Serinata
Kecewa--
Wali
Kota dan
Bupati
tak Hadiri
Rakor BBM
Mataram
(Suara NTB) -
Gubernur
NTB, Drs. H. L. Serinata,
kembali
mengungkapkan rasa
kekecewaannya
dengan
ketidakhadiran bupati/wali
kota
se-NTB dalam
acara
rapat koordinasi
tindak
lanjut kenaikan BBM,
1 Oktober
mendatang.
Padahal,
rapat
koordinasi tersebut,
sebagai agenda yang
sangat
penting untuk
dilakukan,
tetapi
bupati/wali
kota
tidak
hadir.
''Saya
kecewa sekali
dengan
tidak hadirnya
bupati/wali
kota
di
acara rapat
koordinasi
tindak
lanjut kenaikan BBM.
Semestinya,
mereka
hadir di
acara
ini dalam
mencari
langkah antisipasi,
karena
menyangkut kondisi
yang akan
terjadi
di lapangan
pasca
pengumuman kenaikan
BBM,'' ungkapnya,
ketika
memimpin Rapat
Koordinasi
Tindak
Lanjut Kenaikan BBM,
di
Ruang Rapat
Utama
Kantor Gubernur NTB,
Kamis (29/9)
kemarin.
Pada
saat
sekarang ini,
kata
Serinata, pemerintah
sedang
dihadapkan pada
pilihan yang
sangat
berat, karena
dituntut
bertanggung
jawab
terhadap kebijakan
yang diambil
pemerintah
menaikkan
harga BBM.
Bagaimanapun,
kebijaksanaan
pemerintah yang
akan
menaikkan harga BBM
akan
menimbulkan protes
dan
penolakan dari
masyarakat.
Di
sinilah diperlukan
peran
serta pemerintah
kabupaten/kota
mempunyai
langkah
antisipasi, sehingga
kemungkinan
terjadinya
hal-hal
lebih besar
bisa
dihindari.
Selama
ini,
menurut Serinata,
berbagai
permasalahan yang
terjadi
di kabupaten/kota
kurang
diperhatikan pejabat-pejabat
di
kabupaten/kota, tetapi
lebih
cenderung diselesaikan
oleh
pemerintah propinsi
dan
pusat. Kondisi
seperti
ini, ujarnya,
harus
segera diperhatikan,
apalagi
pasca kenaikan BBM --
pejabat-pejabat
mesti
turun melakukan
pemantauan
untuk
melihat dampak
langsung
penyaluran BBM.
Ada
Skenario
Luar
Di
sisi lain,
Serinata
juga
menyayangkan, adanya
''konflik''
antara
eksekutif dan
legislatif.
Dia
mencontohkan, kasus
di
Lombok Timur,
antara
Dewan dan
Bupati
saling sahut-menyahut,
sehingga
apa yang
menjadi agenda
utama
tidak tuntas.
Begitu
juga, dengan
permasalahan yang
terjadi
di Dompu,
antara
eksekutif dan
legislatif
masih
ada perbedaan.
Melihat
permasalahan
tersebut,
Gubernur
mensinyalir
ada
pihak-pihak yang sengaja
ingin
membuat Indonesia, khususnya
NTB terus
dalam
kondisi ''konflik''
satu
sama lain.
Selain
itu,
lanjut Gubernur,
sebagaimana
instruksi
presiden
dalam
pertemuan dengan
gubernur
seluruh Indonesia 23
September lalu,
seluruh
jajaran dinas/instansi/badan
di
daerah ini
harus
siap mengantisipasi
berbagai
kemungkinan yang
akan
terjadi pasca
kenaikan BBM.
Aparat
keamanan dituntut
bekerja
maksimal dalam
mengamankan
berbagai
unjuk
rasa menolak
kenaikan BBM,
kemudian
pertamina
harus
menjamin stok BBM
aman
dan tidak
langka.
Sementara
Kombes. P.
Siswanto
dari
Satuan Samapta
Polda NTB
mewakili
Kapolda NTB,
mengungkapkan,
pihaknya
bertekad
akan
memberikan pengamanan
terhadap
berbagai
kemungkinan
terjadinya
penolakan
kenaikan
harga BBM.
Begitu
juga, masyarakat
miskin yang
akan
mengambil uang
kompensasi
di
kantor pos, pihak
kepolisian
siap
memberikan pengamanan.
Begitu
juga
dengan jajaran
Danrem 162
Wirabhakti,
Kolonel CZI.
Soeparto S.,
dalam
kesempatan tersebut
akan
memback up tugas
kepolisian
mengamankan
kemungkinan yang
akan
terjadi pasca
dinaikkan
harga BBM. (ham)
Klik di Sini