangan dikaitkan
karena
Wabup Badung
dari
Kuta Selatan,''
ujarnya.
Dia
mengatakan
proyek yang
jatuh
ke tiap
kecamatan
semestinya
mengacu
pada kebutuhan
masyarakat
dan
hal-hal yang bisa
menstimulir
tumbuhnya
ekonomi
rakyat setempat. ''Jadi
bukan
lantaran ada
orang
penting di
kawasan
itu,'' tegasnya.
Meski
sebagai politisi,
dia
mengajak agar proyek
yang jatuh
ke
masyarakat bisa
memberi
manfaat bagi
pertumbuhan
masyarakat
terlebih
dalam
kondisi sulit
saat
ini.
Karena
itu,
katanya, hasil
dana
terkoreksi sebesar
Rp 40
milyar tersebut
diharapkan
juga
digulirkan untuk
hal-hal yang
bisa
memperkuat pilar
ekonomi
rakyat. Selain
untuk
memperbaiki infrastruktur
seperti
jalan dan
pengadaan air
bersih,
dana itu
bisa
digulirkan langsung
kepada
usaha-usaha ekonomi
rakyat. ''Rakyat
masih
terbentur permodalan
dalam
berusaha,'' tambah
Puspa.
(lit)