kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 30 September 2005

 Aspirasi


Gerakan Pembaruan Reinkarnasi PDI-P...

Mampukah Menerkam Daging Banteng Gemuk Dalam Lingkaran?

Lahirnya sebuah partai baru menjadi harapan Pimpinan Kolektif Gerakan Pembaruan (GP) PDI-P di Bali setelah dikukuhkan beberapa waktu lalu di Singaraja. Gerakan pembaruan yang merupakan reinkarnasi dari sebuah partai politik yang bernama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menjadi catatan sejarah penting bagi perpolitikan yang tentu saja memberikan warna tersendiri bagi ibu kandungnya, PDI-P. Persoalannya apakah ''bayi'' yang akan lahir ini benar-benar diharapkan ibu kandungnya? Atau kelahirannya justru menggerogoti PDI-P? Bagaimana respons PDI-P atas lahirnya sebuah cikal bakal partai baru?

Gerakan pembaruan yang bercita-cita membangun sebuah demokrasi yang bersih di dalam tubuh PDI-P maupun seluruh kehidupan politik secara nasional cukup mendapat respons dari pentolan kader banteng mulut putih dalam lingkaran. Sejumlah mantan anggota legislatif di sejumlah kabupaten dan malah Wakil Bupati Klungkung Ngakan Bawa bercokol sebagai pengurus. Melihat daftar nama-nama yang dilantik oleh Pimpinan Kolektif GP PDI-P Roy BB Janis, banyak yang menaruh perhatian pada kehadiran partai berlambang banteng dalam lingkaran api? Bahkan, tak tanggung-tanggung Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Daerah PDI-P Bali IB Suryatmaja mengakui bahwa gerakan pembaruan potensial menggembosi PDI-P jika nantinya kehadirannya sebagai partai baru memiliki basis ideologi yang kuat.

Lebih-lebih ada keyakinan dari pengurusnya seperti Roy BB Janis, Laksamana Sukardi dan Sukowaluyo bahwa partai baru yang dibentuk akan dikelola lebih baik daripada PDI-P yang sekarang. Bahkan, secara terang-terangan disebutkan pada pelantikan di Gedung Kesenian Gede Manik Singaraja beberapa waktu lalu oleh Laksamana Sukardi bahwa kehadiran GP PDI-P ini merupakan sebuah reinkarnasi semangat perjuangan dari PDI-P. Untuk itu, Laksamana berpendapat, dalam konferensi nasional untuk membentuk partai baru, kualitasnya pun harus lebih jelas dari PDI-P. Maka AD/ART pun akan digodok dengan mendengarkan aspirasi para kadernya, sehingga muncul partai rakyat modern dan bersih.

Menurutnya, sebuah partai rakyat yang modern harus lahir dari kejernihan berdemokrasi. Mantan Menteri BUMN ini menyebut bahwa orang-orang di GP PDI-P pada dasarnya adalah kader-kader PDI-P yang tergeser dari gerbongnya dan merasa sudah waktunya untuk membuka harapan baru, tanpa harus merasa kalah dari masa lalunya. Laksamana Sukardi menganggap PDI-P selama ini sudah benar-benar keluar dari gerbong perjuangan yakni memperjuangkan rakyat kecil.

 

Gerogoti PDI-P

 

Lantas mampukah GP PDI-P itu menarik hati kader PDI-P di Bali untuk bisa bergabung dengan partai baru tersebut? Kalau melihat jumlah massa yang hadir dan pentolan PDI-P yang dilantik di Singaraja itu, tampaknya GP PDI-P memang harus diwaspadai. Di Buleleng sendiri, baru berdiri saja sudah diklaim mendapatkan massa 3.000 orang lebih sebagaimana dikatakan Ketua Pimpinan Kolektif Kabupaten (PKK) GP PDI-P Buleleng Gede Widnyana Dangin. ''Di daerah saya di Desa Kubutambahan saja terdapat 500 orang,'' katanya mengklaim.

Meski mengaku mendapat banyak pendukung, Widnyana Dangin membantah jika GP dikatakan menggerogoti PDI-P. Menurutnya, semua pilihan itu tergantung dari kader. "Semua tergantung suara rakyat, dan saya garis bawahi bahwa tidak ada kesengajaan untuk mencaplok sebagian daging dari banteng gemuk itu," tandasnya.

Widanyana Dangin, tokoh Kubutambahan yang dulunya dikenal sebagai kader militan mulai dari PNI, PDI hingga menjadi PDI-P sekarang ini, mengatakan gaung GP PDI-P saat ini belum menjadi sebuah gaung raksasa. Apa yang dijalankan GP PDI-P saat ini baru seperti air yang mengalir. Mengikuti dan mendengar serta menampung aspirasi dari para kader PDI-P dan sebatas menganalisis apa yang terjadi pada arus bawah kader banteng. "Prinsip saya, wangi bunga akan tercium dengan sendirinya karena kecantikan dan kemulusannya, begitu juga dengan visi dan misi GP PDI-P membangun partai rakyat modern yang suatu saat nanti akan tercium wangi dan kebersihannya oleh para kader," katanya.

Apalagi, menurutnya, partai yang dilahirkan nanti adalah partai untuk rakyat yang mengutamakan rasa nasionalisme, bersih, modern dan persatuan marhaenisme. Untuk menyambut lahirnya partai baru itu dan menggalang kekuatan, Widnyana Dangin bersama jajaran GP PDI-P Buleleng akan segera masuk ke kantong-kantong kader banteng di setiap kecamatan dan desa. "Sekalian mensosialisasikan keberadaan GP PDI-P," katanya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI-P Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan mengaku tak terlalu risau dengan kehadiran GP PDI-P yang digerakkan mantan rekannya di PDI-P, Widnyana Dangin dan Ketut Bagiada. Kader banteng dari Bungkulan ini malah mengaku lebih bergairah membesarkan PDI-P dengan adanya "saingan" dari GP tersebut.

Sukrawan mengaku sedikit pun tak merasa khawatir. Sebab, ia yakin GP itu akan kesulitan menggembosi PDI-P. Namun, Sukrawan tetap mewaspadai adanya anggota DPR atau DPRD yang masih aktif ikut mendukung GP PDI-P.

Anggota DPRD Buleleng dari Fraksi PDI-P Nyoman Adnyana, S.H. alias Benhur juga mengaku tidak khawatir terhadap kehadiran GP PDI-P di Buleleng. Meski sempat merasa kecewa dalam konfercab belum lama ini, tokoh PDI-P dari Buleleng Barat itu memastikan dirinya tak bakal meninggalkan PDI-P. Namun, apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya di GP PDI-P adalah sah-sah saja sebagai tempat beraspirasi. "Saya tidak akan pernah berkhianat kepada PDI-P. Saya tetap memilih PDI-P," kata Benhur yang dalam konfercab lalu menjadi saingan Dewa Nyoman Sukrawan dalam pemilihan ketua DPC. (ole)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)