Memperkaya
Nuansa
Ruangan dengan
Lantai
Kayu
LANTAI
sebagai
bagian dari
rumah,
sering kali hanya
digunakan
dengan
syarat yang sederhana,
agar ruangan
terlihat
lebih
bersih dan
rapi.
Tetapi,
seiring
dengan perkembangan
dunia
desain interior dan
kebutuhan
masyarakat,
lantai
rumah dibebani
fungsi
sebagai penguat
aksen
pada ruangan,
sekaligus
berharap
perawatannya
lebih
murah.
Salah
satu
alternatif bahan
lantai
rumah yang memenuhi
dua
kriteria terakhir
adalah
kayu.
Dalam
perkembangannya,
lantai
kayu tidak
hanya
digunakan untuk
lantai
rumah, tetapi
juga
untuk gedung yang
memiliki area
publik.
Kebutuhan
aksen yang
unik,
pada gerai
atau
toko di
pusat
perbelanjaan, menyebabkan
penggunaan
lantai
kayu semakin
meluas.
''Sepintas,
bentuk
lantai kayu --
meski
berbeda merek --memang
sama.
Tetapi,
secara teknis
kekuatan
lantai
kayu terhadap
goresan
sebenarnya berbeda,''
ungkap Ivan
Sidharta, General Manager PT
Hutama
Dwi
Menggala, distributor
lantai
kayu merek HDM
dari
Jerman.
Tingkat
kekuatan gores
pada
lantai kayu
ditandai
dengan
kode IP pada
produk
lantai kayu.
Kode
tersebut
menunjukkan
hasil
uji gesek/gores
pada
bahan lantai
kayu.
Angka
setelah
kode IP merupakan
jumlah
gesekan yang dilakukan
pada
bahan kayu
hingga
tergores. ''Jadi,
semakin
besar angka IP-nya,
bahan
lantai kayu
tersebut
semakin
kuat sehingga
bahan
lantai kayu
tersebut
cocok
digunakan pada
ruang
pelayanan publik,''
jelas Ivan.
Secara
teknis
lantai kayu yang
digunakan
untuk
kebutuhan area komersial
kekuatannya
berkisar IP 15.000
hingga 25.000.
Sedangkan
penggunaan
lantai
kayu untuk
rumah
tinggal cukup yang
memiliki IP 9.000.
Penyebab
perbedaan
antara
satu jenis
lantai
kayu dan yang
lain
adalah kekuatan
lapisan
atasnya. Sementara
untuk
bahan lapisan
bawah
lantai kayu
hampir
semua
sama, berupa
kayu
pinus Rusia yang
biasa
disebut bahan High
Density Fiberboard (HDF). Bahan
kayu HDF
ini
lunak dan
tidak
tahan gores.
Berdasarkan
riset HDM,
teknologi
pelapisan
bagian
atas lantai
kayu
mempengaruhi kekuatan.
Bila
pelapisannya menggunakan
teknologi high pressure
laminated (HPL), pelapisan
tersebut
menggunakan
tekanan
tinggi yang menimbulkan
panas. ''Efek
panas
pada proses
pelapisan
sistem HPL
menyebabkan
produk
lantai yang dihasilkan
hanya
memiliki IP sekitar
7.000. Di
sisi lain
mudah
berubah warna,''
tambah Ivan.
Salah
satu
teknologi pelapisan
yang diakui
hasilnya
lebih
baik adalah
sistem
pelapisan Elesgo,
sistem
pelapisan permukaan
lantai
kayu dengan
elektronik.
Dari sisi
keragaman
warna
pada lantai
kayu,
saat ini
mengalami
pergeseran.
Awalnya,
warna
dan motif lantai
kayu
hanya mengikuti
corak
asli kayu
dan
warna-warna alam
dengan
permukaan lantai
biasa.
Tiga
warna
lantai kayu yang
saat
ini digemari
adalah
warna beech, mapple,
dan cherry. ''Tahun
depan,
lantai kayu
dengan motif-motif
granit
dan permukaan glossy
tampaknya
akan
menjadi trend,'' ungkap
Ivan.
Dibandingkan
dengan
bahan lantai
lainnya,
dari
sisi harga
lantai
kayu hampir
sama
dengan
bahan lantai
granit.
Bila dipasaran
harga
lantai
granit per meter
persegi mencapai
Rp 150.000,
untuk
lantai kayu
harganya
mencapai
Rp 200.000
hingga
Rp 250.000 per meter persegi.
Untuk
luas satu meter
persegi
biasanya terdiri
dari
delapan panel lantai
kayu. ''Harga
itu
sudah termasuk
pemasangan,''
jelas Ivan.
(net,
berbagai
sumber)