kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Umanis, 1 September 2005

 Properti


Memperkaya
Nuansa Ruangan dengan Lantai Kayu

LANTAI sebagai bagian dari rumah, sering kali hanya digunakan dengan syarat yang sederhana, agar ruangan terlihat lebih bersih dan rapi. Tetapi, seiring dengan perkembangan dunia desain interior dan kebutuhan masyarakat, lantai rumah dibebani fungsi sebagai penguat aksen pada ruangan, sekaligus berharap perawatannya lebih murah. Salah satu alternatif bahan lantai rumah yang memenuhi dua kriteria terakhir adalah kayu.

Dalam perkembangannya, lantai kayu tidak hanya digunakan untuk lantai rumah, tetapi juga untuk gedung yang memiliki area publik. Kebutuhan aksen yang unik, pada gerai atau toko di pusat perbelanjaan, menyebabkan penggunaan lantai kayu semakin meluas.

''Sepintas, bentuk lantai kayu -- meski berbeda merek --memang sama. Tetapi, secara teknis kekuatan lantai kayu terhadap goresan sebenarnya berbeda,'' ungkap Ivan Sidharta, General Manager PT Hutama Dwi Menggala, distributor lantai kayu merek HDM dari Jerman.

Tingkat kekuatan gores pada lantai kayu ditandai dengan kode IP pada produk lantai kayu. Kode tersebut menunjukkan hasil uji gesek/gores pada bahan lantai kayu. Angka setelah kode IP merupakan jumlah gesekan yang dilakukan pada bahan kayu hingga tergores. ''Jadi, semakin besar angka IP-nya, bahan lantai kayu tersebut semakin kuat sehingga bahan lantai kayu tersebut cocok digunakan pada ruang pelayanan publik,'' jelas Ivan.

Secara teknis lantai kayu yang digunakan untuk kebutuhan area komersial kekuatannya berkisar IP 15.000 hingga 25.000. Sedangkan penggunaan lantai kayu untuk rumah tinggal cukup yang memiliki IP 9.000.

Penyebab perbedaan antara satu jenis lantai kayu dan yang lain adalah kekuatan lapisan atasnya. Sementara untuk bahan lapisan bawah lantai kayu hampir semua sama, berupa kayu pinus Rusia yang biasa disebut bahan High Density Fiberboard (HDF). Bahan kayu HDF ini lunak dan tidak tahan gores.

Berdasarkan riset HDM, teknologi pelapisan bagian atas lantai kayu mempengaruhi kekuatan. Bila pelapisannya menggunakan teknologi high pressure laminated (HPL), pelapisan tersebut menggunakan tekanan tinggi yang menimbulkan panas. ''Efek panas pada proses pelapisan sistem HPL menyebabkan produk lantai yang dihasilkan hanya memiliki IP sekitar 7.000. Di sisi lain mudah berubah warna,'' tambah Ivan.

Salah satu teknologi pelapisan yang diakui hasilnya lebih baik adalah sistem pelapisan Elesgo, sistem pelapisan permukaan lantai kayu dengan elektronik. Dari sisi keragaman warna pada lantai kayu, saat ini mengalami pergeseran. Awalnya, warna dan motif lantai kayu hanya mengikuti corak asli kayu dan warna-warna alam dengan permukaan lantai biasa. Tiga warna lantai kayu yang saat ini digemari adalah warna beech, mapple, dan cherry. ''Tahun depan, lantai kayu dengan motif-motif granit dan permukaan glossy tampaknya akan menjadi trend,'' ungkap Ivan.

Dibandingkan dengan bahan lantai lainnya, dari sisi harga lantai kayu hampir sama dengan bahan lantai granit. Bila dipasaran harga lantai granit per meter persegi mencapai Rp 150.000, untuk lantai kayu harganya mencapai Rp 200.000 hingga Rp 250.000 per meter persegi. Untuk luas satu meter persegi biasanya terdiri dari delapan panel lantai kayu. ''Harga itu sudah termasuk pemasangan,'' jelas Ivan.

(net, berbagai sumber)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)