Menteri
SBY Keteteran
RAKYAT
negeri
ini sepertinya
tidak
putus dirundung
malang.
Berbagai
himpitan
masalah
tidak juga
mengendur.
Justru
semakin membelit
dan
membuat
susah bernapas.
Pemerintah,
lewat
para menterinya yang
diharapkan
segera
menjadi dewa
penolong,
justru
kinerjanya semakin
disorot.
Faktanya
memang
demikian.
Seperti
diberitakan Bali Post,
Rabu (31/8)
kemarin,
mantan
Gubernur Lemhanas
Prof. Ermaya
Suradinata
menyayangkan
kinerja
para menteri SBY yang
tergabung
dalam
Kabinet Indonesia Bersatu.
Kata
dia,
mereka ini
tidak
mampu mengimbangi
kerja
keras yang dilakukan
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY)
sehingga
para
menteri itu
tampak
keteteran.
Akibatnya,
lanjut
Ermaya yang digantikan
Prof. Muladi
itu,
banyak program kerja
SBY kurang
disikapi
dengan
bagus.
Dampak
lainnya,
lanjutnya,
merosotnya
nilai
rupiah terhadap
dolar AS.
Bahkan,
masalah
dalam negeri yang
semakin
kompleks tidak
bisa
diatasi dengan
segera.
Kalau
merunut
ke belakang
saat-saat
awal SBY-Kalla
dilantik,
mengemuka
usulan
dari orang-orang
dekat SBY
saat
itu bahwa
si
empunya Puri
Cikeas,
Bogor
ini
akan
membentuk
suatu
badan independen,
di luar
kabinet.
Tugas
utamanya
adalah
mengevaluasi kinerja
para
menteri. Sitelah
dievaluasi,
maka
laporannya
akan
diserahkan
kepada
Presiden.
Di
tangan
Presidenlah kemudian
diputuskan
bagaimana
penilaian
bawahannya
itu.
Namun
sayangnya,
ide itu
kemudian
sirna
begitu saja
di
tengah hiruk-pikuk
euforia
kemenangan SBY.
Selain
itu, juga,
kalau
lembaga itu
terbentuk
akan
tumpang
tindih dengan
keberadaan
kabinet
itu sendiri.
Juga
muncul kegelisahan,
lembaga
itu akan
menjadi
kabinet bayangan yang
bisa-bisa
mengganggu
kinerja
dan malah
akan
memperburuk situasi.
Dalam
konteks
ini, kita
tidak
akan
mengacu
pada pembentukan
lembaga
tersebut tetapi
pada
ide proses
mengevaluasi
kinerja
para menteri.
Evaluasi
itu
sangatlah perlu
di
tengah kondisi
himpitan
masalah
multidimensi saat
ini.
Dengan
demikian, setidaknya
akan
kelihatan
kerja
para menteri
dengan
indikator masalah
yang ditanganinya
tersebut.
Ada
kemajuan,
stagnan
atau justru
malah
mundur.
Pada
saat yang
sama
juga,
kemarin Presiden
sendiri
mengakui beban yang
dihadapi
pemerintahnya
saat
ini sangatlah
berat.
Merosotnya
nilai
rupiah terhadap
dolar AS
merupakan
pukulan yang
cukup
telak.
Tetapi
untunglah
kemudian SBY
cepat
bertindak sehingga
kepercayaan
pasar
terhadap rupiah
sedikit
terangkat.
Cuma,
masalahnya
sampai
kapan kepercayaan
itu
dapat dijaga
dan
dipelihara?
Memang,
saat
ini masyarakat
tengah
mengalami krisis
kepercayaan yang
sangat
parah.
Terlebih-lebih
lagi
krisis kepercayaan
kepada
para pemimpinnya.
Tidak
dapat
dimungkiri, lambannya
penyelesaian
krisis yang
terjadi
di negeri
ini
lebih banyak
karena
faktor tersebut.
Kalau
membandingkan dengan
negara lain yang
mengalami
krisis yang
kurang
lebih
sama, mereka
cenderung
cepat
pulih karena
adanya
kepercayaan kepada
para
pemimpinnya.
Banyak
solusi yang
ditawarkan,
apakah
itu akan
menjadi
obat mujarab?
Belum
tentu.
Namun
yang jelas,
pemerintahan SBY
harus
bekerja ekstra
keras.
Para
menteri
bidang ekonomi SBY
yang dinilai
tidak
becus diharapkan
mampu
menjawab tudingan
itu
dengan prestasi
kerja yang
lebih
baik.
SBY
jangan
lagi, seperti
dikatakan Prof.
Ermaya,
mentoleransi para
menterinya yang
yang
berjiwa yes-men dan
hanya
menghamba pada
kekuasaan.
Ketika
pemerintah
tidak
juga mampu
menarik
rakyat dari
kubangan
krisis,
banyak pihak
memang
menawarkan solusi.
Salah
satunya adalah
reshuffle kabinet.
Apakah
ini
tepat?
Tidak
seorang pun
berani
menjamin seratus
persen.
Seperti
diungkapkan
salah
seorang anggota DPR-RI
Taufiq
Kiemas, langkah
resuffle
justru
bisa menambah
keadaan
lebih gawat
lagi
kalau tidak
dilakukan
secara
tepat dan
penggantinya pun
tidak pas.
Lebih
lanjut
suami mantan
Presiden Megawati
ini
kemudian mencontohkan
saat
istrinya memimpin
negeri
ini.
Saat
itu Mega
juga
didesak melakukan
resuffle,
namun
ditolak karena
kondisinya
tidak
tepat.
Apalah
semua
alasan itu, yang
jelas
kinerja para
menteri yang
tidak optimal
dan
keteteran, ujung-ujungnya
rakyatlah yang
jadi
korban.