Nasionalisme
Koizumi Dikritik
Oposisi
Tokyo -
Baru
saja
menang mutlak
dalam
pemungutan suara,
Perdana
Menteri Jepang
Junichiro Koizumi
mendapat
cercaan
keras oleh
parlemen
Rabu (28/9)
kemarin
akibat dugaaan
menambah
panas
nasionalisme dan
merusak
hubungan dengan
negara-negara
tetangga Asia.
Kritikan
tajam
ini meluncur
setelah Koizumi
memaparkan
pendapatnya
dalam
sebuah wawancara
dengan
sebuah harian
Inggris.
Dalam
wawancara tersebut
ia
mengatakan akan
berkunjung
lagi
menuju sebuah
kuil
perang yang kontroversial
untuk
menghormati pahlawan
perang
Jepang termasuk
kaum
kriminal perang,
pada
akhir tahun
ini.
"Semakin
banyak
orang kini
semakin
khawatir mengenai
pemerintahan
dengan
koalisi raksasa
kemungkinan
akan
keluar kontrol
dan
negara kami
mungkin
kembali menyusuri
jalan (menuju
perang) yang
pernah
kami jelajahi,"
kata Yukio
Hatoyama,
deputi
kepala Partai
Demokratik
selaku
pihak oposisi.
Koizumi meraih
sebuah
kemenangan bersejarah
pada
pemilihan 11 September,
memberikan koalisi
partainya
dengan
dukungan dari
sebuah
partai Buddha hingga
dia
menduduki lebih
dari
dua pertiga
kursi
di parlemen
rendah.
Kemudian
pada
debat pertama
mengenai
parlemen,
Hatoyama
mengatakan
orang-orang
kini
menaruh perhatian
tinggi
mengenai koalisi yang
berkuasa
sekarang
akan
secepat mungkin
untuk
merevisi konstitusi
cinta
damai, yang melarang
para
tentara melakukan
tembakan
kecuali
untuk pertahanan
diri.
Koizumi menolak
argumen
tersebut dan
mengatakan
hal
tersebut sangat
dipahami
oleh
dunia internasional
di mana
warga
Jepang menolak
semua
aktivitas militer
dan
secara aktif
memberikan
kontribusi
kepada
perdamaian global serta
stabilitasnya.
Ia
mengatakan
konstitusi
tersebut
harus
lebih diadaptasikan
agar sesuai
dengan
modernitas Jepang
saat
ini, namun
ia
menekankan akan
ada
banyak waktu
untuk
mendiskusikan amandemen
ini.
"Saya
menginginkan
digelarnya
debat
nasional untuk
masuk
menelusuri lebih
dalam
mengenai konstitusi
apa yang
harus
diterapkan dalam era
baru
seperti sekarang
ini,"
katanya sambil
memberi
catatan bahwa
pemimpin
utama
pihak oposisi
juga
mendukung amandemen
konstitusi.
Sebuah
survai yang
dilakukan Mainichi
Shimbun
menemukan hampir 85
persen
dari anggota
baru
parlemen rendah
Jepang
mendukung perubahan
konstitusi
cinta
damai 1947.
Bulan
lalu
sebuah draf yang
disampaikan
oleh
partai Koizumi memaparkan
jika
Jepang mengubah
konstitusi
tersebut agar
negara
ini diketahui
memiliki
angkatan
militer,
daripada
apa yang
diketahui
sekarang
dengan
nama "Pasukan
Pertahanan
Nasional,"
namun
tetap akan
menerapkan
konstitusi
cinta
damai.
Koizumi juga
mendapat
kritikan
di
parlemen karena
melemahkan
hubungan
dengan
negara-negara tetangga
Asia akibat
kunjungan
tahunannya
menuju
sebuah kuil
perang
kontroversial yang dipandang
oleh
Cina dan Korea
Selatan
sebagai simbol
tindakan
militer
Jepang di
masa
lalu. (ton/afp)