Bercermin
pada
pengalaman negara
lain, krisis
energi
dan
krisis ekonomi
dijadikan momentum
awal yang
kuat
guna
memanfaatkan
energi
secara optimal.
-------------------------------------
Dilema
dan
Peluang Penghematan
Energi
Oleh
Achmad Ali
INDONESIA
yang sedang
terengah-engah
akibat
kenaikan
nilai
dolar dan
tingginya
harga
minyak dunia,
belakangan
ini
hanya sanggup
mengamankan
supai
untuk 15 - 20 hari
ke
depan.
Karena
itu,
keluarnya Instruksi
Presiden
Nomor 10
tahun 2005
tentang
penghematan
energi
menjadi
kian
penting.
Hal ini
diperlukan
sebagai
upaya
untuk mendorong
lembaga
pemerintah
dan
masyarakat pada
umumnya
mengurangi
penggunaan
energi,
khususnya BBM
dan
listrik.
----------------------------------------
Andaikan
gerakan
penghematan
energi
itu
mampu mengurangi 10
persen
saja
dari konsumsi BBM,
maka
akan
ada
pengurangan beban
subsidi
lebih
dari Rp 12
trilyun.
Sebaliknya,
tanpa
penghematan dengan
harga
minyak dunia 60
dolar AS per
barel,
jumlah
subsidi
dalam APBN
akan
membengkak
menjadi
sekitar
Rp 150
trilyun.
Bila
hal ini
terjadi
sudah
tentu
akan membebani
kondisi
keuangan
pemerintah.
Ujung-ujungnya,
harga BBM
dinaikkan
lagi
bila tak
mau
subsidi terus
bertambah.
Dalam
suatu
kesempatan, Menteri
Keuangan
Jusuf
Anwar menyatakan,
ketahanan APBN
untuk
membiayai subsidi
BBM akan
sangat
tergantung
pada
jumlah produksi
minyak (lifting)
dalam
negeri hingga
akhir
tahun 2005. Jika
produksi
minyak per
hari
lebih rendah
dari
produksi rata-rata saat
ini 1,070
juta
barel, beban
subsidi BBM yang
ditanggung
pemerintah
akan
membengkak lebih
dari
Rp 126 trilyun.
Akibatnya,
defisit APBN 2005
akan
lebih
dari Rp 20
trilyun.
Jumlah
subsidi
sebesar
Rp 126
trilyun
itu
dapat terjadi
jika
konsumsi BBM dalam
negeri
menjadi 65,56
juta kiloliter (10%
dari
kuota 59,6 juta
kiloliter). Jumlah
subsidi
tersebut
akan
terjadi jika
harga
minyak mencapai 60
dolar AS per
barel
dan produksi
minyak
mencapai 1,070
juta
barel per hari,
dengan
nilai
tukar rata-rata sekitar
Rp 9.556 per
dolar AS.
Mengefisienkan
penggunaan
anggaran
dan
memperkecil tingkat
kebocoran
bisa
dijadikan pilihan.
Namun,
siapa yang
bisa
menjamin semua
itu
akan
ada
pengaruh langsung
dalam
bentuk penghematan?
Lihat
saja,
dalam tubuh
Pertamina
sendiri ''inefisiensi''
masih
kerap terjadi.
Tak
hanya itu, PLN yang
menggunakan BBM
sebagai
bahan
bakar unit pembangkitnya
setiap
tahun
mengalami ''inefisiensi''
proses
produksi
sekitar 5 - 7
persen,
di
samping biaya
produksi
pembangkitan yang
membengkak
akibat
penggunaan BBM.
Angka 5 - 7
persen
mungkin
relatif
kecil,
namun
jika dikalikan
dengan
jumlah unit
pembangkit
dan
berapa ribu watt
yang dihasilkan,
maka
akan
menjadi
angka yang
fantastis
untuk
dihemat.
Pemanfaatan
Optimal
Bercermin
pada
pengalaman negara
lain, krisis
energi
dan
krisis ekonomi
dijadikan momentum
awal yang
kuat
guna
memanfaatkan
energi
secara optimal.
Di
Jepang, misalnya,
krisis
minyak yang
melanda
negara
itu
pada era 1970-an
dan 1980-an
telah
menjadi langkah
awal
dari pelaksanaan
konservasi
dan
diversifikasi energi.
