DPRD Didemo,
Minta
Kepastian
Pembangunan
Bandara
Loteng
Mataram
(Suara NTB)-
Ratusan
orang
dari
Lombok
Tengah yang
tergabung
dalam
Aliansi
Masyarakat
Lingkar
Bandara (Angkara)
dan Forum
Komunikasi
Masyarakat
Lingkar
Bandara (Formasi),
Rabu (31/8)
kemarin,
mendatangi
kantor
DPRD NTB.
Massa
menuntut
kepastian
pembangunan
bandara
internasional
di
Lombok
Tengah yang
dianggap
belum
ada
kejelasan.
Namun,
pengunjuk
rasa yang
di
dalamnya
ikut
serta
puluhan
mantan
pemilik
lahan
di
lokasi
bandara
baru,
tak
diizinkan
masuk
ke
halaman
gedung
Dewan.
Sehingga
mereka
hanya
berorasi
dan
berteriak-teriak
di
luar
pintu
masuk (Jalan
Udayana) yang
dijaga
ketat
aparat
kepolisian.
Massa
tampak
emosi
ketika
melihat
sejumlah
perwakilan
mereka
masuk
ke
gedung
untuk
bertemu
pimpinan
Dewan.
Pasalnya,
massa
ingin
mendengar
langsung
pernyataan
sikap
dari
pimpinan
Dewan
dan
pimpinan
dinas
terkait.
Sehingga
sejumlah
perwakilan
dan
Ketua DPRD NTB, H.
Suhaili FT, S.H.
didampingi
beberapa
anggota
Dewan yang
sempat
bertemu
di
ruang
Fraksi
Partai
Golkar,
keluar
menemui
massa yang
terlihat
sudah
tidak
sabar
ingin
mendobrak
pintu
masuk
gedung
Dewan.
Suhaili
dan
Kepala
Bappeda NTB, Drs. L.
H. Fathurrahman,
M.Sc.,
sempat
menenangkan
massa
dengan
menekankan
rencana
pembangunan
bandara
tetap
jalan
dan
sedang
dalam
proses.
Bahkan,
Suhaili
secara
pribadi
sempat
memenuhi
permintaan
massa
untuk
membubuhi
tanda
tangan
dukungan
terhadap
pembangunan
bandara
di
atas
kain
spanduk yang
panjangnya
sekitar
seratus meter.
Perwakilan
massa
kembali
masuk
ke
gedung
Dewan
untuk hearing
dengan
pimpinan
Dewan.
Suhaili
didampingi
Wakil
Ketua
Komisi A, H. L.
Moh.
Syamsir, S.H.,
Ketua
Komisi B, L. Abdul
Hadi Faisal, S.H.,
Ketua
Komisi D, H. M.
Syahdan, S.H.,
dan
Rizali
Hadi,
S.Pd.
anggota
Komisi D.
Sementara
dinas
terkait yang
hadir,
Kepala
Bappeda H.
Fathurrahman,
Kepala
Dinas
Perhubungan NTB, Drs.
Soroyo
Alimoeso,
Kepala
Dinas
Kimpraswil NTB, Ir. H.
Jalal,
dan
wakil
dari PT.
Angkasa
Pura (AP).
Tidak
Terjebak
Sementara
Hadi
menekankan
pemprop
dan AP agar
menyelesaikan
dahulu
masalahya
dengan
eks
pemilik
lahan,
sehingga
masyarakat
tidak
terjebak
pada
persaingan
bisnis
dan
politik yang
ada
di
balik
rencana
pembangunan
bandara.
''Kalau
sudah
selesai
kami
ada
di
belakang
bapak-bapak,''
tandasnya.
Kepala
Bappeda NTB, H.
Fathurrahman
menyatakan
setuju
tanah yang
belum
dibayar
seluas 7,5
hektar
diselesaikan,
dan
kini
sedang
diproses
dengan
harga yang
wajar.
Sedangkan
untuk
kasus
tanah yang lama,
ia
menyarankan
menempuh
jalur
hukum,
karena
sebagai
aparatur
Fathurrahman
juga
tak
suka
masyarakat
diperlakukan
tidak
adil.
Mengenai
pembangunannya,
jelas
Fathurrahman,
dilakukan
dengan
konsp
swakelola.
Karena
menyangkut
savety
bandara,
pembangunan
menyeluruh
dilakukan
pemborong
internasional,
dan
ini
sedang
dalam
proses tender
di
pusat.
Sementara
posisi
Pemprop NTB
sama
dengan
masyarakat
untuk
mendorong
pemerintah
pusat
untuk
mempercepat
pembangunan
bandara.
Bagaimana
dengan
dananya?
Untuk
tahun 2005
ini,
pihak
Angkasa
Pura
menyediakan
dana
Rp 5
milyar
untuk
masjid
dan
jalan,
sedangkan
dari APBN
sebesar
Rp 10
milyar
untuk land cleaning.
Pembangunan
fisik
bandara
sendiri
menggunakan
dana
APBN dan AP.
Khusus run way
bandara
menelan
dana
Rp 200
milyar (dari
APBN) yang dibangun
secara
bertahap (1-3
tahun).
Sementara
Ketua DPRD NTB, H.
Suhaili
menekankan
pentingnya
keberadaan
bandara
untuk
meraih
kemajuan
daerah
dan
masyarakat.
Untuk
itu
segala
sesuatunya
mesti
dipersiapkan
sebaik
mungkin,
termasuk
masalah
teknisnya.
Apalagi
bandara
di
Loteng
ini
sudah
direncanakan
cukup lama.
''Kalau
ada yang
tak
mendukung
mungkin
karena
ingin
kajian yang
pasti,''
ucapnya
kepada
wartawan.
(046/ula)
Klik di Sini