kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 29 September 2005

 Nusantara


Massa
Mulai ''Pemanasan''--
Kepung
Istana 

Jakarta (Bali Post) -
Ribuan
mahasiswa turun ke jalan Rabu (28/9) kemarin. Mereka bergerak mengepung Istana Negara Jakarta. Mereka menilai kenaikan harga BBM ini hanya menguntungkan koruptor. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) hanya menjadi kepanjangan tangan kaum kapitalis global. 

Aksi kali ini akan dilanjutkan secara besar-besaran hari ini, Kamis (29/9), sekaligus diserukan melakukan pemogokan massal di seluruh Indonesia. Mahasiswa mengecap rencana pemerintah yang akan menyamakan harga BBM dalam negeri dengan BBM internasional khususnya dengan Singapura. Di Indonesia saat ini harga BBM Rp 2.400/liter, sedangkan di Singapura Rp 5.700/liter. 

Menurut mahasiswa, informasi pemerintah itu sangat menyesatkan. Perbandingan itu tidak realistis. Di Singapura, pendapatan rakyatnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Setinggi apa pun harga BBM di sana, rakyatnya mampu membeli. Sedangkan di Indonesia sangat berbeda. Di sini, tingkat pendapatan rakyat sangat kecil. Maka, ketika harga BBM dinaikkan tinggi, rakyat akan bertambah miskin dan sengsara

Perbandingan seperti ini tak pernah dikampanyekan pemerintah. SBY-JK hanya memberi perbandingan harga, bukan kemampuan rakyatnya dalam membeli BBM. ''SBY tak mau secara jujur berbicara dan membandingkan pendapatan per kapita antara Indonesia, Singapura, dan negara-negara lain. Yang dibandingkan hanya harga BBM, bukan tingkat upah,'' tulis mahasiswa dalam selebarannya.  

Kenaikan harga BBM kali ini sejatinya ingin menambal anggaran negara, APBN, sebesar 1,4% sehingga menyebabkan financial gap -- kekurangan anggaran -- Rp 23,2 trilyun. Padahal, selama ini anggaran negara banyak digarong oleh para pejabat. Anggaran negara yang katanya untuk pembangunan banyak sekali yang bocor. Makanya, kenaikan harga BBM kali ini juga sama halnya memberi makan para koruptor. Anehnya, saran untuk menghemat anggaran departemen sebanyak 20% di seluruh instansi pemerintah di-cueki pemerintah. Padahal, jika ini diterapkan, pemerintah mendapatkan dana sekitar Rp 20 trilyun

Pemerintah hanya meminta rakyat mengencangkan ikat pinggang, sementara pemerintah sendiri tidak mau berhemat. Ini kontradiktif. Dalam orasinya, mahasiswa mengancam akan membuat perhitungan dengan pemerintahan sekarang. Baginya, pemerintah hanya menuruti kemauan asing untuk menekan rakyat. Pemerintah sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat. (kmb7)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)