Massa
Mulai ''Pemanasan''--
Kepung
Istana
Jakarta (Bali Post) -
Ribuan
mahasiswa
turun
ke jalan
Rabu (28/9)
kemarin.
Mereka
bergerak
mengepung
Istana Negara Jakarta.
Mereka
menilai
kenaikan harga BBM
ini
hanya menguntungkan
koruptor.
Pemerintahan
Susilo
Bambang Yudhoyono
dan
Jusuf Kalla (SBY-JK)
hanya
menjadi kepanjangan
tangan
kaum kapitalis
global.
Aksi
kali ini
akan
dilanjutkan
secara
besar-besaran hari
ini,
Kamis (29/9), sekaligus
diserukan
melakukan
pemogokan
massal
di seluruh Indonesia.
Mahasiswa
mengecap
rencana
pemerintah yang
akan
menyamakan
harga BBM
dalam
negeri dengan BBM
internasional
khususnya
dengan
Singapura.
Di
Indonesia saat
ini
harga BBM Rp
2.400/liter, sedangkan
di
Singapura Rp
5.700/liter.
Menurut
mahasiswa,
informasi
pemerintah
itu
sangat menyesatkan.
Perbandingan
itu
tidak realistis.
Di
Singapura, pendapatan
rakyatnya
jauh
lebih tinggi
dibandingkan
dengan Indonesia.
Setinggi
apa
pun harga BBM
di
sana,
rakyatnya
mampu
membeli.
Sedangkan
di Indonesia
sangat
berbeda.
Di
sini,
tingkat pendapatan
rakyat
sangat kecil.
Maka,
ketika harga BBM
dinaikkan
tinggi,
rakyat
akan bertambah
miskin
dan sengsara.
Perbandingan
seperti
ini tak
pernah
dikampanyekan pemerintah.
SBY-JK hanya
memberi
perbandingan harga,
bukan
kemampuan rakyatnya
dalam
membeli BBM. ''SBY
tak mau
secara
jujur berbicara
dan
membandingkan pendapatan
per kapita
antara Indonesia,
Singapura,
dan
negara-negara lain. Yang
dibandingkan
hanya
harga BBM, bukan
tingkat
upah,'' tulis
mahasiswa
dalam
selebarannya.
Kenaikan
harga BBM kali
ini
sejatinya ingin
menambal
anggaran
negara, APBN,
sebesar 1,4%
sehingga
menyebabkan financial gap --
kekurangan
anggaran --
Rp 23,2
trilyun.
Padahal,
selama
ini anggaran
negara
banyak digarong
oleh
para pejabat.
Anggaran
negara yang
katanya
untuk pembangunan
banyak
sekali yang bocor.
Makanya,
kenaikan
harga BBM kali
ini
juga
sama halnya
memberi
makan para
koruptor.
Anehnya,
saran untuk
menghemat
anggaran
departemen
sebanyak 20%
di
seluruh instansi
pemerintah
di-cueki
pemerintah.
Padahal,
jika
ini diterapkan,
pemerintah
mendapatkan
dana
sekitar
Rp 20 trilyun.
Pemerintah
hanya
meminta rakyat
mengencangkan
ikat
pinggang, sementara
pemerintah
sendiri
tidak mau
berhemat.
Ini
kontradiktif.
Dalam
orasinya, mahasiswa
mengancam
akan
membuat
perhitungan dengan
pemerintahan
sekarang.
Baginya,
pemerintah
hanya
menuruti kemauan
asing
untuk menekan
rakyat.
Pemerintah
sama
sekali
tidak mendengarkan
suara
rakyat. (kmb7)