Konservasi
energi yang
diartikan
sebagai
penggunaan
energi
secara
efisien
tanpa
mengurangi kualitas
produk yang
dihasilkan
dan
diversifikasi energi
yang diartikan
sebagai
penggunaan
jenis
energi lain yang
lebih
murah dan
bersih,
telah
berhasil dilaksanakan
dengan
sukses
di
negeri sakura
tersebut.
Untuk
mendapatkan
nilai
tambah per 1.000 dolar
AS, pada
tahun 1970,
Jepang
membutuhkan
energi primer
setara 3
barel
minyak.
Pada
tahun 2000
telah
turun di
bawah
kisaran satu
barel
minyak. Pada
periode yang
sama Indonesia
membutuhkan
energi primer
setara 1,8
barel
minyak untuk
mendapatkan
nilai
tambah per 1.000 dolar
AS. Pada
tahun 2000
meningkat
pada
kisaran 4,8
barel
minyak. Artinya,
pada
rentang waktu yang
sama
penggunaan
energi per
satuan
produk (intensitas
energi) yang
dipakai
oleh
Jepang jauh
lebih
mengalami penghematan
dibandingkan Indonesia (Ismail
Fahmi, 2004).
Dengan
keluarnya
Inpres
Nomor 10/2005
hendaknya
kita
jadikan momentum awal
bagi
kebangkitan Indonesia
dalam pelaksanaan
optimalisasi
penghematan
energi.
Sebab,
dari
pengalaman dan
hasil audit yang
telah
dilakukan PT Koneba
(Persero) --
sebuah BUMN yang
bergerak
di
bidang manajemen
energi --
peluang
untuk
melakukan penghematan
(efisiensi)
energi
di
berbagai sektor
pengguna
masih
besar. Sektor
industri
memiliki
peluang
penghematan
energi 15 - 20
persen;
transportasi 10 - 25
persen;
bangunan
komersial 10 - 30
persen
dan
sektor rumah
tangga 15 - 30
persen
dari total
keseluruhan
penggunaan
energi.
Menurut
Dirut PT
Koneba (Persero)
Gannet Pontjowinoto,
salah
satu kunci
bagi
suksesnya program
konservasi dan
diversifikasi
energi
adalah
pelaksanaannya
harus
secara terintegrasi
di
seluruh bidang.
Pada
skala
makro, menurutnya,
pelaksanaan program
tersebut
harus
didukung oleh
pemerintah,
difasilitasi
pembiayaannya
oleh
institusi keuangan,
diimplementasikan
oleh
seluruh sektor
serta
didukung SDM yang andal
dan
profesional.
Sementara
itu,
untuk skala
mikro,
di
pabrik atau
perusahaan,
konservasi
dan
diversifikasi energi
harus
didukung pucuk
pimpinan,
dilakukan
seluruh
karyawan
dan
difasilitasi tenaga
profesional.
Beberapa
peluang
diversifikasi
energi yang
telah
diimplementasikan pelaku
industri
nasional,
antara lain,
menggantikan BBM
dengan
jenis
energi yang lebih
bersih
atau
murah seperti gas
dan
batu
bara.
Namun
sayangnya,
sebagian
besar
pelaku ekonomi
dan
bisnis belum
menyadari
pentingnya
konservasi
dan
diversifikasi energi.
Kenaikan
harga
energi yang langsung
berpengaruh
pada
biaya produksi,
biasanya
langsung
diantisipasi
dengan
menaikkan
harga
produk jadi
atau
lebih drastis
dalam
bentuk pengurangan
karyawan (baca:
PHK). Padahal
dengan
melakukan
upaya
konservasi dan
diversifikasi,
kenaikan
harga
energi dapat
diantisipasi
dari
waktu ke
waktu.
Artinya,
perusahaan
juga
akan
lebih
kompetitif karena
biaya
energi dapat
lebih
rendah.
Tanpa
harus
mengurangi aktivitas
ekonomi,
pemakaian yang
sifatnya
konsumtif
atau
sekadar untuk
kenyamanan
dan
kemewahan sudah
saatnya
untuk
dikurangi.
Bangsa
ini
harus belajar
hemat
dan efisien
di
segala bidang.
Justru
karena
itu,
pemerintah perlu
terus
memikirkan langkah-langkah
yang lebih
efektif
dengan
suatu
kebijakan yang mengena
langsung
kepada
upaya
penghematan energi.
Sebab,
peluang
untuk
itu tetap
ada
dan masih
terbuka
lebar.
Penulis,
analis
Statistik
Lintas
Sektor,
Badan
Pusat Statistik
(BPS) Propinsi Bali