Bentrok,
Empat
Korban Tersabet
Pedang
Denpasar
(Bali Post)
-
Bali
Post/edi
AMANKAN - Polisi mengamankan lokasi ketika terjadi
bentrokan dua kelompok di Denpasar. Dalam bentrokan itu
empat orang luka-luka tersabet pedang.
Dua
kelompok yang
melibatkan
puluhan
orang bentrok
di
Jalan Karna,
Denpasar,
Rabu (28/9)
malam
kemarin pukul 19.30
wita.
Akibatnya,
empat
korban luka-luka.
Dua
di
antaranya dilarikan
ke
rumah sakit.
Situasi
tegang
mewarnai dua
banjar
bertetangga -- Belaluan
dan
Lelangon -- hingga
pukul 22.00
wita.
Kelompok
yang terlibat
bentrokan
melengkapi
diri
dengan pentungan,
pedang,
parang, dll.
Dua
korban berasal
dari
Banjar Lelangon,
salah
seorang atas
nama
Hari
Wijaya.
Ia sempat
dirawat
di RSAD Denpasar.
Sementara
warga
Belaluan yang jadi
korban
adalah Ketut
Ngurah
Sudarsana, sedangkan
dua
korban lagi
tak
dibawa ke
rumah
sakit karena
mengalami
luka
ringan.
Informasi
di TKP,
Hari Wijaya alias
Enol (27) yang
tinggal
di Jalan
Karna No. 28
kena
tebas pada
bagian
kepala.
Korban
dilarikan
ke RSAD
dan menderita
luka
dengan 14 jaritan.
Enol
yang mendapat
serangan
tak
bisa memberi
perlawanan
berarti.
Saat
itu
korban sedang
sendiri
di rumahnya.
Kaca
belakang mobil
Kijang DK 1396 JU yang
diparkir
di
garase juga
jadi
sasaran
massa.
Mendengar
ada
pengeroyokan, warga
Banjar
Lelangon membunyikan
kentongan.
Akibatnya,
warga pun
serentak
turun
ke jalan
dengan
membawa senjata.
Situasi
kian
panas.
Kelompok
yang emosi
mengejar
ke arah
timur
hingga ke
pertigaan
Jalan
Karna dan
Kresna.
Secara
kebetulan,
di TKP
ada satu
orang
tercecer dari
kelompok yang
berasal
dari Banjar
Belaluan.
Tak
pelak,
Ketut Ngurah
Sudarsana yang
lepas
dari kelompoknya
menjadi
bulan-bulanan.
Korban
kena
tebas pada
bagian
muka sampai
ke
hidung.
Pria
yang tinggal
di
Jalan Veteran itu
dilarikan
ke RS
Wangaya dan
menderita 12
jaritan.
Korban
jatuh
lebih banyak
dapat
dihindari berkat
kesigapan
aparat.
Polsek
Denbar
menurunkan kekuatan
penuh
dibantu satu
pleton
pasukan Dalmas
Polda Bali.
Kabag Ops
Poltabes
Kompol
Wisnu Putra,
Kasat
Samapta Kompol
Surpa
dan Kasat
Reskrim
Kompol Faizal
Thayeb
juga turun
ke TKP.
Jalan
Karna
diblokir.
Data di
kepolisian menyebutkan,
bentrok
antarkelompok di
Jalan
Karna dipicu
kesalahpahaman.
Pada
Selasa (27/9)
malam,
Tut De lewat
di
Banjar Lelangon.
Entah
karena
apa, Tut De
dipukul.
Hal
ini
dilaporkan kepada
Ngurah
Sudarsana.
Pada
Rabu (28/9)
kemarin,
Sudarsana
mendatangi
pemuda
di Banjar
Lelangon
menanyakan
siapa yang
memukul
Tut De.
Entah
bagaimana,
sekitar 25
orang
bergerak menuju
Banjar
Lelangon. Mereka
beraksi
tepat di
depan
rumah
Enol.
Damai
di
Mapolsek
Kasat
Samapta
Kompol Surpa
melakukan
pendekatan
kepada
warga Belaluan.
Sementara
di
Mapolsek Denbar
sudah
berkumpul pengurus
Banjar
Lelangon, termasuk
Klian
Adat Putu
Patra.
Tak
lama berselang,
datang
Klian Banjar
Belaluan GA
Putu
Nurjaya.
Kapoltabes
Kombes
Pol. Parsana
sudah
terlebih dulu
berada
di tempat
itu.
Setelah
melakukan
pertemuan
tertutup 30
menit,
kedua belah
pihak
sepakat damai yang
tertuang
dalam
selembar kertas.
Putu
Patra
dan Nurjaya
menyatakan
kasus
bentrokan di
Jalan
Karna akibat
salah
paham dan
bersifat
pribadi.
Jadi,
tidak
ada hubungan
dengan
banjar.
''Ini
persoalan
pribadi,
Banjar
Lelangon dan
Belaluan
tidak
ada masalah,''
tegas
Patra disetujui
Nurjaya.
Kombes
Parsana
menyatakan kasus
berdarah
di
Jalan Karna
murni
akibat salah
paham
antarpribadi.
Warga
banjar
diminta tenang
dan
melaksanakan aktivitas
seperti
biasa. Toh
begitu,
polisi punya
dua
tugas masing-masing
meredam
emosi
massa
dan
menegakkan hukum.
''Ada
dua
korban, dan
polisi
masih melakukan
lidik,''
ucapnya.
Ditanya
apakah
ada tersangka,
Kapoltabes
mengatakan
penyidik
harus
mendengarkan keterangan
saksi-saksi
dulu.
Barang
bukti
sudah terkumpul,
namun
belum ada yang
ditetapkan
sebagai
tersangka. (tim
BP)