Hampir
82% kebutuhan BBM
adalah
untuk
transportasi.
Seharusnya
kebijakan
jangka
pendek
segera
diikuti
dengan
kebijakan
jangka
panjang yang
menyasar
kepada
bagaimana
mengurangi
penggunaan BBM
untuk
sektor
transportasi.
------------------------------
Strategi
'Menghalau'
Krisis BBM
Oleh
I Made Rai
Ridartha, ATD,
Dipl.UG,MEngSc
KETIKA
di
sejumlah SPBU di
berbagai
daerah
mulai
terjadi
antrean
panjang,
maka
itu
pertanda ada
permasalahan
dengan BBM.
Yang jelas
bukan
karena
harga BBM
dinaikkan,
tetapi
akibat
minimnya
pasokan BBM
terhadap SPBU-SPBU
tersebut.
Tidak
perlu
dijelaskan
mengapa
demikian,
karena
sejatinya
saat
ini
memang kita
lagi
kekurangan
stok
sehingga
perlu
dilakukan
pembagian
pasokan yang
merata
untuk
seluruh
wilayah.
-------------------------------------------
Kebutuhan
BBM nasional
mencapai 1,1
juta
barel per
hari.
Dari jumlah
tersebut 900
ribu
barel
diserap
untuk
kebutuhan
sektor
transportasi.
Sungguh
suatu
angka yang
fantastis,
bahwa BBM
sejumlah
itu 'menguap'
setiap
harinya.
Selain
itu 'kehilangan'
uang
sejumlah
harga BBM
tersebut,
kita
juga
mengalami
kerugian
karena
terjadinya
penurunan
kualitas
udara
akibat
polusi yang
dihasilkan
oleh
alat
transportasi.
Situasi
ini
juga diperparah
dengan
adanya
berita yang
menyedihkan,
bahwa
ketua
Gaikindo
menyatakan
bahwa
dalam
tahun 2005
ditargetkan
terjual 550
ribu unit
kendaraan.
Dapat
dibayangkan
berapa
banyak
lagi BBM yang
dibutuhkan
untuk
menggerakkan
alat
transportasi
tersebut.
Jika
diasumsikan
masing-masing
kendaraan
tersebut
membutuhkan 10 liter per
hari
untuk
operasionalnya,
maka
akan
terjadi
tambahan
permintaan BBM
sebanyak 5.500.000
liter/hari
atau
kira-kira
setara
dengan
pasokan
untuk 230 SPBU
(rata-rata 30 ton untuk
tiap SPBU).
Artinya
juga
bahwa
untuk
memasok BBM
sebanyak
itu
ke sejumlah SPBU
tersebut
diperlukan paling
sedikit
sebanyak 690
truk
tanki yang
berkapasitas 8.000
liter.
Tentu
pendistribusian
ini pun
memerlukan BBM.
Walaupun
angka-angka
ini
lahir dari
perhitungan
kasar,
tapi
dampaknya
cukup
nyata
bahwa
tambahan unit
kendaraan
tersebut
merupakan
tantangan
kita
dalam
upaya
penghematan
penggunaan BBM.
Presiden
Susilo
Bambang
Yudhoyono
mengeluarkan
Inpres No. 10
Tahun 2005
tentang
Penghematan
Energi
dengan target
solusi
jangka
pendek.
Sasaran
Inpres
ini
adalah aparat
pemerintah
secara
keseluruhan
untuk
melakukan
penghematan
energi,
misalnya
dicontohkan
untuk
mengurangi
penggunaan AC,
penerangan,
peralatan yang
menggunakan
listrik
serta
penggunaan
kendaraan
dinas.
Selain
itu
diharapkan juga
seluruh
aparat
pemerintah agar
mensosialisasikannya
kepada
masyarakat
luas
dan
perusahaan swasta.
Apakah
strategi
ini
akan
berhasil? Paling
tidak
untuk
jangka
pendek
akan
menampakkan
hasil
walaupun
mungkin
sangat
kecil.
Strategi
Jangka
Panjang
Bagaimana
untuk
keberhasilan
jangka
panjang?
Inpres
tersebut
tentu
tidak
cukup
perkasa
untuk
mengurangi
beban
pemerintah
dalam
rangka
mengurangi
penggunaan BBM.
Bayangkan
saja,
hampir 82%
kebutuhan BBM
adalah
untuk
transportasi.
