Gerakan
Pembaruan
Potensial
Gembosi PDI-P
Denpasar
(Bali Post) -
Aksi
loncat
pagar
sejumlah kader PDI-P
menjadi
pengurus
kolektif
Gerakan
Pembaruan PDI-P
potensial
menggembosi PDI-P.
Kondisi
semacam
bukanlah
hal
baru, mengingat
konflik yang
berakhir
pada
lahirnya partai
sempalan
sudah
sering melanda PDI-P.
Wakil
Ketua
Dewan Pertimbangan
Daerah PDI-P Bali Ida
Bagus
Suryatmaja mengatakan
hal
itu, Selasa (27/9)
kemarin.
''Sekarang
gerakan
pembaruan
itu
baru cikal
bakal
sebuah partai,''
ujarnya.
Namun,
kalau
gerakan pembaruan
ini
tak diizinkan,
batallah
menjadi
sebuah
partai.
Dia
tak
memungkiri partai
berasas
marhaenis
rentan
terhadap
perpecahan.
Sejak
kelahiran PNI
di era Bung
Karno,
orde
baru sampai era
reformasi
saat
ini perpecahan
itu
terjadi.
Di
era orde
baru, PDI
pecah
menjadi PDI Soerjadi
dan PDI-P Megawati.
Kemudian
di era
reformasi,
muncul
sempalan PDI-P
yakni PITA (Partai
Indonesia Tanah Air)
dan PNBK.
''Ada
yang tenggelam
ketika
layar
baru berkembang,
ada yang
layar
sudah berkembang
tetapi
tak
sampai pada
sasaran,''
ungkapnya.
Suryatmaja
mengakui
aksi
loncat pagar
kader PDI-P
disebabkan
terjadi
degradasi
ideologi.
Terjadi
kesenjangan
ideologi
dengan
kepentingan
fragmatis
sempit
saat
ini.
''Banyak
yang loncat
pagar
karena belum
siap
secara ideologis,''
ujarnya.
Kondisi
inilah yang
menyebabkan
kekecewaan
sejumlah
kader PDI-P yang
merasa
tak
terakomodasi lagi
aspirasinya
di
partai berlambang
banteng
dalam
lingkaran mulut
putih
itu.
Pihaknya
sudah
pernah membicarakan
hal
itu ketika
bertemu
dengan Megawati
bersama
Soetardjo
Soeryogoeritno
beberapa
waktu
lalu di Hotel
Congrad
Nusa
Dua.
''Pak Tardjo
sendiri
mengakui
hal
itu,'' katanya.
Degradasi
ideologi
partai
tak
hanya terjadi
pada era
orde
baru.
Pada
era reformasi, PDI-P
sendiri
terlambat
mengantisipasi.
''Reformasi
dengan
euforia
kemenangan PDI-P
menjadikan
pengurus
kasep
tangkis mengantisipasi
degradasi
ideologi
ini,''
katanya.
Kemenangan
yang tiba-tiba
itu
membuat kader
terlambat
mengantisipasi
lantaran
pemilih
melihat
pada
figur Megawati
Soekarnoputri.
Diakui,
degradasi
ideologi
kader
menyebabkan terjadinya
labilitas.
Kader
yang labil
begitu
mudah
terpengaruh oleh
sesuatu yang
baru yang
belum
tentu lebih
baik
ketimbang sebelumnya.
Dia
pun tak
memungkiri
aksi
loncat pagar
itu
juga disebabkan
hal-hal
sepele,
kecewa
atau
ngambul karena
tak
lagi diakomodasi
menjadi
pengurus.
Aksi
loncat
pagar
juga terjadi
lantaran
tergiur
bau
cengkeh atau
melati.
''Saya
sebagai
mantan
ketua
cabang tak
diundang
konfercab
di
Badung beberapa
waktu
lalu, namun
tetap
berada di
barisan PDI-P,''
katanya.
(029)