Kenaikan
BBM tidak
Tepat
Waktu
Denpasar
(Bali Post) -
Kenaikan
harga BBM
akan
menyengsarakan
masyarakat
jika
dilakukan pada
Oktober
ini.
Sebab,
pada
bulan itu,
masyarakat
Indonesia
sedang
merayakan
hari
raya.
Masyarakat Bali
misalnya
akan
merayakan
Galungan
dan
Kuningan. Pada
saat
itu, pengeluaran
akan
besar,
dan
akan semakin
besar
bila ditambah
dengan
kenaikan BBM.
Demikian
kesimpulan
diskusi
Pergerakan Indonesia (PI)
tentang
sikap
politik mengenai
kenaikan
tarif BBM
di Ashram Gandhi
Puri,
Selasa (27/9) kemarin.
Diskusi
yang dipandu
Lanang
Perbawa
dan I
Putu Alit Bagiasna,
Sm.Hk mengatakan,
subsidi BBM
selalu
menjadi
momok
bagi setiap
pemerintahan.
Bahkan,
keselamatan
pemerintahan
sering
diukur
dari
kemampuannya untuk
mengelola BBM.
Kondisi
ini
sebenarnya sangat
riskan.
Tetapi,
pemerintah
telah
meletakkan kesalahan
subsidi BBM
dari
sejak lama.
Karena
itu,
ini kemudian
menjadi
momok
bersama.
Menurut
dia,
pemerintah seharusnya
mensubsidi
sektor
lainnya,
seperti
pertanian.
Tetapi
pemerintah
ternyata
telah
mensubsidi BBM.
Karena
itu,
masyarakat akhirnya
sangat
tergantung
pada
subsidi.
Pemerintah
selanjutnya
mengalami
persoalan
untuk
melakukan subsidi.
''Tetapi
ini
memang harus
dilakukan,''
tegasnya.
Ngurah
Karyadhi,
aktivitas
gaek
menambahkan, subsidi
telah
meletakkan Indonesia pada
posisi
ketergantungan
kepada
perusahaan
asing yang
mengelola
minyak.
Pemerintah
tidak
bisa melepaskan
diri
dari posisi
ini.
Karena
itu,
persoalan BBM selanjutnya
menjadi
momok
bagi kita
semua.
Momok
ini,
tegasnya, mesti
dihadapi
saat
ini.
Pemerintah
mau
tidak mau
tidak
bisa melakukan
subsidi
lagi.
Akan
tetapi,
pemerintah
telah
menyiapkan jurus
untuk
mengantisipasi kemungkinan
gejolak.
Yakni
dengan
memberikan
pengganti
subsidi
kepada
masyarakat
miskin
pedesaan.
Melalui
dana
ini,
tegasnya, masyarakat
desa
akan mendapatkan
keuntungan.
Tetapi
masyarakat
miskin
perkotaan
akan
paling banyak
merasakan
dampaknya.
Mereka
bisa
terkena PHK dan
hapusnya
berbagai
lapangan
pekerjaan.
Hal
ini
memang bisa
menyulut
gerakan
di
perkotaan jika
tidak
dihadapi.
Menurut
Agus
Indra Udayana
Pengasuh Ashram Gandhi
Puri,
pemerintah sekarang
seharusnya
lebih
peka dan
mempunyai
empati
pada
rakyatnya, karena
menjelang
beberapa
hari
besar keagamaan
dalam
beberapa bulan
kebelakang
sekaranglah
suara
rakyat didengar.
Karena
itu,
kurang tepat
dan
bijaksana kalau
harga BBM
naik
pada bulan
Oktober.
Untuk
meredam
situasi
sosial, Gus
Indra
menyarankan presiden
mengambil
sikap
bijaksana dan
segera
menunda
keputusan
untuk
menaikkan BBM dan
sebaliknya
kepada
masyarakat
hendaknya
berprilaku
bijaksana
dalam
menyikapinya pula.
(027/*)