kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 29 September 2005

 Tajuk

 

Kado Menjelang Hari Raya 

AKHIRNYA pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Oktober mendatang. DPR yang sebelumnya berbicara lantang menolak keinginan pemerintahan SBY-Kalla ini, suaranya pun melemah. Seperti diberitakan Bali Post, Rabu (28/9) kemarin, DPR akhirnya menyetujui kenaikan tersebut.

Hal itu tercapai dalam sidang paripurna yang menyetujui perubahan kedua atas Anggaran Pendapatan dan Belanda Negara (APBN) 2005. Persetujuan ini secara tidak langsung menyetujui kenaikan harga BBM per 1 Oktober tersebut. Meski belum ada angka pasti, diduga kisaran kenaikan sekitar 50-80 persen.

Banyak reaksi atas keinginan pemerintah ini. Beberapa komponen masyarakat serta mahasiswa menggelar aksi demo di seluruh penjuru Tanah Air. Mereka mengecam tindakan ini karena dinilai akan semakin menyengsarakan rakyat. Di sisi lain, beberapa mantan presiden seperti Gus Dur dan Megawati serta beberapa tokoh lainnya yakni Akbar Tandjung serta Try Sutrisno juga mengeluarkan komunike agar pemerintah menunda rencana tersebut.

Namun rupanya, pemerintah sudah berketetapan hati. Kenaikan itu tidak bisa ditunda, dan akhirnya dipilihlah 1 Oktober tersebut. Sementara sebelumnya, pemerintah juga mencairkan dana kompensasi BBM kepada rakyat miskin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri menjamin dana itu akan sampai kepada yang berhak. Hal ini sekaligus menjawab keragu-raguan banyak pihak bahwa bantuan kompensasi itu akan nyantol di mana-mana.

Kalau diperhatikan, hampir semua media massa mengambil topik kenaikan harga BBM untuk menghiasi halaman muka mereka ataupun menjadi berita pembuka. Banyak pihak bicara soal ini. Bahkan, SBY pun meminta agar semua pihak tidak saling menyalahkan dengan kondisi seperti ini. Barangkali, ini secara tidak langsung untuk menjawab pernyataan beberapa tokoh yang berkumpul di rumah Akbar Tandjung beberapa waktu lalu.

Realitasnya sekarang, rakyat masih sangat kesusahan. Beberapa jenis BBM sudah sejak dulu langka dan bahkan menghilang dari pasaran. Sudah merupakan pemandangan yang jamak antrean kendaraan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar. Atau, antrean yang sangat melelahkan bagi mereka yang sangat membutuhkan minyak tanah.

Sekadar mengulang, pemerintah berketetapan hati menaikkan harga BBM karena meningkatnya harga minyak dunia. Pun di sisi lain, pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang memberatkan anggaran pemerintah karena subsidi itu dinilai tidak tepat sasaran. Kita tentu tidak akan mempolemikkan hal ini lagi karena vonis sudah dijatuhkan. Lalu bagaimana kelanjutannya? Apakah dana kompensasi sekitar seratus ribu rupiah itu akan banyak menolong?

Seperti biasa, sebelum harga BBM naik, harga-harga kebutuhan pokok sudah lebih dulu merambat. Pun menjelang hari raya ini, bagi umat Hindu yang akan merayakan hari raya Galungan dan Kuningan serta umat muslim yang akan menjelang bulan puasa, seakan-akan kenaikan ini merupakan sebuah kado yang pahit.

Betapa tidak, bagi rakyat kebanyakan, tentunya hal ini akan mempengaruhi hitung-hitungan belanja mereka menjelang hari raya. Untuk mengantisipasi melonjaknya harga-harga keperluan pokok, pemerintah semestinya aktif melakukan operasi pasar. Sebab, sangatlah jamak banyak oknum mengail di air keruh. Sudah banyak contoh. Mereka yang dengan sengaja menimbun BBM dan sembako untuk mengeruk keuntungan yang lebih besar. Seperti diberitakan harian ini juga kemarin, Polri akan menurunkan intelijen yang akan membantu pendemo BBM. Kita berharap, perkembangan selanjutnya tidak menjurus kepada hal-hal anarkis. Aparat pun diminta untuk bersikap profesional menangani dinamika tersebut yang diperkirakan akan marak menjelang dan setelah 1 Oktober.

Kita pun tidak menginginkan kondisi keamanan berubah tidak kondusif gara-gara masalah ini.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)