Gerakan Pembaruan Reinkarnasi PDI-P...
Mampukah Menerkam Daging Banteng Gemuk Dalam Lingkaran?
Lahirnya sebuah partai baru menjadi harapan Pimpinan
Kolektif Gerakan Pembaruan (GP) PDI-P di Bali setelah
dikukuhkan beberapa waktu lalu di Singaraja. Gerakan
pembaruan yang merupakan reinkarnasi dari sebuah partai
politik yang bernama Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDI-P) menjadi catatan sejarah penting bagi
perpolitikan yang tentu saja memberikan warna tersendiri
bagi ibu kandungnya, PDI-P. Persoalannya apakah ''bayi''
yang akan lahir ini benar-benar diharapkan ibu
kandungnya? Atau kelahirannya justru menggerogoti PDI-P?
Bagaimana respons PDI-P atas lahirnya sebuah cikal bakal
partai baru?
Gerakan pembaruan yang bercita-cita membangun sebuah
demokrasi yang bersih di dalam tubuh PDI-P maupun
seluruh kehidupan politik secara nasional cukup mendapat
respons dari pentolan kader banteng mulut putih dalam
lingkaran. Sejumlah mantan anggota legislatif di
sejumlah kabupaten dan malah Wakil Bupati Klungkung
Ngakan Bawa bercokol sebagai pengurus. Melihat daftar
nama-nama yang dilantik oleh Pimpinan Kolektif GP PDI-P
Roy BB Janis, banyak yang menaruh perhatian pada
kehadiran partai berlambang banteng dalam lingkaran api?
Bahkan, tak tanggung-tanggung Wakil Ketua Dewan
Pertimbangan Daerah PDI-P Bali IB Suryatmaja mengakui
bahwa gerakan pembaruan potensial menggembosi PDI-P jika
nantinya kehadirannya sebagai partai baru memiliki basis
ideologi yang kuat.
Lebih-lebih ada keyakinan dari pengurusnya seperti Roy
BB Janis, Laksamana Sukardi dan Sukowaluyo bahwa partai
baru yang dibentuk akan dikelola lebih baik daripada PDI-P
yang sekarang. Bahkan, secara terang-terangan disebutkan
pada pelantikan di Gedung Kesenian Gede Manik Singaraja
beberapa waktu lalu oleh Laksamana Sukardi bahwa
kehadiran GP PDI-P ini merupakan sebuah reinkarnasi
semangat perjuangan dari PDI-P. Untuk itu, Laksamana
berpendapat, dalam konferensi nasional untuk membentuk
partai baru, kualitasnya pun harus lebih jelas dari PDI-P.
Maka AD/ART pun akan digodok dengan mendengarkan
aspirasi para kadernya, sehingga muncul partai rakyat
modern dan bersih.
Menurutnya, sebuah partai rakyat yang modern harus lahir
dari kejernihan berdemokrasi. Mantan Menteri BUMN ini
menyebut bahwa orang-orang di GP PDI-P pada dasarnya
adalah kader-kader PDI-P yang tergeser dari gerbongnya
dan merasa sudah waktunya untuk membuka harapan baru,
tanpa harus merasa kalah dari masa lalunya. Laksamana
Sukardi menganggap PDI-P selama ini sudah benar-benar
keluar dari gerbong perjuangan yakni memperjuangkan
rakyat kecil.
Gerogoti PDI-P
Lantas mampukah GP PDI-P itu menarik hati kader PDI-P di
Bali untuk bisa bergabung dengan partai baru tersebut?
Kalau melihat jumlah massa yang hadir dan pentolan PDI-P
yang dilantik di Singaraja itu, tampaknya GP PDI-P
memang harus diwaspadai. Di Buleleng sendiri, baru
berdiri saja sudah diklaim mendapatkan massa 3.000 orang
lebih sebagaimana dikatakan Ketua Pimpinan Kolektif
Kabupaten (PKK) GP PDI-P Buleleng Gede Widnyana Dangin.
''Di daerah saya di Desa Kubutambahan saja terdapat 500
orang,'' katanya mengklaim.
Meski mengaku mendapat banyak pendukung, Widnyana Dangin
membantah jika GP dikatakan menggerogoti PDI-P.
Menurutnya, semua pilihan itu tergantung dari kader. "Semua
tergantung suara rakyat, dan saya garis bawahi bahwa
tidak ada kesengajaan untuk mencaplok sebagian daging
dari banteng gemuk itu," tandasnya.
Widanyana Dangin, tokoh Kubutambahan yang dulunya
dikenal sebagai kader militan mulai dari PNI, PDI hingga
menjadi PDI-P sekarang ini, mengatakan gaung GP PDI-P
saat ini belum menjadi sebuah gaung raksasa. Apa yang
dijalankan GP PDI-P saat ini baru seperti air yang
mengalir. Mengikuti dan mendengar serta menampung
aspirasi dari para kader PDI-P dan sebatas menganalisis
apa yang terjadi pada arus bawah kader banteng. "Prinsip
saya, wangi bunga akan tercium dengan sendirinya karena
kecantikan dan kemulusannya, begitu juga dengan visi dan
misi GP PDI-P membangun partai rakyat modern yang suatu
saat nanti akan tercium wangi dan kebersihannya oleh
para kader," katanya.
Apalagi, menurutnya, partai yang dilahirkan nanti adalah
partai untuk rakyat yang mengutamakan rasa nasionalisme,
bersih, modern dan persatuan marhaenisme. Untuk
menyambut lahirnya partai baru itu dan menggalang
kekuatan, Widnyana Dangin bersama jajaran GP PDI-P
Buleleng akan segera masuk ke kantong-kantong kader
banteng di setiap kecamatan dan desa. "Sekalian
mensosialisasikan keberadaan GP PDI-P," katanya.
Sementara itu, Ketua DPC PDI-P Buleleng Dewa Nyoman
Sukrawan mengaku tak terlalu risau dengan kehadiran GP
PDI-P yang digerakkan mantan rekannya di PDI-P, Widnyana
Dangin dan Ketut Bagiada. Kader banteng dari Bungkulan
ini malah mengaku lebih bergairah membesarkan PDI-P
dengan adanya "saingan" dari GP tersebut.
Sukrawan mengaku sedikit pun tak merasa khawatir. Sebab,
ia yakin GP itu akan kesulitan menggembosi PDI-P. Namun,
Sukrawan tetap mewaspadai adanya anggota DPR atau DPRD
yang masih aktif ikut mendukung GP PDI-P.
Anggota DPRD Buleleng dari Fraksi PDI-P Nyoman Adnyana,
S.H. alias Benhur juga mengaku tidak khawatir terhadap
kehadiran GP PDI-P di Buleleng. Meski sempat merasa
kecewa dalam konfercab belum lama ini, tokoh PDI-P dari
Buleleng Barat itu memastikan dirinya tak bakal
meninggalkan PDI-P. Namun, apa yang dilakukan oleh
rekan-rekannya di GP PDI-P adalah sah-sah saja sebagai
tempat beraspirasi. "Saya tidak akan pernah berkhianat
kepada PDI-P. Saya tetap memilih PDI-P," kata Benhur
yang dalam konfercab lalu menjadi saingan Dewa Nyoman
Sukrawan dalam pemilihan ketua DPC.
(ole)