Weda Wakya---
Tetap Berada di Jalan ''Dharma''
Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan,
patitis ikang jnyana sandi, galang apadang
Maryakena sarwa byaparaning hidep.
(Kutipan Lontar Sunarigama).
Maksudnya: Budha Kliwon Dungulan
disebut Galungan, mengarahkan bersatunya ilmu
pengetahuan suci (jnyana) untuk mencapai jiwa yang
terang (galang apadang). Jiwa yang teranglah dapat
menghilangkan semua pikiran yang kacau.
Merayakan Galungan hendaknya tidak
berhenti pada kegiatan ritual dan bergembira ria
semata. Kegiatan ritual itu hendaknya dilanjutkan
dengan kegiatan individual dan sosial untuk
meningkatkan kualitas moral dan daya tahan mental.
Perayaan Galungan sebagai media sakral mengingatkan
umat manusia untuk senantiasa menguatkan diri agar
dapat selalu hidup berada di jalan dharma.
Umat Hindu di Bali sudah merayakan
Galungan seribu tahun lebih. Karena itu sudah
sepantasnya perayaan Galungan ini sepatutnya kita
evaluasi lebih mendalam lagi. Selama ini sudahkah
perayaan Galungan kita rayakan sesuai dengan teks
petunjuknya seperti kutipan Lontar Sundarigama di atas.
Pada zaman kali ini, Galungan
semestinya kita rayakan lebih mendalam. Dalam
hiruk-pikuknya dunia modern, eksistensi godaan hidup
semakin menguat. Godaan hidup itu mengarahkan umat
manusia semakin menjauh dari dharma. Gejolak adharma
semakin menguat dalam berbagai wujud. Ada yang
berwujud kekerasan fisik, arogansi kelompok, pemaksaan
kehendak, kecanduan narkoba dan sejenisnya. Bahkan,
gejolak itu ada yang mengatasnamakan kelompok agama.
Hal ini semestinya tidak terjadi. Karena ajaran agama
disabdakan oleh Tuhan bukan untuk mendorong
penganutnya untuk bersikap arogan. Untuk menanggulangi
hal itu salah satu caranya melalui perayaan Galungan
yang lebih mendalam ke dalam diri. Seperti dinyatakan
dalam Lontar Sunarigama, Galungan semestinya dirayakan
dengan mengarahkan diri untuk lebih memfokuskan pada
pemaknaan jnyana atau ilmu pengetahuan suci Veda.
Dengan demikian kita berharap keadaan diri semakin
cerah atau jiwa yang galang apadang.
Semakin tertantangnya dharma oleh
adharma sebagai penyebab merosotnya moral dan daya
tahan mental umat, menyebabkan orientasi hidup manusia
modern semakin hedonis -- mengejar kenikmatan indriawi
di luar kontrol kesadaran budhi.
Hal inilah yang wajib kita terus
munculkan dalam setiap perayaan Galungan. Jangan
justru Galungan dirayakan dengan cara bertentangan
dengan substansinya atau tattwa-nya sendiri.
Perayaan Galungan hendaknya sebagai
gerakan moral untuk lebih mendalam melakukan
pencerahan diri dengan ajaran suci Veda. Karena itu,
perayaan Galungan hendaknya semakin lebih mendalam
menuju penguatan spiritualitas diri. Perayaan Galungan
dengan menonjolkan pesta pora untuk berhura-hura
sangat bertentangan dengan substansi perayaan Galungan
itu sendiri. Perayaan memenangkan dharma ini dapat
kita bandingkan dengan perayaan Wijaya Dasami di
India.
Perayaan untuk memenangkan dharma
dilakukan dengan empat tahap. Tahap pertama dilakukan
dengan memuja Tuhan sebagai Dewi Durga. Tujuannya
untuk membangun keheningan diri dengan menghancurkan
niat-niat buruk yang sering menyelinap dalam jiwa.
Dengan diri yang hening itu dilanjutkan dengan memuja
Tuhan sebagai Dewi Saraswati. Tujuannya untuk menyerap
ilmu pengetahuan suci. Hanya diri yang heninglah yang
akan dapat menyerap ilmu pengetahuan suci itu melalui
Dewi Saraswati. Karena waranugraha Dewi Saraswati-lah
ilmu itu akan dapat diserap dengan baik tanpa
menimbulkan egoisme. Kalau ilmu pengetahuan suci itu
dapat diserap dengan sebaik-baiknya maka ilmu itu
harus diarahkan untuk membenahi kehidupan individual
dan sosial. Karena itu dilanjutkan dengan pemujaan
Tuhan sebagai Dewi Laksmi. Atas restu Dewi Laksmi
menjadikan ilmu sebagai sarana untuk membangun
kehidupan yang sejahtera lahir batin. Dewi Laksmi
adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi
Kesejahteraan.
Tahap akhir perayaan Wijaya Dasami
yaitu memuja Tuhan sebagai Dewa Ganesa dan juga
kembali Dewi Laksmi. Tujuannya untuk melindungi upaya
menyebarkan kesejahteraan. Ganesa adalah Wighna Dewa
artinya dewa penghancur halangan hidup. Ganesa juga
sebagai Winayaka Dewa atau Dewa Kebijaksanaan. Ini
artinya sifat bijaksana itulah yang menjadi pelindung
kehidupan yang sejahtera. Dengan kata lain pemujaan
Ganesa dan Laksmi sebagai lambang tercapainya aman dan
sejahtera wujud kemenangan dharma.
* Ketut Gobyah