kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 29 September 2005

 Mancanegara


Nasionalisme
Koizumi Dikritik Oposisi  

Tokyo -
Baru
saja menang mutlak dalam pemungutan suara, Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi mendapat cercaan keras oleh parlemen Rabu (28/9) kemarin akibat dugaaan menambah panas nasionalisme dan merusak hubungan dengan negara-negara tetangga Asia.

Kritikan tajam ini meluncur setelah Koizumi memaparkan pendapatnya dalam sebuah wawancara dengan sebuah harian Inggris. Dalam wawancara tersebut ia mengatakan akan berkunjung lagi menuju sebuah kuil perang yang kontroversial untuk menghormati pahlawan perang Jepang termasuk kaum kriminal perang, pada akhir tahun ini.

"Semakin banyak orang kini semakin khawatir mengenai pemerintahan dengan koalisi raksasa kemungkinan akan keluar kontrol dan negara kami mungkin kembali menyusuri jalan (menuju perang) yang pernah kami jelajahi," kata Yukio Hatoyama, deputi kepala Partai Demokratik selaku pihak oposisi.

Koizumi meraih sebuah kemenangan bersejarah pada pemilihan 11 September, memberikan koalisi partainya dengan dukungan dari sebuah partai Buddha hingga dia menduduki lebih dari dua pertiga kursi di parlemen rendah.

Kemudian pada debat pertama mengenai parlemen, Hatoyama mengatakan orang-orang kini menaruh perhatian tinggi mengenai koalisi yang berkuasa sekarang akan secepat mungkin untuk merevisi konstitusi cinta damai, yang melarang para tentara melakukan tembakan kecuali untuk pertahanan diri.

Koizumi menolak argumen tersebut dan mengatakan hal tersebut sangat dipahami oleh dunia internasional di mana warga Jepang menolak semua aktivitas militer dan secara aktif memberikan kontribusi kepada perdamaian global serta stabilitasnya.

Ia mengatakan konstitusi tersebut harus lebih diadaptasikan agar sesuai dengan modernitas Jepang saat ini, namun ia menekankan akan ada banyak waktu untuk mendiskusikan amandemen ini.

"Saya menginginkan digelarnya debat nasional untuk masuk menelusuri lebih dalam mengenai konstitusi apa yang harus diterapkan dalam era baru seperti sekarang ini," katanya sambil memberi catatan bahwa pemimpin utama pihak oposisi juga mendukung amandemen konstitusi.

Sebuah survai yang dilakukan Mainichi Shimbun menemukan hampir 85 persen dari anggota baru parlemen rendah Jepang mendukung perubahan konstitusi cinta damai 1947.

Bulan lalu sebuah draf yang disampaikan oleh partai Koizumi memaparkan jika Jepang mengubah konstitusi tersebut agar negara ini diketahui memiliki angkatan militer, daripada apa yang diketahui sekarang dengan nama "Pasukan Pertahanan Nasional," namun tetap akan menerapkan konstitusi cinta damai.

Koizumi juga mendapat kritikan di parlemen karena melemahkan hubungan dengan negara-negara tetangga Asia akibat kunjungan tahunannya menuju sebuah kuil perang kontroversial yang dipandang oleh Cina dan Korea Selatan sebagai simbol tindakan militer Jepang di masa lalu. (ton/afp)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)