''Yang jelas
hati
kami bersama
rakyat.
Saya
sedih, kadang-kadang
mata
saya bengkak,
kuyu,
lelah, meskipun
hati
saya tidak
bengkak,
kuyu
dan lelah.
Bagaimana
menciptakan
subsidi
ini sampai
kepada
rakyat, tidak
melenceng
ke
sana,
tidak
melenceng ke
sini,
tepat.
Kami
berpikir
siang
dan malam.''
Silakan
Demo
Jakarta (Bali Post) -
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
memahami
banyaknya
protes
dan aksi
unjuk
rasa menentang
kenaikan
harga BBM.
Aksi demo
itu
tidak dilarang
asalkan
digelar secara
tertib,
tidak anarkis
dan
tidak mengganggu
ketertiban
umum.
''Silakan
masyarakat
unjuk
rasa, mahasiswa
turun
ke jalan.
Protes
gerakan moral
itu
kita pahami
dengan
harapan jangan
ada yang
mengganggu
keamanan
dan
ketertiban,'' tegas
Presiden
saat
bertemu Forum Rektor
Indonesia (FRI), Rabu (28/9)
kemarin.
Jika
aksi
protes menentang
kenaikan BBM
itu
dilakukan dengan
cara
anarkis,
kondisinya
akan
lebih buruk
lagi
bagi negara.
Bahkan,
rakyat
akan lebih
susah
lagi hidupnya.
''Maksud
saya
tertib, peaceful, mengikuti
undang-undang yang
berlaku,
jadi
enak.
Kepolisian
juga
menjalankan tugasnya.
Silakan
unjuk
rasa, sampaikan
sesuatu,
silakan
gelar spanduk,
tertib,
tidak harus
bakar-bakar,
duduki
ini itu,
rusak
ini itu,''
papar
Presiden.
Dijelaskannya,
keputusan
pemerintah
menaikkan
harga BBM
pada 1
Oktober bukan
merupakan
keputusan yang
mudah.
Meskipun
secara
ekonomi bisa
dimengerti
logikanya,
tetapi
persoalan rakyat,
implementasi
subsidi,
serta
persoalan dampaknya
tidak
selalu bisa
dihitung
secara
matematis.
''Saya
sadar,
apa pun policy akan
menimbulkan pro
dan
kontra. Saya
tahu di
DPR dari 10
fraksi, 8
setuju, 1
tidak
setuju, 1 abstain.
Saya
hormati
itu.
Langkah
pemerintah
menaikkan
harga BBM
dilakukan
dengan
konsultasi DPR,'' ungkapnya.
Pihaknya
juga
mengerti terhadap
pernyataan
para
pengamat ekonomi,
tokoh
politik nasional yang
tidak
setuju dengan
kenaikan BBM.
''Saya
hormati.
Please, jelaskan
kepada
rakyat mengapa
tidak
setuju, itu
namanya
pendidikan politik
yang baik,
juga
ada baiknya
ada
alternatif maupun
solusi yang
ditawarkan,''
jelasnya
dengan
serius.
Presiden
juga
mengakui ada
kelemahan-kelamahan
dalam
penyaluran subsidi
langsung
kepada
masyarakat miskin.
Meski
demikian,
hal itu
harus
tetap dilakukan
supaya
beban masyarakat
miskin yang
terkena
dampak kenaikan
harga BBM
dapat
berkurang. ''Yang
jelas
hati kami
bersama
rakyat. Saya
sedih,
kadang-kadang mata
saya
bengkak, kuyu,
lelah,
meskipun hati
saya
tidak bengkak,
kuyu
dan lelah,
karena
bagaimana menciptakan
subsidi
ini sampai
kepada
rakyat, tidak
melenceng
ke
sana,
tidak
melenceng ke
sini,
tepat.
Kami
berpikir
siang
dan malam,''
tambahnya.
Staf
Khusus
Dalam
kesempatan
itu,
Presiden juga
memanggil
para
staf khususnya
untuk
rapat menjelang
kenaikan
harga BBM.
Mereka
itu,
Sjahrir,
Heru
Lelono dan
Sardan
Marbun. ''Dalam
rapat
itu ada
dua
masalah yang dibahas,
yakni
kelangkaan BBM dan
pemberian
dana
subsidi
langsung tunai (cash
transfer) kepada
masyarakat
miskin,''
jelas
Sjahrir.
Dijelaskannya,
Presiden
mengantisipasi
bagaimana cash transfer
dipersiapkan
untuk
memastikan
dana
kompensasi
bisa
berlangsung dengan
baik,
tidak ada
kebocoran
bahkan
penyaluran tepat
sasaran.
''Soal
kelangkaan BBM, hal
ini
terjadi tindakan
penimbunan
oleh
pihak tertentu
disebabkan
manusia
memang memiliki motif
ekonomi,
sehingga
menimbun
dan
sebagainya,'' katanya.
(034)