Belum
Ada
Skenario
Jatuhkan
Presiden
Jakarta (Bali Post) -
Pihak
intelijen
menilai
anjloknya nilai
tukar
rupiah sangat
mungkin
dimanfaatkan untuk
menjatuhkan
kredibilitas
pemerintah.
Namun,
sejauh
ini intelijen
belum
menyimpulkan adanya
skenario
menjatuhkan
pemerintahan
Presiden
Yudhoyono.
''Sampai
saat
ini kami
melihat
ini masih
murni
masalah ekonomi.
Kalau
masalah
ini tidak
mampu
ditangani dengan
baik,
kemudian dimanfaatkan
oleh
orang-orang yang tidak
senang
dengan pemerintah,
bisa
saja,'' ujar
Kepala
Badan Intelijen
Negara (BIN) Syamsir
Siregar,
Rabu (31/8)
kemarin.
Menurut
Syamsir,
melemahnya
nilai
tukar rupiah
terhadap
dolar AS
pasti
ada batasnya.
Sampai
berapa rupiah
akan
melemah,
ia
mengatakan tidak
memiliki
indikator.
''Tetapi
yang jelas
ada
batas tertentu
rupiah
melemah,'' katanya.
Syamsir
juga
mengatakan, pihaknya
telah
mengingatkan Presiden
sebelum
menaikkan harga BBM
kembali.
Presiden
diminta
memperhitungkan dampak
sosial yang
ada di
masyarakat.
Kenaikan
BBM tidak
bisa
sekaligus karena
harus
juga memperhitungkan
kepentingan
dan
kebutuhan rakyat.
Anjloknya
rupiah
juga menjadi
keprihatinan
Dewan.
Usai
rapat
konsultasi pimpinan
Dewan
dengan pimpinan
fraksi, DPR
memutuskan
meminta
langkah kongkret
pemerintah
untuk
mengimplementasikan
kebijakannya.
Misalnya membatalkan
sejumlah
kunjungan
ke
negara lain yang
dianggap
tidak
perlu.
''Jika
kondisi sudah
membaik,
kunjungan-kunjungan
bisa
dilakukan lagi,''
ujar
Ketua DPR Agung
Laksono
usai memimpin
rapat.
Selain
itu,
Agung mengatakan
bentuk-bentuk
kebijakan yang
akan
dilakukan pemerintah
akan
dibicarakan
melalui
komisi
terkait yaitu
Komisi VII yang
membidangi BBM,
Komisi XI yang
membidangi
masalah
keuangan dan
Panitia
Anggaran.
Anggota
Komisi XI DPR
Drajat
Wibowo menambahkan,
melemahnya
rupiah
merupakan akibat
dari
melemahnya ekonomi
makro.
Selain
itu, juga
dipengaruhi
adanya
krisis kepercayaan
dan
ditambah kegiatan
spekulatif
antara lain
memborong
dolar.
(kmb4)