Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
Kurang
Efektif,
Warga
Miskin
Terima
Subsidi
Langsung
DANA
subsidi
langsung untuk
keluarga
miskin
akan
disalurkan
mulai 1
Oktober 2005 atau
bersamaan
dengan
rencana kenaikan
harga BBM.
Instruksi
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY)
agar warga
miskin,
baik yang tercatat
maupun yang
belum
tercatat, tetap
diberikan
haknya
menerima subsidi
langsung
dana
kompensasi subsidi
BBM sebesar
Rp 100.000 per
kepala
keluarga per bulan
ditanggapi
skeptis
oleh sebagaian
besar
pengunjung dalam
opininya
di
acara Warung Global
di Radio Global FM Bali
dengan
topik "SBY menjamin
warga
miskin menerima
subsidi", yang
juga
dipancarluaskan oleh
Singaraja FM
dan Radio
Genta
Swara Sakti Bali.
Mereka
menilai program
ini
kurang efektif
dan
menjadikan rakyat
seperti
pengemis dan
malas.
Namun,
ada
juga sebaliknya yang
ingin
supaya program bantuan
tunai
ini diberikan
terus-menerus
dalam
jangka waktu yang
panjang
bagi yang memang
benar-benar
membutuhkannya.
Menurut
pemerintah,
bagi
mereka yang belum
tercatat,
diharapkan agar
tak
perlu khawatir,
jangan
gusar dan
jangan
merasa tak
menerima
haknya.
Sementara
pemerintah
juga
mengakui berdasarkan
laporan
memang masih
ada
warga miskin yang
belum
tercatat menerima
dana
kompensasi
subsidi BBM. Data BPS
menunjukkan
jumlah
di bawah 5
persen
dari 15,5
juta
keluarga miskin.
Bahkan,
ada
warga seharusnya
tidak
menerima malah
menerima.
Karena
itu,
sebelum penyerahan
kartu,
Badan Pusat
Statistik (BPS)
diharapkan
melakukan
verifikasi
tahap
akhir.
Berikut
rangkuman
selengkapnya.
--------------------------------------------------
Ketiadaan
pendataan
warga
miskin disampaikan
Mangku
Malet sebagai
pengunjung
pertama
Warung Global.
Dalam
pencatatan
sebelumnya
masih
terjadi tumpang
tindih,
oleh karena
itu dia
berharap agar
warga yang
memang
benar-benar layak
untuk
mendapatkan kompensasi
itu yang
diutamakan.
Sementara
Putu
Suena menanyakan
sampai
berapa bulan
dana
itu
akan dilimpahkan.
Dia
juga menganggap
dana
itu
kurang mendidik,
hanya
menambah keruwetan
dan
kemiskinan saja.
Tidak
cukup
hanya dikasi
uang
tapi lebih
baik
dibina, seperti
halnya
gepeng.
Bila
pemerintah
memang
sungguh-sungguh berikan
saja
seumur hidup
sampai
turun-temurun.
Lain lagi
dengan
Angga, data warga
miskin
di wilayahnya
sudah
tercatat yang didapat
dari
wawancara door to door dan
data warga
miskin Bali
juga
sudah disetor
ke
pusat yang didapat
dari
Badan Pusat
Statistik.
Kriteria
warga
miskin, menurutnya,
dinding
rumahnya gedeg,
lantainya
tanah
dan sebagainya,
walaupun
dalan
kenyataannya dia
punya
tanah. Yang terjadi
warga
miskin ngekoh
menuntut
haknya
karena proses yang
dilalui
birokratis.
Pemerintah
seharusnya
meningkatkan
ekonomi
makro serta
melakukan
gerakan
sapu bersih
korupsi
secara matang
di
semua lini,
termasuk
di
Pertamina dan
lainnya.
Dengan
demikian
apa pun yang
diprogramkan
pemerintah
pasti
akan didukung
rakyatnya.
Binawan
menekankan
pengawasan
dalam
pelaksanaan penyaluran
dana
ini dan
mampu
menjadi program yang
berkesinambungan serta
ada
pihak dan
instansi yang
bisa
menerima keluhan
masyarakat
bila
ada penyimpangan
terhadap
bantuan
tersebut.
Pengawasan,
menurutnya,
bisa
dari masyarakat
itu
sendiri hingga
ke
tingkat paling bawah.
Dia
mencontohkan,
di luar
negeri
orang miskin
dijamin
kehidupannya oleh
negara.
Sekarang
yang lebih
penting
adalah koruptor
segera
ditangkap dan
ditangani
serius.
