kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 29 September 2005

 Pariwisata


Masih
Suram 

DUA hari lalu, tepatnya Selasa (27/9), ditetapkan sebagai peringatan Hari Pariwisata Sedunia. Peringatan kali ini dibayangi krisis dunia yang secara garis besar akan mengganggu dunia kepariwisataan. Berbagai bencana melanda beberapa belahan dunia dan banyak menelan korban. Sebutlah misalnya topan Katrina dan Rita yang melanda negara bagian Amerika Serikat. Terakhir, topan Damrey menerjang Propinsi Hainan, Cina Selatan.

Di sisi lain, aksi teror bom masih terus membayangi. Beberapa hari lalu seorang wartawati televisi di Lebanon menjadi korban. May Chidiac, sang wartawati yang memandu acara politik di Lebanon Broadcasting Corporation (LBC) harus kehilangan kaki dan tangan kirinya setelah bom yang dipasang di bawah mobilnya meledak. Ini membuktikan bahwa aksi terorisme bisa terjadi di mana-mana. Sungguh mencekam.

Wajar kalau para pelancong berpikir beberapa kali untuk berlibur ke tempat yang jauh. Karena itu, trend kunjungan wisatawan mancanegara akhir-akhir ini semakin pendek, baik ditinjau dari jarak tempat tinggalnya maupun lama tinggal (lenght of stay)-nya di tempat berwisata. Kecenderungan tadi tentu saja membawa implikasi yang luas bagi industri pariwisata dan insan-insan yang terlibat langsung di dalamnya. Dalam perspektif jangka pendek, boleh dikatakan pariwisata dunia masih suram.

Titik cerah mungkin akan dicapai beberapa tahun lagi setelah terorisme global semakin mereda dan krisis ekonomi dunia berlalu. Bagaimana kita di Indonesia, lebih khusus lagi Bali? Sebagai bagian dari pariwisata global, Indonesia tentu saja mengalami hal yang sama. Dalam tiga tahun terakhir, kita masih tertatih-tatih bangun dari keterpurukan akibat Tragedi Kuta, 12 Oktober 2002. Kendati dari segi jumlah kedatangan (arrival) boleh dikata sudah pulih, namun dari segi revenue tampaknya belum membaik.

Para kompetitor kita seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, persoalan yang dihadapi mungkin lebih enteng karena mereka hanya memikirkan faktor eksternal. Sementara kita di Indonesia, persoalannya lebih kompleks. Di tengah berbagai harapan agar pariwisata menjadi salah satu sektor andalan meraup devisa di tengah melemahnya produksi migas, kebijakan pemerintah pusat ke arah itu malah tidak jelas. Yang sederhana saja, soal alokasi dana promosi yang masih terbilang minim.

Nasihat yang populer di dunia nelayan tampaknya perlu direnungkan bersama. Kalau ingin menangkap kakap, jangan memancingnya dengan umpan ikan teri, begitu kira-kira bunyi nasihat sarat makna itu. Artinya, kalau ingin mencapai target yang besar, jangan menggunakan modal apa adanya. Selama ini, pariwisata kita tampaknya lebih banyak bergantung pada kemurahan Tuhan. Tanpa berbuat terlalu banyak, capaian pariwisata nasional sudah cukup lumayan. Mestinya, kalau bekerja lebih keras hasilnya pasti luar biasa.

Oleh karena itu, kondisi krisis global seyogianya dimanfaatkan secara maksimal untuk menata kepariwisataan nasional. Bagi kita di Bali, menyitir pandangan para pengamat pariwisata, kualitas layanan harus bisa ditingkatkan dan promosi ke pasar-pasar baru harus lebih agresif. Siapa tahu setelah kondisi keamanan global membaik, ekonomi dunia juga mantap, akan membawa dampak positif bagi Bali. Tentu saja setelah komponan pariwisata di sini siap. Hal ini barangkali salah satu bentuk refleksi dari peringatan Hari Pariwisata Dunia 2005.

* gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)