Kuncinya,
Konsolidasi
dan
Sinergi
Melalui
pemilihan yang
alot
namun demokratis,
Bagus
Sudibya terpilih
menjadi
Ketua Bali Tourism Board (BTB) 2005 - 2008.
Dia
berhasil mengungguli
Putu
Antara dengan
angka
tipis
14 :
13
dalam
Konvensi BTB di
Kuta,
Kamis (25/8).
Kepercayaan
ini
menyebabkan beban
semakin
berat di
pundak
Sudibya, yang juga
tercatat
sebagai
Ketua DPD Asita Bali.
"Saya
harus
tetap menghargai
kepercayaan
teman-teman,"
ujarnya.
Bagi
Bagus
Sudibya yang kerap
disapa Pak
Udi,
memilih dan
dipilih
merupakan konsekuensi
beroganisasi.
Oleh
karena
itu ketika
ditanya
tentang kesediaannya
dicalonkan
menjadi
Ketua BTB 2005 sebelum
secara
resmi diajukan,
argumentasi
itu
pulalah yang diucapkannya.
Terdengar
diplomatis,
namun
menyiratkan suatu
sikap
tegas seorang
organisatoris.
"Bagi
saya
dan mungkin
teman-teman
lainnya,
aktif
di organisasi
itu
ngayah," tandas
Bagus.
Atas
dasar
itulah tak
tampak
sebersitpun keraguan
sekaligus
kegembiraan yang
berlebihan
ketika
secara resmi
dia
terpilih menjadi
Ketua BTB
menggantikan
Putu
Antara.
Ketika
ditanya
apakah tidak
berat
mengetuai dua
organisasi
besar (BTB
dan
Asita), Sudinya
mengatakan,
bisa
saja dilihat
demikian.
Namun,
dia sudah
terbiasa
bekerja
secara
tim (teamwork).
Dengan demikian,
bagaimana
mendelegasikan
kewenangan
kepada
tim yang
ada.
Kuncinya,
konsolidasi internal
dan
sinergi dengan
pihak
terkait.
Dia
menyadari,
untuk
mewujudkan hal
itu
bukan suatu
pekerjaan yang
mudah.
Namun
melalui
pendekatan personal dan
interaksi yang
intens
dengan berbagai
pihak,
dia yakin
upaya
membangun pariwisata
Bali
secara
bersama sedikit
demi
sedikit bisa
terwujud.
Managing Director Bagus
Group ini
menegaskan
akan
memperkuat
kesekretariatan BTB.
Tengah
dijajaki
untuk
menempatkan seorang
Direktur
Eksekutif BTB.
Namun
semuanya tergantung
kesepakatan
dengan
pengurus BTB yang lain.
Selain
teknis leadership
di atas,
Sudibya
ingin meneruskan
apa
yang telah
digariskan
menjadi program BTB 2005 -
2008. Tantangan
pariwisata Bali
ke
depan semakin
tidak
ringan.
Oleh
karena
itu, BTB tak
bisa
berjalan sendiri
tanpa
dukungan komponen
pariwisata
lainnya.
Utamanya
dengan
pemerintah, legislatif,
kalangan
kampus
dan masyarakat.
Sebagaimana
kerap
disuarakan di media
massa,
promosi
dan marketing ke
luar
negeri tak
boleh
kendur. Keterbatasan
dana
promosi
harus diimbangi
oleh program yang
fokus
dan efisien.
(gre)