kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 27 September 2005

 Mancanegara


Tenggelamnya
Feri Senegal, Keluarga Korban Tunggu Kompensasi

Dakar -
Tiga
tahun setelah kecelakaan maritim paling hebat dalam sejarah, para keluarga dari hampir 2.000 korban kapal feri Joola yang tenggelam di pesisir barat Afrika setia menunggu janji diberikannya kompensasi dan sebuah pemakaman yang layak bagi keluarga yang mereka cintai.

Feri Joola bergerak antara wilayah Casamance-Senegal selatan dan kota pusat Dakar tenggelam di tengah-tengah laut Gambia yang digempur badai dengan korban jiwa mencapai 1.863 orang, menurut laporan staf setempat atau 2.113 menurut gabungan keluarga korban. Jumlah ini yang melebihi korban saat Titanic tenggelam.

Feri dengan kapasitas 500 penumpang dioperasikan oleh AL Senegal dan satu-satunya sarana yang menghubungkan antara kota Ziguinchor di selatan dan pusat kota. Feri pengganti melakukan pelayaran perdananya pada Sabtu dan akan mulai melayani penumpang bulan depan.

Upacara peringatan dijadwalkan digelar Rabu dan Kamis di Dakar dan Mbao, 20 kilometer sebelah timur Dakar, juga di Caxamance.

Presiden Senegal Abdoulaye Wade akan menghadiri upacara peringatan di Casamance, kata seorang anak buahnya Minggu lalu.

Kebanyakan penumpang Joola adalah warga Senegal dari Casamance, yang memotong wilayah Senegal dengan wilayah kecil mantan koloni Inggris, Gambia. Para korban termasuk banyak anak-anak yang kembali menuju Dakar karena sekolah saat itu memasuki tahun ajaran baru. Warga Eropa dan warga Afrika lainnya juga ikut dalam kapal yang dibebani kelebihan muatan tersebut.

Kapal naas ini tenggelam tanpa sempat memberikan sinyal bahaya atau melepaskan sekoci-sekoci penyelamat. Operasi penyelamatan kemudian tidak dilakukan hingga satu hari sesudahnya dan hanya 64 orang yang berhasil hidup, itu pun diselamatkan oleh nelayan lokal.

Bangkai feri ini masih terbaring di dasar laut, sekitar 1.000 mayat korban masih terjebak di dalam kuburannya yang dipenuhi air. Korban-korban lainnya sudah dikuburkan secara massal di pesisir, meski beberapa kali permintaan dari para keluarga korban agar keluarga yang mereka cintai dapat diidentifikasi dan dilakukan sebuah upacara penguburan ulang yang layak.

Pada Juli 2003, pihak pemerintah menawarkan 20 juta CFA francs (36 juta dolar) sebagai dana kompensasi untuk para keluarga. Ini merupakan sebuah langkah yang dikatakan terjadi untuk kali pertama di Afrika.

Wade mengatakan jika akumulasi kesalahan memicu terjadinya bencana ini, namun ia juga tidak menyangkal jika negaralah yang patut bertanggung jawab.

Namun, Idrissa Diallo, presiden dari sebuah grup yang mengkoordinasi para keluarga, mengatakan pertanyaan ganti rugi masih belum terpecahkan. "Mereka memiliki sertifikat kematian, namun beberapa keluarga diminta untuk menunjukkan tiket perjalanan, meski hal tersebut sangat aneh karena tiket tersebut ikut tenggelam jauh di dasar laut bersama mayat," katanya.

Ia menambahkan, sekitar 1.303 keluarga sudah menerima kompensasi. Namun, 700 kasus lainnya masih belum terpecahkan karena kurangnya kemauan serta keinginan pemerintahan Senegal. (ton/afp)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)