Masih
Suram
DUA
hari
lalu, tepatnya
Selasa (27/9),
ditetapkan
sebagai
peringatan
Hari
Pariwisata Sedunia.
Peringatan kali
ini
dibayangi krisis
dunia yang
secara
garis
besar
akan mengganggu
dunia
kepariwisataan.
Berbagai
bencana
melanda
beberapa
belahan
dunia
dan banyak
menelan
korban.
Sebutlah
misalnya
topan Katrina
dan Rita yang
melanda
negara
bagian
Amerika
Serikat.
Terakhir,
topan
Damrey menerjang
Propinsi
Hainan,
Cina
Selatan.
Di
sisi
lain, aksi
teror
bom masih
terus
membayangi.
Beberapa
hari
lalu seorang
wartawati
televisi
di
Lebanon
menjadi
korban.
May Chidiac, sang
wartawati yang
memandu
acara
politik di Lebanon
Broadcasting Corporation (LBC)
harus kehilangan
kaki dan
tangan
kirinya
setelah
bom yang
dipasang
di
bawah mobilnya
meledak.
Ini
membuktikan
bahwa
aksi terorisme
bisa
terjadi di
mana-mana.
Sungguh
mencekam.
Wajar
kalau
para pelancong
berpikir
beberapa kali
untuk
berlibur ke
tempat yang
jauh.
Karena
itu, trend
kunjungan
wisatawan
mancanegara
akhir-akhir
ini
semakin pendek,
baik
ditinjau dari
jarak
tempat tinggalnya
maupun lama
tinggal (lenght
of stay)-nya
di
tempat berwisata.
Kecenderungan
tadi
tentu saja
membawa
implikasi yang
luas
bagi industri
pariwisata
dan
insan-insan yang terlibat
langsung
di
dalamnya.
Dalam
perspektif
jangka
pendek,
boleh
dikatakan pariwisata
dunia
masih suram.
Titik
cerah
mungkin
akan
dicapai
beberapa
tahun
lagi setelah
terorisme global
semakin
mereda
dan
krisis ekonomi
dunia
berlalu.
Bagaimana
kita
di
Indonesia,
lebih
khusus lagi Bali?
Sebagai
bagian
dari
pariwisata global, Indonesia
tentu
saja mengalami
hal yang
sama.
Dalam
tiga
tahun terakhir,
kita
masih tertatih-tatih
bangun
dari
keterpurukan akibat
Tragedi
Kuta, 12
Oktober 2002.
Kendati
dari
segi jumlah
kedatangan (arrival)
boleh
dikata sudah
pulih,
namun
dari segi revenue
tampaknya
belum
membaik.
Para
kompetitor
kita
seperti Malaysia,
Singapura dan
Thailand, persoalan yang
dihadapi
mungkin
lebih
enteng karena
mereka
hanya
memikirkan faktor
eksternal.
Sementara
kita
di
Indonesia,
persoalannya
lebih
kompleks.
Di
tengah berbagai
harapan agar
pariwisata
menjadi
salah
satu sektor
andalan
meraup
devisa
di
tengah melemahnya
produksi
migas,
kebijakan
pemerintah
pusat
ke arah
itu
malah tidak
jelas. Yang
sederhana
saja,
soal alokasi
dana
promosi yang
masih
terbilang minim.
Nasihat
yang populer
di
dunia nelayan
tampaknya
perlu
direnungkan bersama.
Kalau
ingin menangkap
kakap,
jangan
memancingnya
dengan
umpan
ikan
teri, begitu
kira-kira
bunyi
nasihat sarat
makna
itu. Artinya,
kalau
ingin mencapai
target yang besar,
jangan
menggunakan modal
apa
adanya.
Selama
ini,
pariwisata kita
tampaknya
lebih
banyak bergantung
pada
kemurahan Tuhan.
Tanpa
berbuat
terlalu
banyak,
capaian
pariwisata
nasional
sudah
cukup lumayan.
Mestinya,
kalau
bekerja lebih
keras
hasilnya pasti
luar
biasa.
Oleh
karena
itu,
kondisi krisis
global seyogianya
dimanfaatkan
secara
maksimal
untuk
menata kepariwisataan
nasional.
Bagi
kita
di
Bali,
menyitir
pandangan
para
pengamat pariwisata,
kualitas
layanan
harus
bisa ditingkatkan
dan
promosi ke
pasar-pasar
baru
harus lebih
agresif.
Siapa
tahu setelah
kondisi
keamanan global
membaik,
ekonomi
dunia
juga mantap,
akan
membawa
dampak
positif
bagi Bali.
Tentu
saja
setelah komponan
pariwisata
di
sini siap.
Hal
ini
barangkali salah
satu
bentuk refleksi
dari
peringatan Hari
Pariwisata
Dunia 2005.
*
gregorius