kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 28 September 2005

 Bali


Gerakan
Pembaruan Potensial Gembosi PDI-P

Denpasar (Bali Post) -
Aksi
loncat pagar sejumlah kader PDI-P menjadi pengurus kolektif Gerakan Pembaruan PDI-P potensial menggembosi PDI-P. Kondisi semacam bukanlah hal baru, mengingat konflik yang berakhir pada lahirnya partai sempalan sudah sering melanda PDI-P.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Daerah PDI-P Bali Ida Bagus Suryatmaja mengatakan hal itu, Selasa (27/9) kemarin. ''Sekarang gerakan pembaruan itu baru cikal bakal sebuah partai,'' ujarnya. Namun, kalau gerakan pembaruan ini tak diizinkan, batallah menjadi sebuah partai.

Dia tak memungkiri partai berasas marhaenis rentan terhadap perpecahan. Sejak kelahiran PNI di era Bung Karno, orde baru sampai era reformasi saat ini perpecahan itu terjadi. Di era orde baru, PDI pecah menjadi PDI Soerjadi dan PDI-P Megawati. Kemudian di era reformasi, muncul sempalan PDI-P yakni PITA (Partai Indonesia Tanah Air) dan PNBK. ''Ada yang tenggelam ketika layar baru berkembang, ada yang layar sudah berkembang tetapi tak sampai pada sasaran,'' ungkapnya.

Suryatmaja mengakui aksi loncat pagar kader PDI-P disebabkan terjadi degradasi ideologi. Terjadi kesenjangan ideologi dengan kepentingan fragmatis sempit saat ini. ''Banyak yang loncat pagar karena belum siap secara ideologis,'' ujarnya.

Kondisi inilah yang menyebabkan kekecewaan sejumlah kader PDI-P yang merasa tak terakomodasi lagi aspirasinya di partai berlambang banteng dalam lingkaran mulut putih itu. Pihaknya sudah pernah membicarakan hal itu ketika bertemu dengan Megawati bersama Soetardjo Soeryogoeritno beberapa waktu lalu di Hotel Congrad Nusa Dua. ''Pak Tardjo sendiri mengakui hal itu,'' katanya.

Degradasi ideologi partai tak hanya terjadi pada era orde baru. Pada era reformasi, PDI-P sendiri terlambat mengantisipasi. ''Reformasi dengan euforia kemenangan PDI-P menjadikan pengurus kasep tangkis mengantisipasi degradasi ideologi ini,'' katanya. Kemenangan yang tiba-tiba itu membuat kader terlambat mengantisipasi lantaran pemilih melihat pada figur Megawati Soekarnoputri.

Diakui, degradasi ideologi kader menyebabkan terjadinya labilitas. Kader yang labil begitu mudah terpengaruh oleh sesuatu yang baru yang belum tentu lebih baik ketimbang sebelumnya. Dia pun tak memungkiri aksi loncat pagar itu juga disebabkan hal-hal sepele, kecewa atau ngambul karena tak lagi diakomodasi menjadi pengurus. Aksi loncat pagar juga terjadi lantaran tergiur bau cengkeh atau melati.

''Saya sebagai mantan ketua cabang tak diundang konfercab di Badung beberapa waktu lalu, namun tetap berada di barisan PDI-P,'' katanya. (029)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)