Wabup
Ngakan
Bawa, Kritik
Kepemimpinan
Bupati
Candra
Semarapura
(Bali Post) -
Sejak
menyatakan
diri
hengkang dari PDI-P
dan
bergabung di
Gerakan
Pembaruan (GP) PDI-P, Wakil
Bupati (Wabup)
Klungkung,
Ngakan
Gede Bawa,
benar-benar
mulai
menunjukkan keberaniannya.
Terbukti,
setelah
menuntut hak
selaku
wabup yang diakui
selama
ini terkungkung,
kini
wabup asal
Desa
Tusan, Banjarangkan
itu
mulai berani
mengungkap
kebobrokan
birokrasi
kepemimpinan
Bupati
Wayan Candra.
Sebagai
wabup,
dia merasa
jarang
dilibatkan dalam
kegiatan
pemerintahan yang
notabene
harus
dia ketahui.
''Kalau
selalu
seperti itu,
bagaimana dong
saya
harus menjawab
kalau
ada masyarakat yang
menanyakan
kepada
saya tentang
suatu
masalah misalnya.
Kan lucu,
sebagai
seorang wakil
bupati
saya menjawab
tidak
tahu,'' ungkap
Bawa,
Kamis (29/9) kemarin.
Dia
mencontohkan,
dalam
hal pembahasan
masalah
perizinan misalnya.
Dia
sangat
jarang dilibatkan.
Bahkan,
instansi terkait yang
tergabung
dalam
tim
perizinan yang
notabene
bawahannya,
juga
jarang melaporkan
hasil
pengkajian perizinan
tersebut.
Termasuk
siapa
saja yang mengajukan
permohonan.
''Saya
melihat
telah terjadi
sesuatu
di
sana,''
katanya.
Pria
yang kini
dipercaya
sebagai
koordinator GP PDI-P
Kabupaten Klungkung
itu
juga mengaku
kerap
dipandang sebelah
mata
oleh Bupati
dalam
urusan perwakilan
menghadiri
undangan.
Undangan
yang seharusnya
diwakilkan
kepada
wabup selaku
orang
nomor dua,
Bupati
Candra justru
mewakilkannya
kepada
asisten.
Contohnya,
disposisi
untuk
membuka diklat
narkoba
dan HIV/AIDS, Kamis
(29/9) kemarin.
Bupati
langsung mendisposisi
surat
permohonan
membuka
diklat tersebut
ke
Asisten II, Made Ngurah.
Padahal,
Wabup
hadir dalam
acara
tersebut.
Undangan
yang datang pun
di
antaranya unsur
muspida.
''Makanya,
dengan
inisiatif Sekda,
saya
bersama Sekda
dan
Asisten II berkoordinasi.
Hingga
akhirnya
disepakati
saya yang
membuka
acara itu
meskipun
disposisi
untuk
asisten II,'' sebut
Ngakan
Bawa seraya
menyatakan
hal itu
secara
protokoler sudah
salah.
Disebutkan,
hal
seperti ini
sangat
sering terjadi.
Termasuk
disposisi
pembuatan
lima
kapal
penangkap ikan yang
saat
ini bermasalah.
''Wakil
bupati
tidak pernah
tahu
masalah itu,''
akunya.
Oleh
karenanya,
seperti yang
diungkapkan
saat
menjelang dirinya
dilantik
selaku
Ketua GP PDI-P Klungkung.
Bahwa
dia akan
terus
menuntut haknya
sampai
dapat. Karena
dengan
kendaraan sendiri,
dirinya
yakin
akan lebih
berani
melakukan hal
tersebut.
Apalagi,
selaku
wabup dirinya
punya
tanggung jawab
atas
perkembangan Klungkung
ke
depan.
''Saya
tidak mau
pemerintahan
ini
dikelola dengan
manajemen
perusahaan,''
tegasnya.
Sementara
itu,
ketika dimintai
konfirmasi,
Bupati
Candra menyatakan
apa
yang dilakukan
selama
ini, setelah
berkaca
dari pengalaman yang
pernah
terjadi. Di
mana,
tanpa sepengetahuannya,
Wabup
kerap mendisposisikan
tugas yang
dilimpahkan
ke staf
lain. ''Kan
malu.
Kalau
suatu
acara yang seharusnya
dihadiri
bupati
atau minimal wakil
bupati,
justru yang datang
staf,''
katanya.
Namun
dikatakan,
Candra
mengaku pada
prinsipnya
birokrasi
di
Pemkab Klungkung
berjalan
dengan
baik. ''Kalau
pun ada
satu dua
persoalan,
itu
kan
manusiawi,''
tandas
Candra seraya
mengatakan
dirinya pun
ingin
birokrasi berjalan
sebagaimana
mestinya.
''Saya
pasti
sangat senang,
kalau
tugas-tugas yang tidak
bisa
saya ambil
bisa
diwakilkan oleh
wabup.
Karena
keberadaan
wabup,
sekda beserta
asisten
adalah untuk
membantu
melaksanakan
tugas-tugas
pemerintahan,''
tambahnya.
(kmb20)