Ke
depan dia
berharap agar
orang
miskin yang sudah
cukup
payah ikut
berjuang
dari
zaman kemerdekaan
dan
turut serta
mengisi
pembangunan agar lebih
diperhatikan
dan
dijamin oleh
pemerintah.
Putu
Artha
pesimis program yang
diterapkan bisa
berjalan
dengan
mulus seperti
pengalaman
sebelumnya.
Jangankan
uang,
sumbangan berupa
barang,
baju, beras
dan mi
saja bisa
dikorupsi,
karena moral
dan mental
bangsa
kita masih
seperti
ini. Program ini
seperti
terpaksa, hanya lips
service, untuk
menghibur
masyarakat
karena
ada protes
dan demo
di
mana-mana akibat
rencana
kenaikan BBM. Sementara
negara
kita membangun
dengan
dana yang
dipinjam
dari
utang luar
negeri.
Di
samping
itu, masyarakat
menyayangkan
pemerintah
memberikan
dengan
cuma-cuma. Andaikan
APBN minus, mengapa
di satu
sisi
dana yang
dilarikan
oleh
koruptor tidak
dikejar,
kalaupun
ditangkap,
hanya
dihukum ringan,
percobaan
saja.
BPK tidak
tahu ke
mana
uang hasil
sitaan
itu dibawa.
Harusnya
lapangan
pekerjaan
dibuka
pendidikan langsung
full digratiskan.
Kalau
pembagian uang
dengan
cara
begini
akan menimbulkan
kecemburuan
dan
rawan penyelewengan.
Ketut
Nasir
menanyakan tipe,
kriteria
dan
penentuan orang
miskin.
Dia
berharap agar
negara
lebih mengkhususkan
dan
memprioritaskan bantuan
untuk
tunanetra, walaupun
orangnya
sudah
punya.
Jero
Wijaya
menilai pemerintah
sekarang
sudah
menyimpang dari
visi-misi
sebelumnya.
Masyarakat
sebenarnya
tidak
membutuhkan uang
tetapi
lapangan pekerjaan.
Ini
sama
dengan
mengaduk-aduk bubur,
berkutat
di situ
saja.
Mestinya
sumber
daya alam
dan
sumber daya
manusia yang
ditingkatkan
dulu
karena keduanya
saling
terkait.
Purna
Wijaya
menyebutkan, pemerintah
sekarang
serba
salah.
Memang
termasuk yang paling
demokratis
karena
dipilih langsung
oleh
rakyat. Dalam
setahun
sudah dua kali BBM
naik,
harga-harga kebutuhan
pokok
dan barang
sudah
naik duluan
dan
kompensasi ini
tidak
akan
memberikan
solusi.
Dia
juga
setuju dengan
pengunjung
lainnya agar
pemberantasan
korupsi
diutamakan dan
pelakunya
ditembak
mati.
Dogler
tidak
yakin
dana itu
akan
sampai pada yang
membutuhkan.
Dengan
kenaikan BBM masyarakat
miskin
akan
kian
bertambah, pekerja
banyak yang
nganggur.
Sebaiknya
jangan
dikasi uang,
bukan
dikasi ikan
tapi
kail.
Kenaikan
BBM kalau
bijak,
sebaiknya diundur
pada
tahun 2006.
Hal yang sama
juga
dilontarkan Komang
Darmiani,
dana
kompensasi ini
tidak
efektif, sebab
dengan
uang Rp 100.000
tidak
bisa mencukupi
hidupnya.
Lapangan
pekerjaan
harusnya
ditumbuh-kembangkan,
wawasan
wirausaha juga
diperluas
pada
orang miskin yang
sebelumnya
tidak
tahu caranya
menjadi
kaya. Dia
juga
tidak setuju
jika BBM
naik,
karena kebutuhan
juga
akan
makin
membengkak.
Dia
juga
menyarankan supaya
koruptor
segera
ditangkap.
Anton, Tatik, Yogi
menyatakan
hal yang
sama
dan Ketut
Sadam
melihat ada
ketidakadilan
dalam
pendataan, sebab
ada
orang yang terdaftar
miskin,
tetapi malah
di
tempat lain punya
rumah
stil Bali. Yang kedua,
jaminan
bantuan ini
akan
sampai pada yang
berhak
tetap akan
percuma
karena hanya short
time, karena
dampak
dari kenaikan BBM
itu
luar biasa
terutama
di
sektor pertanian yang
saat
ini tidak
boleh
membeli minyak
dengan
jerigen untuk
mengoperasikan
traktornya
dan
harganya yang tidak
wajar.
*
arya