Rakyat Seolah
Kehilangan Kepercayaan
BELAKANGAN
ini banyak antrean di pompa-pompa bensin menyusul
rencana kenaikan harga BBM per 1 Oktober. Itu terjadi di
Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatera dan daerah-daerah lain
di Indonesia.
Sepanjang yang mampu kita tangkap, pengumuman kenaikan
harga BBM yang dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya,
tetap mengandung unsur positif. Artinya, pemerintah
berupaya terbuka dan jujur kepada masyarakat bahwa
kenaikan harga itu pasti dilakukan tanggal 1 Oktober.
Pemerintah berharap agar masyarakat memahami maknanya
jika kenaikan ini tidak bisa dihindari karena akumulasi
berbagai faktor. Bahkan, besaran kenaikannya pun
diumumkan dan pemerintah tidak bereaksi ketika media
massa menyebarkannya secara luas kepada masyarakat.
Besaran kenaikan itu berentang antara 50 sampai 80
persen dari harga yang ada sekarang.
Kita mestinya paham bahwa pengumuman yang relatif
terbuka itu bertujuan agar masyarakat siap mental
menghadapinya. Jelasnya kita didorong untuk membuat
rancangan-rancangan anggaran keluarga, atau merevisi
rencana-rencana anggaran sebelumnya berdasarkan kenaikan
harga minyak kelak.
Tetapi, kenyataan di lapangan ternyata tidak semua
masyarakat mengerti akan maksud tersebut. Banyak
masyarakat yang ikut arus mengantre, mencoba
mencari peruntungan dan berlomba-lomba memborong minyak.
Tentu bukan ini maksud pemerintah yang secara terbuka
mengumumkan kenaikan harga, sekitar dua sampai sepuluh
hari menjelang hari "H".
Kendati demikian, dari fenomena begitu banyaknya
masyarakat antre di pompa bensin tetap ada pelajaran
yang kita tangkap: bahwa tingkat kepercayaan dari
masyarakat kepada pemerintah masih sangat lemah. Apakah
yang membuat sikap tidak percaya ini terjadi? Untuk
sementara kita melihat bahwa itu disebabkan oleh
kegagalan pemerintah memenuhi janji-janjinya di masa
lalu. Ini harus diakui.
Banyak contoh kegagalan tersebut. Sekitar enam bulan
lewat saat pemerintah mengatakan bahwa tidak ada
kenaikan harga lagi, ternyata janji itu diingkari.
Ketika pemerintah berjanji menjaga stabilitas harga di
pasaran, ternyata harga telah merangkak jauh hari
sebelum harga BBM dinaikkan. Janji untuk menangkap
penyelundup dan penimbun BBM memang sebagian terpenuhi,
tetapi pemerintah tetap kecolongan. Inilah faktor
kausalitas mengapa rakyat masih ragu, dan kemudian
memilih mengantre berjam-jam. Mereka takut, jika
menjelang hari kenaikan itu BBM tiba-tiba saja
menghilang di pasaran. Rakyat kemudian merasa dikibuli
terus oleh keputusan pemerintah.
Karena itu, pelajaran penting bagi pemerintah saat ini
adalah bagaimana mengembalikan tingkat kepercayaan
masyarakat yang masih rendah itu. Pekerjaan ini tidak
mudah, sebab itu harus dimulai dari diri
pemerintah lagi. Pertama-tama, tentu harus diawali
dengan pemenuhan janji yang telah diucapkan itu. Saat
ini pemerintah telah mengatakan memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan unjuk rasa,
protes terhadap kenaikan harga tersebut. Aparat keamanan
mesti bersikap sportif, tidak anarkis terhadap unjuk
rasa yang akan terjadi. Selanjutnya jika kenaikan harga
ini merupakan langkah terakhir, buktikan kepada
masyarakat bahwa tidak akan terjadi lagi kenaikan harga
BBM.
Kemudian, lanjutkan sampai tuntas tindakan penghukuman
kepada penimbun BBM dan kepada pedagang yang menaikkan
harga secara tidak wajar. Tentu saja penghukuman kepada
koruptor, penyelundup atau pencuri aliran listrik tetap
ditindak tanpa pandang bulu.
Hanya dengan cara-cara seperti itulah, pemerintah secara
pelan-pelan akan mampu menarik kepercayaan dari rakyat
lagi. Jika tidak, masyarakat akan apatis. Mereka akan
bertindak semaunya karena sudah tidak percaya dengan
pemerintah. Kita khawatir suasana chaos akan terjadi
jika masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada
pemerintahnya sendiri.