kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Wage, 2 Januari 2006

 Bali


Perilaku
Ekonomi ''Krama'' Bali
harus
Kembali ke Jati Diri

Gianyar (Bali Post) -
Terpaan
arus globalisasi yang makin kuat telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan dan perilaku ekonomi krama Bali. Tanpa disadari, arus globalisasi itu secara perlahan membuat krama  Bali mulai meninggalkan jati diri dan budaya ekonomi yang berlandaskan kerja sama dan kekeluargaan.

Bupati Gianyar A.A. Gde Agung Bharata, S.H. mengatakan hal itu saat menutup Pelatihan Manajemen Sektor Informal (cara membuat bakso, sate, dan soto ayam) di Balai Budaya Gianyar, Minggu (1/1) kemarin.

Guna memperkokoh jati diri dan budaya ekonomi krama Bali itu, kata dia, sangat diperlukan adanya upaya-upaya untuk mempertahankan dan mengajegkan warisan yang telah diwariskan leluhur-leluhur krama Bali. Kehadiran Koperasi Krama Bali (KKB) di tengah-tengah masyarakat Bali merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu.

Harapan itu tidak mengada-ada mengingat KKB lahir dari intisari budaya ekonomi krama Bali yakni usaha bersama berasaskan kekeluargaan. ''Keberadaan KKB ini saya harapkan menjadi jawaban sekaligus penangkal atas memudarnya jati diri dan budaya ekonomi krama Bali tersebut,'' katanya penuh harap.

Bupati Bharata menambahkan kegiatan Pelatihan Manajemen Sektor Informal yang digelar KKB merupakan jawaban dan langkah kongkret untuk mempertahankan keajegan ekonomi krama Bali. Melalui pelatihan semacam ini, akan tumbuh jiwa wirausaha di kalangan krama Bali. Lantas, mereka mulai tertarik menekuni bidang usaha yang sebelumnya mereka anggap sulit untuk dilakukan. ''Saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ketua KKB karena telah memberikan kesempatan kepada krama Gianyar untuk mengikuti pelatihan ini,'' ujarnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Bharata meminta seluruh peserta pelatihan agar terus-menerus memperdalam materi pelatihan yang telah diperoleh dengan mengadakan uji coba resep utamanya bakso. Dengan begitu, kualitas masakan tersebut mampu memenuhi selera konsumen sehingga mampu memenangkan persaingan dengan produk-produk sejenis. ''Harapan saya, para peserta pelatihan dapat membuka usaha baru sehingga ada kegiatan usaha untuk menambah penghasilan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain itu, pembukaan usaha bakso ini juga bisa menampung tenaga kerja baru sehingga ikut berperan aktif dalam program pengentasan pengangguran,'' katanya lagi.

Pelatihan yang diikuti 71 orang peserta dari kalangan wirausahawan dan calon wirausahawan ini juga dihadiri Ketua KKB Satria Naradha dan Ketua Pengawas KKB Ida Bagus Teddy Prianthara. Penutupan pelatihan ini diakhiri dengan praktik membuat bakso, sate, dan soto ayam. (kmb13)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)