Empat
Tentara
Tewas di Thailand
Selatan
Thailand -
BP/afp
Tewas - Dua tentara Thailand memeriksa area dekat mayat
seorang tentara yang ditembak mati oleh pemberontak di
propinsi Yala Thailand selatan Selasa (27/9) kemarin.
Empat tentara yang sedang berpatroli tertembak tewas
akibat penyerangan yang dilancarkan pembrontak.
Empat
tentara yang
sedang
berpatroli tertembak
mati
Selasa (27/9) kemarin.
Mereka
diserang pemberontak
di Thailand
Selatan yang
dihuni
mayoritas Muslim. Ini
merupakan
insiden
penyerangan terbaru
terhadap
tentara
dan polisi
dalam
beberapa pekan
terakhir.
"Tentara-tentara
sial
ini berpatroli
menggunakan
sepeda motor
saat
para pemberontak
menyerang
mereka
dan merampok
senjata-senjata
otomatis,"
kata
Letnan Kolonel
Mustorpha
Mani
kepada wartawan.
Mereka
berpatroli
di
jalan dekat
Desa
Chakwua Propinsi
Yala,
tepat di
depan
konvoi rombongan
guru-guru saat
aksi
penyerangan terjadi
sekitar
pukul 02.30 siang,
katanya.
Guru-guru dan
sekolah-sekolah yang
dipandang
sebagai
simbol dari
pengaruh Bangkok,
sering
menjadi target penembakan,
pengeboman
dan
serangan mematikan
lainnya.
Polisi-polisi
bersenjata
dan
tentara kemudian
mengantarkan guru
baik
menuju dan
keluar
sekolah setiap
harinya.
Setelah
penyerangan
berakhir,
para
militan kemudian
membakar ban-ban
karet,
menyebarkan paku-paku
dan
merobohkan pepohonan
di
jalan sebagai
langkah
untuk mencegah
pasukan
keamanan melakukan
pengejaran,
kata
Letnan Jendral AD
Adul
Seangsingkoae.
Adul
mengatakan
ia
sudah memerintahkan
500 pasukan
menuju area TKP.
Sebelumnya,
seorang guru Muslim
ditembak
mati
oleh tersangka
pemberontak Islam
di
propinsi tetangga
Pattani,
kata
polisi.
Surasen
Mama (30) seorang guru
di
sekolah Prasarnwittaya
tewas
ketika para
tersangka
militan
menghujani mobilnya
dengan
berondongan peluru,
saat ia
berangkat
menuju
tempat kerja.
Kematian
para
tentara ini
terjadi
setelah empat
hari
sebelumnya dua
staf
kepolisian meregang
nyawa
dalam sebuah
aksi
pengeboman saat
mengantarkan guru-guru
menuju
sekolah di
propinsi
dekat
Narathiwat dan
satu
pekan setelah
dua
marinir dijadikan
sandera yang
kemudian
dibunuh
dengan brutal.
Drama penyanderaan
pekan
lalu selama 18 jam
tersebut,
menimbulkan
perhatian
negara
dan ucapan
belasungkawa
dari
keluarga kerajaan
kepada
para keluarga yang
ditinggalkan.
Juga
memberikan sebuah
lecutan
bagi PM Thaksin
Shinawatra
untuk
memburu dan
menghabisi "binatang
buas" yang
membunuh
mereka.
Bahan
Peledak
Sementara
dari Filipina
dilaporkan
personel
mata-mata AL
berhasil
menemukan
jejak
lebih dari
dua ton
bahan-bahan yang digunakan
untuk
membuat bahan
peledak
dalam sebuah
penggerebekan
di Filipina
selatan,
kata
staf setempat
Selasa
kemarin.
Tentara
kemudian
bergerak
menuju
sebuah gudang
penyimpanan
di
sebuah pulau
Basilan,
wilayah basis
kekuatan
militan Abu
Sayyaf
jaringan Al-Qaeda
dan
mengamankan 42 tas
yang berisi
lebih
dari dua ton ammonium
nitrat,
kata kepala AL
regional Komodor
Rufino Lopez.
Amonium
nitrat
adalah bahan
kimia yang
digunakan
sebagai
pupuk, namun
saat
bahan ini
dicampurkan
dengan
minyak dan
bubuk
mesiu, maka
campuran
ini
dapat berubah
menjadi
bom dengan
kekuatan
dahsyat. (ton/afp)