kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 1 September 2005

 Surat Pembaca


Keberpihakan pada Petani

Profesi petani pada saat ini khususnya di Bali adalah profesi yang kalau boleh akan dihindari untuk digeluti oleh semua komponen rakyat Bali, apalagi mereka kaum muda-muda, bahkan sebagian penduduk Bali apreori dengan profesi ini.

Namun di sisi lain, hasil-hasil pertanian amat sangat ditunggu-tunggu dan merupakan kebutuhan pokok semua penduduk dari kalangan paling bawah sampai yang perutnya gendut-gendut. Sebab tidak ada satu mahluk pun di muka bumi ini yang tidak perlu makan, apalagi yang namanya manusia.

Bali khususnya dan Indonesia umumnya sebetulnya adalah negara agraris, negara yang seharusnya lebih mengedepankan pada aspek pertanian di atas aspek-aspek yang lain mengingat tekstur wilayah tanah Indonesia adalah tekstur pertanian termasuk cuaca dan iklimnya. Maka dari itu petani yang nota bene merupakan profesionalis di bidang tersebut mestinya oleh pemerintah dipandang sebagai aset bangsa bukan objek penderita.

Ketika kita sudah memandang mereka sebagai aset bangsa, maka profesi ini termasuk sektor pertaniannya dapat diharapkan memperoleh payung perlindungan serta masuk dalam agenda-agenda kebijaksanaan pemerintah setara dengan perhatian pemerintah terhadap PNS dan Birokrasi lainnya.

Selama ini nasib petani, terutama petani padi ibarat kerakap tumbuh di bantu, mati enggan hidup tak mau. Ini dikarenakan selain lahannya semakin menyempit karena dikurung oleh beton-beton perkasa, juga air yang merupakan sarana penunjang pertanian keberadaannya semakin langka karena kalah saing dengan pengguna sumber air lain seperti; PDAM, air kemasan dan lain-lain yang memperoleh legalitas dari pemerintah. Bahkan menjadi anak emas karena mampu menunjang PAD dibanding petani itu sendiri.

Keberpihakan akan lebih optimal seandainya pemerintah daerah mau mendata mereka, keseluruhan petani kita yang benar-benar petani. Akan lebih manusiawi jika pemerintah membuatkan pos anggaran APBD untuk diberikan kepada petani (semacam insentif) khususnya petani-petani padi dan diberikan tiap akhir panen.

Maka, selain mereka memperoleh hasil panennya, pekerja (pahlawan) pangan ini juga memperoleh uang sebagai bentuk penghargaan kepada mereka ini sebesar UMR tiap daerah kabupaten masing-masing, selain bentuk-bentuk pemberdayaan lainnya.

Membantu mereka, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan melestarikan profesi mereka, tidak ada ruginya, dan ini tidak membebani, justru pahalanya di dunia dan akhirat sangat tinggi, dan ini adalah tugas pemerintah beserta jajarannya, sebab kalau tidak demikian profesi ini lama kelamaan cuma tinggal nama.

Gede Suarjana
Jl. Diponegoro No. 84 Seririt, Buleleng

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)