Seharusnya
kebijakan
jangka
pendek
segera
diikuti
dengan
kebijakan
jangka
panjang yang
menyasar
kepada
bagaimana
mengurangi
penggunaan BBM
untuk
sektor
transportasi.
Kita
ketahui bahwa
sektor
transportasi
merupakan
urat
nadi
perekonomian
dan
tidak dapat
dipisahkan
dari
aktivitas
masyarakat.
Namun
perlu
dipikirkan
bagaimana
semua
itu
dapat berjalan
dengan
efisien.
Hingga
saat
ini
belum ada
kebijakan
untuk
mengurangi
kepemilikan
kendaraan
bermotor.
Bahkan
cenderung
untuk
dipacu
produksinya.
Buktinya
target Gaikindo
untuk
menjual 550
ribu unit
kendaraan
diyakini
akan
dapat
dicapai.
Pemandangan
penjualan
sepeda motor
bak
kacang goreng
laris
manis
berapa pun
jumlah yang
dikirim.
Deretan
pembeli
dengan
sistem
inden
juga
terjadi
di
mana-mana, terutama
untuk
produk-produk
baru
dan yang
lagi
ngetrend.
Fenomena
ini
kerap muncul
karena
dipicu
oleh
buruknya
pelayanan
angkutan
umum.
Ternyata
secara
ekonomis,
memiliki
kendaraan
sendiri
jauh
lebih
efektif
dan
efisien daripada
bergantung
kepada
pelayanan
angkutan
umum.
Bila
sulit
mengembangkan
kebijakan
untuk
membatasi
secara
langsung
kepemilikan
kendaraan,
maka
perlu
dikembangkan
kebijakan lain
namun
memiliki target yang
sama,
yaitu
mengurangi
dan
membatasi kepemilikan
kendaraan
secara
tidak
langsung. Yang
dapat
dilakukan
adalah
membatasi
penggunaan
kendaraan
dengan
berbagai
cara
dan
strategi.
Yang paling umum
dikembangkan
adalah
dengan
membatasi
waktu
dan
ruang parkir.
Dengan
demikian
pemilik
kendaraan
akan
mengalami
kesulitan
untuk
menemukan
tempat
parkir,
jika pun
dapat,
waktu
parkirnya
sangat
terbatas.
Situasi
ini
akan
mendorong
orang
menjadi
enggan
untuk
menggunakan
kendaraan
pribadi yang
pada
akhirnya
akan
menyebabkan
mereka
dan
calon pemilik
kendaraan
pribadi
memutuskan
untuk
tidak
membeli
kendaraan.
Diakui
bahwa
kebijakan
ini
akan
menimbulkan
kerugian
pada
beberapa
sektor
terutama
perolehan
pajak (BBNKB
dan PKB)
dan
retribusi (parkir).
Namun
bila
kita
cermat
menghitungnya,
maka
keuntungan yang
akan
diperoleh
jauh
lebih
besar.
Pertama,
keuntungan
akan
datang
dari
penghematan BBM yang
cukup
signifikan.
Kedua
keuntungan
diperoleh
dari
terhindarnya
kerusakan
terhadap
udara
dan
lingkungan akibat
polusi
alat
transportasi yang
mungkin
nilainya
sangat
tinggi.
Mengacu
dari
situasi
diatas,
maka
ada
dua kemungkinan
yang akan
terjadi.
Pertama,
bila
kita
tetap
dalam
situasi
seperti
saat
ini,
yaitu
adanya
kebebasan
dan
kemudahan untuk
memiliki
kendaraan
pribadi
dan
kebebasan penggunaannya
maka
diyakini
krisis BBM
akan
berkepanjangan
hingga
stok
dan
cadangan BBM habis
dalam
waktu
singkat.
Kedua,
bila
segera
dikembangkan
kebijakan
jangka
panjang yang
dikombinasikan
dengan
peningkatan
pelayanan
transportasi
publik yang
memadai,
maka
krisis BBM
akan
segera
berlalu
dan
kita masih
punya
banyak
waktu
sebelum
stok
dan
cadangan BBM habis.
Walaupun
demikian,
pilihan
apa
pun yang dipilih
tetap
saja
kita
tidak
boleh
mengandalkan
pada BBM
saja.
Perlu
dipikirkan
dan
dicari solusinya
untuk
menyiapkan
dan
memasyarakatkan
penggunaan bahan
bakar
alternatif.
Penulis,
PNS pada
Dinas
Perhubungan
Propinsi Bali
dan
Ketua II Masyarakat
Transportasi Indonesia (MTI)
Daerah Bali