Musnahkan Seluruh Unggas--------
Indonesia tak Bisa Penuhi Permintaan FAO
Denpasar (Bali Post) -
Food and Agriculture Organization (FAO) yang berada di
bawah naungan PBB meminta Indonesia melakukan stamped
out (pemusnahan massal) seluruh unggas atas merebaknya
kembali penyakit avian influenza (AI) hingga ke manusia.
Namun, pemusnahan massal tersebut belum bisa dilakukan
karena biaya yang ditimbulkan, baik dari segi ekonomi
maupun sosialnya, akan sangat besar. Demikian
disampaikan Direktur Jenderal Peternakan Departemen
Pertanian Ir. Mathur Rihady, M.A. usai membuka Pertemuan
ke-29 Komisi Kesehatan Produk Hewani untuk Asia yang
merupakan bagian FAO, Senin (26/9) kemarin di Kuta.
Menurut Rihady, melihat kondisi Indonesia saat ini,
pemusnahan massal terhadap unggas tidak bisa dilakukan.
Dia mengatakan dampak sosial dan ekonomi yang
ditimbulkan akibat pemusnahan ini akan sangat besar.
Dilihat dari segi ekonomi, akan banyak sekali peternak
unggas yang mengalami kerugian material akibat
pemusnahan massal, sementara di sisi lain pemerintah
tidak mempunyai dana yang cukup untuk kompensasi.
Sementara itu, dilihat dari segi sosialnya, Rihady
mengaku khawatir masyarakat belum bisa menghilangkan
kebiasaan makan daging ayam yang sudah menjadi santapan
sehari-hari.
''Dampak sosial dan ekonomi dari stamped out ini akan
sangat besar sekali. Sedangkan stamped out sendiri belum
tentu menjadi jaminan flu burung tidak mewabah lagi di
Indonesia,'' katanya.
Rihady mengatakan sudah terdapat berbagai upaya yang
dilakukan pemerintah untuk mencegah meluasnya penularan
virus AI ini. Bahkan, dana yang disiapkan untuk
mengatasi flu burung ini pun sudah cukup besar.
Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam penyediaan dana
ini, dikatakan Rihady, juga sudah disampaikan ke PBB
agar negara-negara lain juga ikut memberikan suntikan
dana. Pasalnya, penyakit flu burung ini termasuk jenis
yang memerlukan penanganan lintas negara karena
penularannya melalui unggas yang mempunyai sifat
migratory.
Posisi Genting
Dia mengutarakan tidak hanya Indonesia yang mengalami
kesulitan dalam menanggulangi flu burung ini. Saat ini
negara-negara di Asia juga sedang terancam adanya
penyebaran virus flu burung yang relatif cepat. Hanya di
Indonesia dalam dua bulan terakhir ini berada pada
posisi yang genting mengingat penyakit ini sudah
menjangkiti manusia. ''Pertemuan kali ini juga akan
membahas secara khusus mengenai AI mengingat penyakit
ini berpengaruh besar bagi perkembangan peternakan
secara luas,'' jelasnya.
Pertemuan yang akan berlangsung hingga Kamis (29/9)
depan ini diikuti sekitar 18 negara dengan jumlah
peserta sebanyak 30 orang. Anggota dari Komisi Kesehatan
Produk Hewani untuk Asia ini berjumlah 15 negara, antara
lain Australia, Jepang, India, Indonesia, dan Thailand.
Dalam pertemuan kali ini juga dihadiri 4 negara peninjau
dan 6 organisasi internasional.
Masyarakat Diminta Tenang
Sementara itu, Kadis Kesehatan Dr. Ketut Sumiarta, Senin
kemarin mengatakan Dinas Kesehatan bersama Dinas
Peternakan Pemkab Tabanan mengantisipasi sedini mungkin
terhadap kemungkinnya munculnya wabah flu burung sebagai
mana yang terjadi di luar daerah. Khusus pada
sentra-sentra peternakan, Diskes terus memantau
perkembangan yang terjadi.
Pada sentra-sentra peternakan, baik unggas mau pun hewan
lainnya, lanjut Sumiarta, kepada para peternak sudah
diberikan himbauan tentang langkah yang mesti diambil
jika mendapatkan gejala-gejala mencurigakan. Begitu pula
pada sentra peternakan tumpang sari, himbauan serupa
juga diberikan secara berulang-ulang. Para peternak
sudah diberikan pengetahuan di dalam mencegah
berkembangnya flu burung, sehingga tidak sampai
mengancam keselamatan jiwanya. Juga sering dianjurkan
penggunaan masker mulut serta peralatan lainnya.
(kmb18/015)