Perilaku
Ekonomi ''Krama''
Bali
harus
Kembali
ke Jati
Diri
Gianyar
(Bali Post) -
Terpaan
arus
globalisasi yang makin
kuat
telah mempengaruhi
sendi-sendi
kehidupan
dan
perilaku ekonomi
krama Bali.
Tanpa
disadari, arus
globalisasi
itu
secara perlahan
membuat
krama
Bali
mulai
meninggalkan jati
diri
dan budaya
ekonomi yang
berlandaskan
kerja
sama dan
kekeluargaan.
Bupati
Gianyar A.A.
Gde
Agung Bharata, S.H.
mengatakan
hal itu
saat
menutup Pelatihan
Manajemen
Sektor Informal (cara
membuat
bakso, sate, dan
soto
ayam) di
Balai
Budaya Gianyar,
Minggu (1/1)
kemarin.
Guna
memperkokoh
jati
diri dan
budaya
ekonomi krama Bali
itu,
kata dia,
sangat
diperlukan adanya
upaya-upaya
untuk
mempertahankan dan
mengajegkan
warisan yang
telah
diwariskan leluhur-leluhur
krama Bali.
Kehadiran
Koperasi
Krama Bali (KKB)
di
tengah-tengah masyarakat
Bali merupakan
salah
satu upaya
untuk
mewujudkan hal
itu.
Harapan
itu
tidak mengada-ada
mengingat KKB
lahir
dari intisari
budaya
ekonomi krama Bali
yakni
usaha bersama
berasaskan
kekeluargaan.
''Keberadaan
KKB ini
saya harapkan
menjadi
jawaban sekaligus
penangkal
atas
memudarnya jati
diri
dan budaya
ekonomi
krama
Bali tersebut,''
katanya
penuh harap.
Bupati
Bharata
menambahkan kegiatan
Pelatihan
Manajemen
Sektor Informal yang
digelar KKB
merupakan
jawaban
dan langkah
kongkret
untuk
mempertahankan keajegan
ekonomi
krama Bali.
Melalui
pelatihan semacam
ini,
akan
tumbuh
jiwa wirausaha
di
kalangan krama
Bali.
Lantas,
mereka
mulai tertarik
menekuni
bidang
usaha yang sebelumnya
mereka
anggap sulit
untuk
dilakukan.
''Saya
mengucapkan
terima
kasih yang setulus-tulusnya
kepada
Ketua KKB karena
telah
memberikan kesempatan
kepada
krama Gianyar
untuk
mengikuti pelatihan
ini,''
ujarnya.
Pada
kesempatan
itu,
Bupati Bharata
meminta
seluruh peserta
pelatihan agar
terus-menerus
memperdalam
materi
pelatihan yang telah
diperoleh
dengan
mengadakan uji
coba
resep utamanya
bakso.
Dengan
begitu,
kualitas masakan
tersebut
mampu
memenuhi selera
konsumen
sehingga
mampu
memenangkan persaingan
dengan
produk-produk sejenis.
''Harapan
saya,
para peserta
pelatihan
dapat
membuka usaha
baru
sehingga ada
kegiatan
usaha
untuk menambah
penghasilan
sehingga
dapat
meningkatkan kesejahteraan
keluarga.
Selain
itu,
pembukaan usaha
bakso
ini juga
bisa
menampung tenaga
kerja
baru sehingga
ikut
berperan aktif
dalam program
pengentasan
pengangguran,''
katanya
lagi.
Pelatihan
yang diikuti 71
orang
peserta dari
kalangan
wirausahawan
dan
calon wirausahawan
ini
juga dihadiri
Ketua KKB
Satria
Naradha dan
Ketua
Pengawas KKB Ida Bagus
Teddy Prianthara.
Penutupan
pelatihan
ini
diakhiri dengan
praktik
membuat bakso, sate,
dan
soto
ayam.
(kmb13)