Apa yang mengakibatkan kita belum
mampu mencari solusi dari berbagai persoalan yang
membelit bangsa ini merupakan kelemahan semua
komponen dan sistem yang ada. Kita tidak melihat
bahwa invisible hand menjadi salah satu faktor
signifikan pada perekonomian Indonesia.
-------------------------------------
''Invisible Hand'' Dalam Perekonomian
Oleh IW Widya Arsana
RENCANA
kenaikan harga BBM untuk yang kedua kalinya tahun
ini menambah daftar faktor-faktor fluktuatif
perekonomian Indonesia. Rentetan pengaruh kenaikan
harga tersebut akan berimbas pada kenaikan harga
secara umum, terlebih lagi pada kebutuhan pokok
masyarakat. Kenaikan harga sebagian kebutuhan pokok
terkadang malah mendahului penetapan kenaikan harga
BBM. Selain kenaikan harga-harga secara umum maka
efek berganda lainnya akan mewarnai semua segmen
kehidupan bangsa ini. Tidak terbatas pada
perekonomian, politik dan masalah sosial yang sangat
riskan terhadap berbagai kebijakan makro pemerintah.
-----------------------------------------------
Bercermin dari keadaan sehari-hari
maka yang mengalami permasalahan relatif serius
adalah perekonomian pada skala makro dalam artian
dialami oleh unit-unit usaha besar yang terlihat
dominan di masyarakat. Sementara pada level
usaha-usaha kecil menengah berjalan sesuai ritme
normal. Akan tetapi, dugaan tersebut juga sangat
prematur. Karena walaupun lebih bisa bertahan maka
dalam jangka panjang usaha kecil mikro menengah ikut
bangkrut terimbas dari lemahnya fondamen
perekonomian.
Terlepas dari apa sebenarnya
permasalahan yang dihadapi maka kita harus bangga
bahwa kita mempunyai SDM yang relatif besar
kuantitasnya. Di dalamnya terdapat beragam tenaga
ahli profesional apalagi di bidang ekonomi. Tetapi
kenyataan perekonomian yang sebenarnya tidak pernah
kita sentuh seutuhnya. Kalau demikian halnya maka
invisible hand yang berpengaruh adalah sesuatu yang
timbul karena efek berganda pengambilan kebijakan
dan keputusan yang salah.
Andaikan kesalahan tersebut yang
terjadi maka penerapan ilmu ekonomi kita selama ini
perlu ditinjau dan dikaji ulang. Sistem perekonomian
kita perlu diarahkan pada konsep yang berakar pada
ciri khas dan budaya bangsa. Bahwasanya sistem
perekonomian tidak bisa dilepaskan dari akar di mana
dia berlaku dan dijalankan. Lingkungan sekitarnya
akan menjadi ciri dari sistem tersebut. Tanpa
interkoneksi dengan lingkungannya maka penerapan
sistem dan konsep menjadi tidak seimbang dan akan
memicu ketimpangan di berbagai sektor. Dalam jangka
panjang hal ini bisa menghapuskan keyakinan akan
kekuatan dan kemampuan ekonomi yang kita miliki dan
barangkali lebih dari yang pernah kita bayangkan.
Kelemahan Komponen dan Sistem
Apa yang mengakibatkan kita belum
mampu mencari solusi dari berbagai persoalan yang
membelit bangsa ini merupakan kelemahan semua
komponen dan sistem yang ada. Kita tidak melihat
bahwa invisible hand menjadi salah satu faktor
signifikan pada perekonomian Indonesia. Sehingga
terkadang sebuah permasalahan muncul dari sekian
kali Pelita tanpa pernah dituntaskan dengan pola
yang cepat dan terarah. Pola subsidi BBM, penuntasan
kemiskinan, pengangguran, inflasi menjadi masalah
yang berkembang merasuki komponen perekonomian
lainnya dalam jangka waktu yang relatif lama.
Karena itu, solusi sebaiknya dimulai
dari reaksi yang tepat dan bersungguh-sungguh
terhadap permasalahan yang ada. Reaksi yang kita
lakukan selama ini lebih banyak terfokus pada
pendekatan kuantitatif yang lebih mengandalkan
penghitungan matematis. Kita lupa bahwa sesuatu yang
abstrak di luar berbagai model ekonomi terkadang
memberikan kontribusi yang relatif besar dalam
membentuk permasalahan yang sistematik. Sesuatu yang
abstrak ini disadari oleh para ahli sejak zaman dulu,
sehingga muncul paham ekonomi klasik dan ortodoks.
Perbedaannya jelas pada pendekatan solusi yang tidak
hanya mendasarkan pada konseptual matematis. Sisi
nonmatematis yang bersifat sosiokultural sering
dikesampingkan bahkan malah dihilangkan dengan
asumsi konstan.
Peluang adanya sesuatu yang bersifat
spirit moral yang bisa dijadikan sebagai sebuah
acuan dalam sistem perekonomian Indonesia relatif
tinggi. Munculnya ide ekonomi spiritual menjadi
sesuatu yang inovatif untuk dikaji lebih mendalam.
Karena konsepnya masih teramat luas dan perlu
kaidah-kaidah mendasar yang bisa diperjelas dalam
penerapannya.
Di tengah mayoritas masyarakat kita
yang kental dengan nilai-nilai spirit moral
barangkali faktor invisible hand banyak berpengaruh
dan layak mendapat skor penilaian. Karena akumulasi
dari pemikiran spiritual merasuk dalam berbagai
aspek kehidupan. Saat penerapan spirit tersebut
melenceng maka akumulasi nilai menjadi masalah di
berbagai segmen dan sangat tidak terukur sifatnya
dalam bidang ekonomi.
Realitas sehari-hari menunjukkan
bahwa ada suatu rangkaian multidimensi di dalam
negeri dalam kerangka perekonomian internasional.
Rangkaian ini sangat impulsif dan mudah sekali
memicu kejadian-kejadian berantai. Seolah dia
merupakan sebuah lingkaran yang sangat susah
diuraikan. Barangkali hal inilah yang membingungkan
bagi semua pihak yang punya idealisme tinggi untuk
merekonstruksi kembali perekonomian Indonesia.
Konsensus nasional sangat penting
artinya untuk mengamati secara bersama kalau-kalau
kita melenceng dari apa yang kita sepakati. Dengan
demikian, kita dengan jelas bisa mengamati
pelaku-pelaku lain di sekitar kita yang ikut
memberikan latar belakang panggung ekonomi bangsa
ini. Pada akhirnya dalam suasana perhatian penuh
invisible hand bisa kita deteksi. Sehingga akar
permasalahan perekonomian yang ada bisa diselesaikan
dengan setepat-tepatnya.
Penulis, PNS, analis lintas sektoral
dan Nerwil BPS Bangli