kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 27 September 2005

 Ekonomi


Musnahkan Seluruh Unggas--------

Indonesia tak Bisa Penuhi Permintaan FAO

Denpasar (Bali Post) -
Food and Agriculture Organization (FAO) yang berada di bawah naungan PBB meminta Indonesia melakukan stamped out (pemusnahan massal) seluruh unggas atas merebaknya kembali penyakit avian influenza (AI) hingga ke manusia. Namun, pemusnahan massal tersebut belum bisa dilakukan karena biaya yang ditimbulkan, baik dari segi ekonomi maupun sosialnya, akan sangat besar. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Ir. Mathur Rihady, M.A. usai membuka Pertemuan ke-29 Komisi Kesehatan Produk Hewani untuk Asia yang merupakan bagian FAO, Senin (26/9) kemarin di Kuta.

Menurut Rihady, melihat kondisi Indonesia saat ini, pemusnahan massal terhadap unggas tidak bisa dilakukan. Dia mengatakan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan akibat pemusnahan ini akan sangat besar. Dilihat dari segi ekonomi, akan banyak sekali peternak unggas yang mengalami kerugian material akibat pemusnahan massal, sementara di sisi lain pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup untuk kompensasi. Sementara itu, dilihat dari segi sosialnya, Rihady mengaku khawatir masyarakat belum bisa menghilangkan kebiasaan makan daging ayam yang sudah menjadi santapan sehari-hari.

''Dampak sosial dan ekonomi dari stamped out ini akan sangat besar sekali. Sedangkan stamped out sendiri belum tentu menjadi jaminan flu burung tidak mewabah lagi di Indonesia,'' katanya.

Rihady mengatakan sudah terdapat berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegah meluasnya penularan virus AI ini. Bahkan, dana yang disiapkan untuk mengatasi flu burung ini pun sudah cukup besar. Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam penyediaan dana ini, dikatakan Rihady, juga sudah disampaikan ke PBB agar negara-negara lain juga ikut memberikan suntikan dana. Pasalnya, penyakit flu burung ini termasuk jenis yang memerlukan penanganan lintas negara karena penularannya melalui unggas yang mempunyai sifat migratory.

 

Posisi Genting

Dia mengutarakan tidak hanya Indonesia yang mengalami kesulitan dalam menanggulangi flu burung ini. Saat ini negara-negara di Asia juga sedang terancam adanya penyebaran virus flu burung yang relatif cepat. Hanya di Indonesia dalam dua bulan terakhir ini berada pada posisi yang genting mengingat penyakit ini sudah menjangkiti manusia. ''Pertemuan kali ini juga akan membahas secara khusus mengenai AI mengingat penyakit ini berpengaruh besar bagi perkembangan peternakan secara luas,'' jelasnya.

Pertemuan yang akan berlangsung hingga Kamis (29/9) depan ini diikuti sekitar 18 negara dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Anggota dari Komisi Kesehatan Produk Hewani untuk Asia ini berjumlah 15 negara, antara lain Australia, Jepang, India, Indonesia, dan Thailand. Dalam pertemuan kali ini juga dihadiri 4 negara peninjau dan 6 organisasi internasional.

 

Masyarakat Diminta Tenang

 

Sementara itu, Kadis Kesehatan Dr. Ketut Sumiarta, Senin kemarin mengatakan Dinas Kesehatan bersama Dinas Peternakan Pemkab Tabanan mengantisipasi sedini mungkin terhadap kemungkinnya munculnya wabah flu burung sebagai mana yang terjadi di luar daerah. Khusus pada sentra-sentra peternakan, Diskes terus memantau perkembangan yang terjadi.

Pada sentra-sentra peternakan, baik unggas mau pun hewan lainnya, lanjut Sumiarta, kepada para peternak sudah diberikan himbauan tentang langkah yang mesti diambil jika mendapatkan gejala-gejala mencurigakan. Begitu pula pada sentra peternakan tumpang sari, himbauan serupa juga diberikan secara berulang-ulang. Para peternak sudah diberikan pengetahuan di dalam mencegah berkembangnya flu burung, sehingga tidak sampai mengancam keselamatan jiwanya. Juga sering dianjurkan penggunaan masker mulut serta peralatan lainnya. (kmb18/015)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)