kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 28 September 2005

 Ekonomi


Kenaikan
BBM tidak Tepat Waktu

Denpasar (Bali Post) -
Kenaikan
harga BBM akan menyengsarakan masyarakat jika dilakukan pada Oktober ini. Sebab, pada bulan itu, masyarakat Indonesia sedang merayakan hari raya. Masyarakat Bali misalnya akan merayakan Galungan dan Kuningan. Pada saat itu, pengeluaran akan besar, dan akan semakin besar bila ditambah dengan kenaikan BBM.

Demikian kesimpulan diskusi Pergerakan Indonesia (PI) tentang sikap politik mengenai kenaikan tarif BBM di Ashram Gandhi Puri, Selasa (27/9) kemarin. Diskusi yang dipandu Lanang Perbawa dan I Putu Alit Bagiasna, Sm.Hk mengatakan, subsidi BBM selalu menjadi momok bagi setiap pemerintahan. Bahkan, keselamatan pemerintahan sering diukur dari kemampuannya untuk mengelola BBM. Kondisi ini sebenarnya sangat riskan. Tetapi, pemerintah telah meletakkan kesalahan subsidi BBM dari sejak lama. Karena itu, ini kemudian menjadi momok bersama.

Menurut dia, pemerintah seharusnya mensubsidi sektor lainnya, seperti pertanian. Tetapi pemerintah ternyata telah mensubsidi BBM. Karena itu, masyarakat akhirnya sangat tergantung pada subsidi. Pemerintah selanjutnya mengalami persoalan untuk melakukan subsidi. ''Tetapi ini memang harus dilakukan,'' tegasnya.

Ngurah Karyadhi, aktivitas gaek menambahkan, subsidi telah meletakkan Indonesia pada posisi ketergantungan kepada perusahaan asing yang mengelola minyak. Pemerintah tidak bisa melepaskan diri dari posisi ini. Karena itu, persoalan BBM selanjutnya menjadi momok bagi kita semua.

Momok ini, tegasnya, mesti dihadapi saat ini. Pemerintah mau tidak mau tidak bisa melakukan subsidi lagi. Akan tetapi, pemerintah telah menyiapkan jurus untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak. Yakni dengan memberikan pengganti subsidi kepada masyarakat miskin pedesaan.

Melalui dana ini, tegasnya, masyarakat desa akan mendapatkan keuntungan. Tetapi masyarakat miskin perkotaan akan paling banyak merasakan dampaknya. Mereka bisa terkena PHK dan hapusnya berbagai lapangan pekerjaan. Hal ini memang bisa menyulut gerakan di perkotaan jika tidak dihadapi.

Menurut Agus Indra Udayana Pengasuh Ashram Gandhi Puri, pemerintah sekarang seharusnya lebih peka dan mempunyai empati pada rakyatnya, karena menjelang beberapa hari besar keagamaan dalam beberapa bulan kebelakang sekaranglah suara rakyat didengar. Karena itu, kurang tepat dan bijaksana kalau harga BBM naik pada bulan Oktober. Untuk meredam situasi sosial, Gus Indra menyarankan presiden mengambil sikap bijaksana dan segera menunda keputusan untuk menaikkan BBM dan sebaliknya kepada masyarakat hendaknya berprilaku bijaksana dalam menyikapinya pula. (027/*)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)