kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 30 September 2005

 Tajuk

 

Rakyat Seolah Kehilangan Kepercayaan 

BELAKANGAN ini banyak antrean di pompa-pompa bensin menyusul rencana kenaikan harga BBM per 1 Oktober. Itu terjadi di Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Sepanjang yang mampu kita tangkap, pengumuman kenaikan harga BBM yang dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, tetap mengandung unsur positif. Artinya, pemerintah berupaya terbuka dan jujur kepada masyarakat bahwa kenaikan harga itu pasti dilakukan tanggal 1 Oktober. Pemerintah berharap agar masyarakat memahami maknanya jika kenaikan ini tidak bisa dihindari karena akumulasi berbagai faktor. Bahkan, besaran kenaikannya pun diumumkan dan pemerintah tidak bereaksi ketika media massa menyebarkannya secara luas kepada masyarakat. Besaran kenaikan itu berentang antara 50 sampai 80 persen dari harga yang ada sekarang.

Kita mestinya paham bahwa pengumuman yang relatif terbuka itu bertujuan agar masyarakat siap mental menghadapinya. Jelasnya kita didorong untuk membuat rancangan-rancangan anggaran keluarga, atau merevisi rencana-rencana anggaran sebelumnya berdasarkan kenaikan harga minyak kelak.

Tetapi, kenyataan di lapangan ternyata tidak semua masyarakat mengerti akan maksud tersebut. Banyak masyarakat yang ikut  arus mengantre, mencoba mencari peruntungan dan berlomba-lomba memborong minyak. Tentu bukan ini maksud pemerintah yang secara terbuka mengumumkan kenaikan harga, sekitar dua sampai sepuluh hari menjelang hari "H".

Kendati demikian, dari fenomena begitu banyaknya masyarakat antre di pompa bensin tetap ada pelajaran yang kita tangkap: bahwa tingkat kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah masih sangat lemah. Apakah yang membuat sikap tidak percaya ini terjadi? Untuk sementara kita melihat bahwa itu disebabkan oleh kegagalan pemerintah memenuhi janji-janjinya di masa lalu. Ini harus diakui.

Banyak contoh kegagalan tersebut. Sekitar enam bulan lewat saat pemerintah mengatakan bahwa tidak ada kenaikan harga lagi, ternyata janji itu diingkari. Ketika pemerintah berjanji menjaga stabilitas harga di pasaran, ternyata harga telah merangkak jauh hari sebelum harga BBM dinaikkan. Janji untuk menangkap penyelundup dan penimbun BBM memang sebagian terpenuhi, tetapi pemerintah tetap kecolongan. Inilah faktor kausalitas mengapa rakyat masih ragu, dan kemudian memilih mengantre berjam-jam. Mereka takut, jika menjelang hari kenaikan itu BBM tiba-tiba saja menghilang di pasaran. Rakyat kemudian merasa dikibuli terus oleh keputusan  pemerintah.

Karena itu, pelajaran penting bagi pemerintah saat ini adalah bagaimana mengembalikan tingkat kepercayaan masyarakat yang masih rendah itu. Pekerjaan ini tidak mudah,  sebab itu harus dimulai dari diri pemerintah lagi. Pertama-tama, tentu harus diawali dengan pemenuhan janji yang telah diucapkan itu. Saat ini pemerintah telah mengatakan  memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan unjuk rasa, protes terhadap kenaikan harga tersebut. Aparat keamanan mesti bersikap sportif, tidak anarkis terhadap unjuk rasa yang akan terjadi. Selanjutnya jika kenaikan harga ini merupakan langkah terakhir, buktikan kepada masyarakat bahwa tidak akan terjadi lagi kenaikan harga BBM.

Kemudian, lanjutkan sampai tuntas tindakan penghukuman kepada penimbun BBM dan kepada pedagang yang menaikkan harga secara tidak wajar. Tentu saja penghukuman kepada koruptor, penyelundup atau pencuri aliran listrik tetap ditindak tanpa pandang bulu.

Hanya dengan cara-cara seperti itulah, pemerintah secara pelan-pelan akan mampu menarik kepercayaan dari rakyat lagi. Jika tidak, masyarakat akan apatis. Mereka akan bertindak semaunya karena sudah tidak percaya dengan pemerintah. Kita khawatir suasana chaos akan terjadi jika masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintahnya sendiri.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)