Kado
Menjelang
Hari
Raya
AKHIRNYA
pemerintah
akan
menaikkan
harga
bahan bakar
minyak (BBM) per 1
Oktober
mendatang.
DPR yang
sebelumnya berbicara
lantang
menolak
keinginan
pemerintahan SBY-Kalla
ini,
suaranya pun melemah.
Seperti
diberitakan Bali Post,
Rabu (28/9)
kemarin, DPR
akhirnya
menyetujui
kenaikan
tersebut.
Hal itu
tercapai
dalam
sidang paripurna
yang menyetujui
perubahan
kedua
atas Anggaran
Pendapatan
dan
Belanda Negara (APBN) 2005.
Persetujuan
ini
secara tidak
langsung
menyetujui
kenaikan
harga BBM per 1
Oktober
tersebut.
Meski
belum
ada angka
pasti,
diduga
kisaran
kenaikan
sekitar 50-80
persen.
Banyak
reaksi
atas
keinginan pemerintah
ini.
Beberapa
komponen
masyarakat
serta
mahasiswa menggelar
aksi demo
di
seluruh penjuru
Tanah Air.
Mereka
mengecam
tindakan
ini
karena dinilai
akan
semakin
menyengsarakan
rakyat.
Di
sisi lain,
beberapa
mantan
presiden
seperti Gus
Dur
dan Megawati serta
beberapa
tokoh
lainnya yakni
Akbar
Tandjung serta Try
Sutrisno
juga
mengeluarkan komunike
agar pemerintah
menunda
rencana
tersebut.
Namun
rupanya,
pemerintah
sudah
berketetapan hati.
Kenaikan
itu
tidak bisa
ditunda,
dan
akhirnya dipilihlah
1 Oktober
tersebut.
Sementara
sebelumnya,
pemerintah
juga
mencairkan
dana
kompensasi BBM
kepada
rakyat
miskin.
Presiden
Susilo
Bambang
Yudhoyono (SBY)
sendiri
menjamin
dana
itu
akan sampai
kepada yang
berhak. Hal
ini
sekaligus menjawab
keragu-raguan
banyak
pihak
bahwa bantuan
kompensasi
itu
akan
nyantol
di
mana-mana.
Kalau
diperhatikan,
hampir
semua media
massa
mengambil
topik
kenaikan harga BBM
untuk
menghiasi halaman
muka
mereka ataupun
menjadi
berita
pembuka.
Banyak
pihak
bicara soal
ini.
Bahkan,
SBY pun meminta agar
semua
pihak tidak
saling
menyalahkan
dengan
kondisi
seperti
ini.
Barangkali,
ini
secara tidak
langsung
untuk
menjawab pernyataan
beberapa
tokoh yang
berkumpul
di
rumah Akbar
Tandjung
beberapa
waktu
lalu.
Realitasnya
sekarang,
rakyat
masih
sangat kesusahan.
Beberapa
jenis BBM
sudah
sejak dulu
langka
dan
bahkan menghilang
dari
pasaran.
Sudah
merupakan
pemandangan yang
jamak
antrean kendaraan
di
beberapa stasiun
pengisian
bahan
bakar.
Atau,
antrean yang
sangat
melelahkan
bagi
mereka yang sangat
membutuhkan
minyak
tanah.
Sekadar
mengulang,
pemerintah
berketetapan
hati
menaikkan harga BBM
karena
meningkatnya
harga
minyak dunia.
Pun di
sisi
lain, pemerintah
berusaha
mengurangi
subsidi yang
memberatkan
anggaran
pemerintah
karena
subsidi
itu
dinilai tidak
tepat
sasaran. Kita tentu
tidak
akan
mempolemikkan
hal
ini lagi
karena
vonis
sudah dijatuhkan.
Lalu
bagaimana
kelanjutannya?
Apakah
dana
kompensasi
sekitar
seratus
ribu
rupiah itu
akan
banyak menolong?
Seperti
biasa,
sebelum
harga BBM
naik,
harga-harga kebutuhan
pokok
sudah lebih
dulu
merambat.
Pun menjelang
hari
raya ini,
bagi
umat Hindu yang
akan
merayakan
hari
raya Galungan
dan
Kuningan serta
umat
muslim yang akan
menjelang
bulan
puasa, seakan-akan
kenaikan
ini
merupakan sebuah
kado yang
pahit.
Betapa
tidak,
bagi
rakyat kebanyakan,
tentunya
hal
ini
akan mempengaruhi
hitung-hitungan
belanja
mereka
menjelang
hari
raya.
Untuk
mengantisipasi
melonjaknya
harga-harga
keperluan
pokok,
pemerintah
semestinya
aktif
melakukan operasi
pasar.
Sebab,
sangatlah
jamak
banyak oknum
mengail
di air
keruh.
Sudah
banyak
contoh.
Mereka
yang dengan
sengaja
menimbun BBM
dan
sembako untuk
mengeruk
keuntungan yang
lebih
besar. Seperti
diberitakan
harian
ini
juga kemarin,
Polri
akan
menurunkan
intelijen yang
akan
membantu pendemo
BBM. Kita
berharap, perkembangan
selanjutnya
tidak
menjurus kepada
hal-hal
anarkis.
Aparat pun
diminta
untuk
bersikap profesional
menangani
dinamika
tersebut yang
diperkirakan
akan
marak
menjelang dan
setelah 1
Oktober.
Kita pun tidak
menginginkan
kondisi
keamanan
berubah
tidak
kondusif gara-gara
masalah
ini.