Tenggelamnya
Feri Senegal,
Keluarga
Korban
Tunggu Kompensasi
Dakar -
Tiga
tahun
setelah kecelakaan
maritim paling
hebat
dalam sejarah,
para
keluarga dari
hampir 2.000
korban
kapal feri
Joola yang
tenggelam
di
pesisir barat
Afrika
setia menunggu
janji
diberikannya kompensasi
dan
sebuah pemakaman yang
layak
bagi keluarga yang
mereka
cintai.
Feri
Joola
bergerak antara
wilayah
Casamance-Senegal selatan
dan
kota pusat Dakar
tenggelam
di
tengah-tengah laut
Gambia yang digempur
badai
dengan korban
jiwa
mencapai 1.863 orang,
menurut
laporan staf
setempat
atau 2.113
menurut
gabungan keluarga
korban.
Jumlah
ini yang
melebihi
korban
saat Titanic tenggelam.
Feri
dengan
kapasitas 500 penumpang
dioperasikan
oleh AL Senegal
dan
satu-satunya sarana
yang menghubungkan
antara
kota
Ziguinchor
di
selatan dan
pusat
kota.
Feri
pengganti melakukan
pelayaran
perdananya
pada
Sabtu dan
akan
mulai
melayani penumpang
bulan
depan.
Upacara
peringatan
dijadwalkan
digelar
Rabu dan
Kamis
di Dakar dan
Mbao, 20 kilometer
sebelah
timur Dakar, juga
di
Caxamance.
Presiden
Senegal Abdoulaye Wade
akan
menghadiri
upacara
peringatan di
Casamance,
kata
seorang anak
buahnya
Minggu lalu.
Kebanyakan
penumpang
Joola
adalah warga Senegal
dari
Casamance, yang memotong
wilayah Senegal
dengan
wilayah kecil
mantan
koloni
Inggris,
Gambia.
Para
korban
termasuk banyak
anak-anak yang
kembali
menuju Dakar karena
sekolah
saat itu
memasuki
tahun
ajaran baru.
Warga
Eropa
dan warga
Afrika
lainnya juga
ikut
dalam kapal yang
dibebani
kelebihan
muatan
tersebut.
Kapal
naas
ini tenggelam
tanpa
sempat memberikan
sinyal
bahaya atau
melepaskan
sekoci-sekoci
penyelamat.
Operasi
penyelamatan
kemudian
tidak
dilakukan hingga
satu
hari sesudahnya
dan
hanya 64 orang yang
berhasil
hidup,
itu pun diselamatkan
oleh
nelayan lokal.
Bangkai
feri
ini masih
terbaring
di
dasar laut,
sekitar 1.000
mayat
korban masih
terjebak
di
dalam kuburannya yang
dipenuhi air.
Korban-korban
lainnya
sudah dikuburkan
secara
massal di
pesisir,
meski
beberapa kali permintaan
dari
para keluarga
korban agar
keluarga yang
mereka
cintai dapat
diidentifikasi
dan
dilakukan sebuah
upacara
penguburan ulang yang
layak.
Pada
Juli 2003,
pihak
pemerintah menawarkan
20 juta CFA francs (36
juta
dolar) sebagai
dana
kompensasi
untuk
para keluarga.
Ini
merupakan
sebuah
langkah yang dikatakan
terjadi
untuk kali pertama
di
Afrika.
Wade mengatakan
jika
akumulasi kesalahan
memicu
terjadinya bencana
ini,
namun ia
juga
tidak menyangkal
jika
negaralah yang patut
bertanggung
jawab.
Namun,
Idrissa
Diallo, presiden
dari
sebuah grup yang
mengkoordinasi
para
keluarga, mengatakan
pertanyaan
ganti
rugi masih
belum
terpecahkan. "Mereka
memiliki
sertifikat
kematian,
namun
beberapa keluarga
diminta
untuk menunjukkan
tiket
perjalanan, meski
hal
tersebut sangat
aneh
karena tiket
tersebut
ikut
tenggelam jauh
di
dasar laut
bersama
mayat," katanya.
Ia
menambahkan,
sekitar 1.303
keluarga
sudah
menerima kompensasi.
Namun,
700 kasus
lainnya
masih belum
terpecahkan
karena
kurangnya kemauan
serta
keinginan pemerintahan
Senegal.
(ton/afp)