kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 27 September 2005

 Artikel

 

Apa yang mengakibatkan kita belum mampu mencari solusi dari berbagai persoalan yang membelit bangsa ini merupakan kelemahan semua komponen dan sistem yang ada. Kita tidak melihat bahwa invisible hand menjadi salah satu faktor signifikan pada perekonomian Indonesia. 

-------------------------------------

''Invisible Hand'' Dalam Perekonomian
Oleh IW Widya Arsana

RENCANA kenaikan harga BBM untuk yang kedua kalinya tahun ini menambah daftar faktor-faktor fluktuatif perekonomian Indonesia. Rentetan pengaruh kenaikan harga tersebut akan berimbas pada kenaikan harga secara umum, terlebih lagi pada kebutuhan pokok masyarakat. Kenaikan harga sebagian kebutuhan pokok terkadang malah mendahului penetapan kenaikan harga BBM. Selain kenaikan harga-harga secara umum maka efek berganda lainnya akan mewarnai semua segmen kehidupan bangsa ini. Tidak terbatas pada perekonomian, politik dan masalah sosial yang sangat riskan terhadap berbagai kebijakan makro pemerintah.

 

-----------------------------------------------

Bercermin dari keadaan sehari-hari maka yang mengalami permasalahan relatif serius adalah perekonomian pada skala makro dalam artian dialami oleh unit-unit usaha besar yang terlihat dominan di masyarakat. Sementara pada level usaha-usaha kecil menengah berjalan sesuai ritme normal. Akan tetapi, dugaan tersebut juga sangat prematur. Karena walaupun lebih bisa bertahan maka dalam jangka panjang usaha kecil mikro menengah ikut bangkrut terimbas dari lemahnya fondamen perekonomian.

Terlepas dari apa sebenarnya permasalahan yang dihadapi maka kita harus bangga bahwa kita mempunyai SDM yang relatif besar kuantitasnya. Di dalamnya terdapat beragam tenaga ahli profesional apalagi di bidang ekonomi. Tetapi kenyataan perekonomian yang sebenarnya tidak pernah kita sentuh seutuhnya. Kalau demikian halnya maka invisible hand yang berpengaruh adalah sesuatu yang timbul karena efek berganda pengambilan kebijakan dan keputusan yang salah.

Andaikan kesalahan tersebut yang terjadi maka penerapan ilmu ekonomi kita selama ini perlu ditinjau dan dikaji ulang. Sistem perekonomian kita perlu diarahkan pada konsep yang berakar pada ciri khas dan budaya bangsa. Bahwasanya sistem perekonomian tidak bisa dilepaskan dari akar di mana dia berlaku dan dijalankan. Lingkungan sekitarnya akan menjadi ciri dari sistem tersebut. Tanpa interkoneksi dengan lingkungannya maka penerapan sistem dan konsep menjadi tidak seimbang dan akan memicu ketimpangan di berbagai sektor. Dalam jangka panjang hal ini bisa menghapuskan keyakinan akan kekuatan dan kemampuan ekonomi yang kita miliki dan barangkali lebih dari yang pernah kita bayangkan.

 

Kelemahan Komponen dan Sistem

 

Apa yang mengakibatkan kita belum mampu mencari solusi dari berbagai persoalan yang membelit bangsa ini merupakan kelemahan semua komponen dan sistem yang ada. Kita tidak melihat bahwa invisible hand menjadi salah satu faktor signifikan pada perekonomian Indonesia. Sehingga terkadang sebuah permasalahan muncul dari sekian kali Pelita tanpa pernah dituntaskan dengan pola yang cepat dan terarah. Pola subsidi BBM, penuntasan kemiskinan, pengangguran, inflasi menjadi masalah yang berkembang merasuki komponen perekonomian lainnya dalam jangka waktu yang relatif lama.

Karena itu, solusi sebaiknya dimulai dari reaksi yang tepat dan bersungguh-sungguh terhadap permasalahan yang ada. Reaksi yang kita lakukan selama ini lebih banyak terfokus pada pendekatan kuantitatif yang lebih mengandalkan penghitungan matematis. Kita lupa bahwa sesuatu yang abstrak di luar berbagai model ekonomi terkadang memberikan kontribusi yang relatif besar dalam membentuk permasalahan yang sistematik. Sesuatu yang abstrak ini disadari oleh para ahli sejak zaman dulu, sehingga muncul paham ekonomi klasik dan ortodoks. Perbedaannya jelas pada pendekatan solusi yang tidak hanya mendasarkan pada konseptual matematis. Sisi nonmatematis yang bersifat sosiokultural sering dikesampingkan bahkan malah dihilangkan dengan asumsi konstan.

Peluang adanya sesuatu yang bersifat spirit moral yang bisa dijadikan sebagai sebuah acuan dalam sistem perekonomian Indonesia relatif tinggi. Munculnya ide ekonomi spiritual menjadi sesuatu yang inovatif untuk dikaji lebih mendalam. Karena konsepnya masih teramat luas dan perlu kaidah-kaidah mendasar yang bisa diperjelas dalam penerapannya.

Di tengah mayoritas masyarakat kita yang kental dengan nilai-nilai spirit moral barangkali faktor invisible hand banyak berpengaruh dan layak mendapat skor penilaian. Karena akumulasi dari pemikiran spiritual merasuk dalam berbagai aspek kehidupan. Saat penerapan spirit tersebut melenceng maka akumulasi nilai menjadi masalah di berbagai segmen dan sangat tidak terukur sifatnya dalam bidang ekonomi.

Realitas sehari-hari menunjukkan bahwa ada suatu rangkaian multidimensi di dalam negeri dalam kerangka perekonomian internasional. Rangkaian ini sangat impulsif dan mudah sekali memicu kejadian-kejadian berantai. Seolah dia merupakan sebuah lingkaran yang sangat susah diuraikan. Barangkali hal inilah yang membingungkan bagi semua pihak yang punya idealisme tinggi untuk merekonstruksi kembali perekonomian Indonesia.

Konsensus nasional sangat penting artinya untuk mengamati secara bersama kalau-kalau kita melenceng dari apa yang kita sepakati. Dengan demikian, kita dengan jelas bisa mengamati pelaku-pelaku lain di sekitar kita yang ikut memberikan latar belakang panggung ekonomi bangsa ini. Pada akhirnya dalam suasana perhatian penuh invisible hand bisa kita deteksi. Sehingga akar permasalahan perekonomian yang ada bisa diselesaikan dengan setepat-tepatnya. 

Penulis, PNS, analis lintas sektoral dan Nerwil BPS Bangli

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)